Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 01 Maret 2012 0 komentar

Pengalaman Belajar Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan salah satu identitas bangsa Indonesia dan menjadi alat pemersatu bangsa. Oleh karena itu, bahasa Indonesia menjadi salah satu objek yang harus dilestarikan dan dijaga oleh bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dalam pendidikan, yaitu menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu objek dalam kegiatan belajar mengajar. Tepatnya menjadi sebuah mata pelajaran, yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Istimewannya, setiap jenjang pendidikan formal di Indonesia seperti TK, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi membelajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia ini. Sehingga, semua pelajar pasti pernah belajar Bahasa Indonesia.
Begitu pula halnya dengan seorang anak bangsa yang bernama Sri Mulyani. Sejak mengenal bangku sekolah yang dimulai sejak TK atau Taman Kanak-kanak sudah mengenal pula apa yang namanya Bahasa Indonesia melalui mambaca dan menulis. Baginya yang dalam kesehariannya lebih sering menggunakan bahasa ibu alias bahasa daerahnya yaitu bahasa Sunda, sangat menarik bisa belajar bahasa Indonesia. Terutama membaca. Ya, dia sangat senang belajar membaca. Terbukti dengan dia sangat cepat fasih membaca dibanding dengan teman-teman sekelasnya. Namun, dia sangat tidak suka menulis, sulit sekali baginya. Tulisan tangannya selalu tidak lebih baik dari teman-temannya.
Kesenangannya membaca selalu ia perlihatkan dimana saja. Bahkan saat melakukan perjalanan ke luar kota dengan kendaraan umum. Celotehannya membacakan spanduk-spanduk, baliho, papan nama, bahakan papan penunjuk jalan selalu mengiri perjalanannya. Ibunya bahkan pernah menegur anak bungsunya itu, “Cerewet sekali anak ini.” Namun, mendapat komentar begitupun tak menyurutkan kebiasaan membaca sepanjang perjalanan.
Menginjak usia Sekolah Dasar, pelajaran Bahasa Indonesia yang ia terima semakin bertambah. Tidak hanya membaca dan menulis satu atau dua kata. Tetapi juga mulai membaca cerita pendek, menulis kalimat, cerita, deklamasi puisi, bahkan mendongeng. Namun baginya, tetap saja membaca adalah bagian dari plajaran yang sangat meyenangkan. Menulis masih menjadi ‘musuh besar’ baginya. Nilai menulisnya selalu saja tidak lebih dari 7,5. Dan tulisan-tulisannya selau dihiasi komentar “Tingkatkan kerapihan” dari gurunya. Betapa mneyebalkan baginya. Apalagi saat melihat teman sebangkunya memiliki tulisan yang rapid an bagus.
Menginjak kelas tinggi, kecintaannya terhadap membaca semakin menjadi. Apalagi di kelasnya mulai ada perpustakaan. Setiap hari ada saja buku yang dia bawa pulag untuk dibaca. Dan ia mulai termotivasi untuk menulis. Walaupun tanpa diiringi dengan peningkatan kualitas tulisan tangannya, ia mulai suka menulis cerita, puisi, dan diari.
Saat kelas VI, kelasnya kedatangan seorang murid baru, perempuan. Dan anak itu sangat pandai berdeklamasi puisi. Sri mulai senang mendengarkan deklamasi puisi. Selalu terkagum-kagum ia saat temannya mendeklamasikan puisi. Sri mulai senang mendengarkan deklamasi puisi. Namun, sama sekali dia tidak berminat untuk bisa membca puisi. Rasa malu dan rasa tidak percaya diri membuatnya selalu enggan tampil ke depan kelas dan berdeklamasi.
Memasuki usia SMP, ia kembali bertemu dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Namun kali ini dengan wajah yang berbeda. Jika di SD dulu belajar Bahasa Indonesia oleh guru kelasnya, sekarang oleh guru bidang studi, yang tentunya mereka memiliki spesifikasi tersendiri di bidang mata pelajaran Bahas Indonesia. Di SMP, Sri banyak bertemu dengan guru-guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang membuatnya semain menyukai pelajaran tersebut.  Betul ternyata apa kata orang-orang bahwa yang pertama disukai adalah gurunya, baru mata pelajarannya.
Di usia SMP, Sri masih tetap mencintai membaca. Dia selalu menjadi langganan perpustakaan. Karena kebetulan kelasnya saat kelas VII ekat dengan ruang perpustakaan. Namun, kecintaannya terhadap menulispun semakin meningkat. Hal ini berawal dari saat ia kelas VIII.
Ketertarikan terhadap lawan jenis merupakan hal yang wajar terjadi di usia pubertas atau masa remaja. Begitu pula dengan yang dialami oleh si bungsu yang satu ini. Dia menyukai seorang kakak kelasnya, dan begitu pula sebaliknya, sang kakak kelaspun menyukainya. Namun, karena mereka masih sama-sama malu, komunikasi yang terjalin adalah melalui surat. Sri selalu rajin menulis surat untuk sang kakak kelas. Dalam suratnya, ia selalu menceritakan banyak hal. Awalnya ia sangat malu karena jeleknya tulisan tangannya. Bahkan sang kakak kelas lebih bagus tulisannya. Namun, sang kakak kelas malah memuji dan sangat menyukai isi dari surat-suratnya. Alhasil itu menjadi motivasi tersendiri baginya. Iapun semakin suka menulis dan ia selalu berusaha meningkatkan kualitas tampilan tulisan tangannya.
Hal ini berlanjut. Tidak hanya rajin menulis surat untuk sang kakak kelas, tetapi iapun mulai suka menulis cerpen, puisi, bahkan artikel pendek. Satu momen yang selalu menjadi motivasi baginya adalah ketika ia membuat tulisam bertema ibu, kemudian tanpa sengaja tulisan itu dibaca oleh guru Bahasa Indonesianya yang bernama ibu Eti Rochayati atau yang biasa disapa ibu Eet. Gurunya sampai terharu dan berkata:
“Bagus. Ayo lebih rajin lagi menulis. Semakin banyak menulis, semakin banyak pula kemampuan menulismu”.
Dari sanalah titik balik kecintaannya terhadap menulis. Diari-diari semakin banyak yang dia isi, cerpen-cerpennya pun semakin banyak. Dan dia mulai beranai menunjukkan karya-karyanya pada teman-temannya. Ada sebuah cerpen yang menjadi “Best Reading” dan banyak dibaca oleh teman-temannya. Namun, cerpen itu menghilang entah kemana. Selain cerpen, iapun mulai suka menulis naskah drama musikal dan dipentaskan dalam acara perpisahan dalam acara pameran di sekolahnya. Naskah drama pertamanya itu berjudul “IJOLUMUT”.
Selain menulis, iapun mulai berani berbicara di depan kelas. Awalnya hanya mambacakan synopsis buku, lama-lama meningkat menjadi membaca dongeng, menjelaskan prosedur pembuatan suatu barang, hingga berpidato. Bahkan ia diberikan keprcayaan untuk menjadi perwakilan teman-temannya berpidato saat acara perpisahan. Kemampuan dan kemauannya berbicara di depn umum ini selain dilatih oleh guru Bahasa Indonesianya, juaga ia dapat dari pengalamannya berorganisasi di OSIS, Pramuka dan Paskibra di sekolahnya.
Baginya, belajar Bahasa Indonesia di SMP sangnatlah menyenangkan. Terutama saat kelas IX. Guru bahasa Indonesianya, ibu Eti Rochayati adalah sosok guru yang sangat lembut, baik dan kreatif. Belajar Bahasa Indonesia itu jadi tidak melulu membaca teks, menjawab pertanyaan, merangkum, membuat synopsis, membuat puisi, tetapi juga mengajarkan untuk berani tampil, berlomba menjadi kreatif dan yang terpenting adalah motivasi untuk belajar Bahasa Indonesia dengan baik. Beliau membuat pelajaran Bahasa Indonesia yang tadinya menyebalkan bagi Sri menjadi mata pelajaran yang sangat dia nantikan dan rindukan. Itu pula yang menjadi salah satu motivasi Sri untuk menjadi seorang guru seperti guru Bahasa Indonesia-nya itu.
Memasuki SMA, Sri masih tetap dengan kecintaannya pada membaca dan menulis. Ia tetap menjadi langganan perpustakaan dan tetap menulis. Di SMA pula beberapa naskah dramanya dipentaskan. Salah satunya yang berjudul “Kabayan vs Cinderella”. Selain itu, di SMA dia mulai mengenal dunia baru dalam bahasa dan sastra Indonesia, yaitu dunia jurnalistik. Bermula saat Sri dan dua orang temannya dari pengurus OSIS diamanahi untuk mengikuti pelatihan jurnalistik. Dari sanalah ia mulai sering mencoba mennulis artikel, berita dan sebagainya.
Oh iya. Ada satu pengalaman yang tidak bisa Sri lupakan mengenai menulis saat SMA. Ia pernah mengikuti lomba menulis artikel antar kelas di SMA-nya. Dan pada saat pelaksanaan lomba ia malah ditegur oleh juri yang merupakan guru Bahasa Indonesia-nya. Alasannya adalah karena apa yang ia tulis bukanlah merupakan artikel melainkan esai. Alhasil ia didiskualifikasi.
Semasa SMA, kenangan belajar Bahasa Indonesia terburuk adalah saat melihat nilai ujian nasional. Bahasa Indonesia mendapat nilai yang sangat rendah. Tidak lebih dari angka 8. Dan hampir semua teman satu angkatannya pun demikian. Hal ini sangat mengecewakan bagi Sri, teman-temannya, dan juga guru-gurunya. Mereka sudah berusaha dengan maksimal. Namun, ternyata tetap saja manusia yang berusaha, tapi Tuhan yang berhak menentukan hasilnya.
Belajarnya Sri tentang Bahasa Indonesia tidak berhenti sampai SMA. Tapi saat ia masuk perguruan tinggi pun ia masih bertemu dengan pelajaran bahasa Indonesia. Walaupun kini dengan nama yang berbeda, bukan mata pelajaran lagi, tapi mata kuliah. Dan jika dulu  saat TK, SD, SMP, dan SMA Sri bealajar Bahasa Indonesia hanya untuk dirinya sendiri, tapi karena Sri kenetulan kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia dan mengambil konsentrasi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, maka ia belajar Bahasa Indonesia selain untuk menambah pengetahuannya, tapi juga untuk menambah pengetahuan siswa-siswanya kelak. Ya. Artinya ia belajar untuk mengajarkan.
Harapannya, semoga dengan semua pengalaman-pengalaman sri sebagai pemelajar Bahasa Indonesia sewaktu sekolah dulu, bisa ia integrasikan dengan teori-teori yang ia dapat dari bangku kuliah. Sehingga ia menjadi guru yang bisa menjalankan tugasnya dengan baik sekaligus bisa mnjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia.
Jumat, 06 Januari 2012 0 komentar

Catatan Tentang Perkembangbiakan Vegetatif pada Tumbuhan

Kelompok 6 :
1.      Dyah Ayu Paramitha  (0903590)
2.      Fika Syahsiah Hasan   (0903614)
3.      Sri Mulyani                 (0903676)
4.      Yuni Andriani             (0903649)
5.      Yuni Pandini               (0903644)

Flora atau tumbuhan sama halnya dengan binatang dan manusia, sama-sama melakukan kegiatan berkembang biak dengan tujuan untuk menghindari kepunahan pada spesies atau rasnya. Kegiatan berkembangbiak atau beranak ini pada tumbuhan dapat dilakukan secara tidak kawin atau tanpa melalui perkawinan antara sel kelamin jantan dan betina.
Perkembangan vegetatif adalah cara reproduksi mahluk hidup secara aseksul (tanpa adanya peleburan sel kelamin jantan dan betina). Reproduksi vegeatif bisa terjadi secara alami maupun buatan.
Vegetatif alami adalah reproduksi aseksual yang terjadi tanpa campur tangan pihak lain seperti manusia. Vegetatif alami pada tumbuhan contohnya :
a.       Umbi batang : batang yang beralih fungsi sebagai tempat penimbunan makanan dengan calon tunas-tunas kecil yang berada disekitarnya yang dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Contohnya bangkuang, kentang.
b.      Umbi lapis : tumbuhnya tunas pada sela-sela lapisan umbi. Contohnya bawang merah, bawang putih, bawang Bombay.
c.       Umbi akar : wortel, singkog, lobak.
d.      Geragih atau stolon : batang yang menjalar ecara terus- menerus dimana pada ruas batang dapat muncul tunas-tunas bau. Contohnya rumput teki, stroberi.
e.       Rizoma / akar tunggal : tunas yang muncul pada batang tumbuhan yang tumbuh secara mendatar di tanah. Contohnya lengkuas, jahe, kunyit.
f.       Tunas : Tumbuhan anakan yang muncul di samping tumbuhan induknya. Contohnya pisang, bamboo, tebu.
g.      Tunas adventif : Tunas yang tumbuh pada bagian-bagian tertentu seperti pada akar, daun. Contohnya cocor bebek, cemara, kesemek.
h.      Spora : Cara tumbuhan paku, lumut, dan jamur berkembangbiak dengan membentuk spora empat tunas baru akan muncul.
i.        Hormegenium : Tumbuhnya individu baru yang dihasilkan dari pemutusan benang yang ada. Contohnya ganggang.
j.        Pembelahan sel : Perkembangbiakan pada tumbuhan bersel satu.

Vegetatif buatan adalah teknik untuk menghasilan individu baru tanpa melalui perlawinan. Perkembangan vegetative buatan menghasilkan keturunan yang disebut klon.
Teknik–teknik perkembangan vegetative pada tumbuhan :
1.      Penyetekan, dilakukan dengan cara menanam bagian tertentu tumbuhan tanpa menunggu tumbuhnya akar baru terlebih dahulu. Terdiri dari stek batang dan stek daun.
2.      Merunduk, adalah teknik berkembangbiak tumbuhan dengan cara menundukan batang tanaman ke tanah dengan harapan akan tumbuh akar, setelah akar timbul, maka batang sudah bisa dipotong dan dibawa ke tempat lain.
3.      Mencangkok, adalah membuat cabang batang tanaman menjadi berakar. Tujuannya untuk memperoleh tumbuhan baru yang cepat berbuah dan sifatnya sama dengan sifat induk.
4.      Menyambung atau mengenten, adalah perkembangbiakan buatan yang biasanya dilakukan pada tumbuhan sejenis buah-buahan atau ketela pohon demi mendapatkan kualitas yang baik.  
0 komentar

Catatan Tentang Sekolah Berbasis TIK (Tugas DASTEKOM)

Sekolah Berbasis TIK
            Seiring dengan diterapkannya kebijakan otonomi daerah, pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah juga mengalami perubahan mendasar melalui gagasan penerapan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang dianggap sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Pendekatan ini memberi peran yang lebih luas kepada sekolah. Dengan kata lain, pendekatan ini memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah sehingga manajemen sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya, sehingga sekolah lebih mandiri.
            Untuk itu, MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektivitas, kualitas/mutu, efisiensi, inovasi, relevansi, dan pemerataan serta akses pendidikan dalam rangka peningkatan mutu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, penerapan TIK perlu dipertimbangkan untuk membantu pelaksanaan manajemen sekolah yang lebih efektif dan efisien. Ruud (2005) menunjuk bahwa investasi TIK di sekolah-sekolah yang kemudian diikuti dengan sepuluh pengembangan kompetensi guru dan siswa dalam bidang TIK dapat memperbaiki efektifitas pengelolaan sekolah serta meningkatkan kinerja (performance) akademik tenaga kependidikan dan peserta didik.
            Hal ini dapat dipahami karena penerapan TIK di sekolah akan memberikan kontribusi langsung kepada peningkatan proses manajemen dan administrasi, peluang untuk mengembangkan bahan ajar dan belajar mandiri, motivator bagi siswa untuk mengembangkan kemampuannya, dan sebagai alat untuk pengembangan profesi dan mekanisme inovasi dalam sistem monitoring dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran.
            Uraian di atas menunjukkan bahwa penerapan TIK di sekolah merupakan solusi yang paling tepat untuk menunjang peningkatan mutu sekolah termasuk keberhasilan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan pencapaian standar nasional pendidikan (SNP). Dengan pemanfaatan TIK, tenaga kependidikan dan stakeholders lainnya dapat meningkatkan manajemen sekolah dan aliran informasi yang efisien untuk mendukung pencapaian standar nasional pendidikan dan proses desentralisasi pendidikan di Indonesia.
Akhir-akhir ini, banyak sekolah yang bersaing secara ketat untuk memasuki era dunia pendidikan yang baru, yang mana pendidikan tidak hanya sebagai proses pemanusiaan manusia yang dilaksanakan secara biasa.. Saat ini sekolah-sekolah mencoba menerapkan unsur-unsur teknologi informasi dan komunikasi dalam pelaksanaan pendidikannya, baik dalam segi pembelajaran maupun dalam segi managemen pendidikan di sekolah tersebut.
Beberapa Komponen utama sekolah berbasis TIK setidaknya terdiri dari:
1.        Konten dan Kurikulum
2.        Proses Pembelajaran
3.        Sarana dan Prasarana
4.        Kompetensi SDM Sekolah
5.        Sistem Administrasi dan Manajemen Sekolah
6.        Infrastruktur dan Suprastruktur
Berikut merupakan penjelasan mengenai komponen utama berbasis TIK :
1. Konten dan Kurikulum
Konten yang disampaikan dalam Smart School bukan lagi pengetahuan yang terbatas pada pengetahuan kognitif, tetapi lebih dari itu juga disampaikan pendidikan nilai. Strategi dalam peningkatan mutu pendidikan, salah satunya dicoba dengan pendekatan baru yakni manajemen mutu pendidikan berbasis sekolah (school based quality management). Konsep yang diluncurkan oleh Depdiknas ini berpijak dari teori effective school dengan memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan.
2. Proses Pembelajaran
Pada Smart School ini sistem pembelajaran berupa student-centered dimana siswa dituntut aktif untuk mengelaborasi informasi yang diperoleh serta secara kreatif dan terampil mengasah kemampuan berkolaboratif dalam memecahkan persoalan. Penerapkan metode “active learning” ini mengarah pada upaya melibatkan semua siswa dalam seluruh proses belajar mengajar (partisipasi aktif). Bahkan dalam topik tertentu, siswa diharapkan mampu menjadi guru bagi teman-temannya. Siswa tidak hanya belajar dari guru dan buku tetapi juga dari pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran untuk mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Selain metode active learning, siswa juga dapat merasa senang pada saat belajar karena terciptanya suasana belajar yang menyenangkan(joyful learning) sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang datang dari dalam diri pembelajar.
Metode joyful learning ini lebih menekanan pada pemberian:
Ø  Aspek visual (gambar, peta, diagram, warna, simbol, alat peraga dan penulisan kata kunci),
Ø  Aspek auditif (variasi suara, umpan balik secara lisan, pengulangan informasi penting atau kata kunci, penggunaan sajak atau nyanyian), dan
Ø  Aspek kinestetik (peragaan konsep, simulasi atau bermain peran, gerakan dan bahasa tubuh)
3. Sarana dan Prasarana
Dalam rangka terbentuknya sekolah yang berbasis Smart School yang memiliki jaringan nasional maupun regional/internasional, maka sekolah yang dipilih harus melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas sarana dan prasarana baik ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, buku pelajaran, peralatan peraga pendidikan, serta sarana informasi, komunikasi, dan teknologi seperti komputer dan fasilitas internet. Fasilitas TIK selain sebagai media komunikasi juga merupakan sarana bagi warga sekolah untuk meningkatkan pengetahuan atau wawasannya. Melalui internet setiap siswa dapat memperoleh berbagai informasi atau bahan pembelajaran yang mutakhir. Dengan fasilitas TIK, Smart school akan dapat mengembangkan program-program kerjasamanya, termasuk saling tukar gagasan inovasi pembelajaran dan materi pembelajaran.

4. Kompetensi SDM Sekolah
Bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan. Oleh karena itu maka perlu kiranya dibentuknya individu-individu yang berkualitas dengan memberikan pendidikan yang berkualitas sejak dini. Kompetensi guru :
- Mengoperasikan komputer
- Menjalankan Learning Management System (LMS)
- Membuat bahan ajar multimedia (dibantu Tim Pengembang)
- Berperan sebagai Fasilitator dalam proses pembelajaran
- Memiliki sertifikasi TI
5. Sistem Administrasi dan Manajemen Sekolah
Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Salah sat alat ukur mutu pendidikan pada suatu sekolah dapat dilihat pada tingkat kinerja sekolah tersebut. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses pendidikan di sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, dan inovasinya. Khusus yang berkaitan dengan kualitas dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi belajar peserta didik, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam prestasi akademik.
6. Infrastruktur dan Suprastruktur
Sekolah yang mampu menginternalisasikan konteks ke dalam dirinya akan membuat sekolah sebagai bagian dari konteks dan bukannya mengisolasi darinya. Konteks meliputi kemajuan ipteks, nilai dan harapan masyarakat, dukungan pemerintah, tuntutan globalisasi dan otonomi, tuntutan pengembangan diri, dan sebagainya.
Untuk membentuk sekolah yang berbasis Smart School maka sekolah yang ditunjuk harus memiliki kualitas baik pada bidang akademik dan maupun non akademik. Mutu sekolah ini dipengaruhi oleh tingkat kesiapan (input) dan proses belajar mengajar yang didukung dengan media-media pembelajaran yang dapat memudahkan peserta didik untuk memahami materi pembelajaran. Media-media pendidikan tersebut dapat berupa multimedia elektronika yang sarat dengan animasi, dan juga dapat berfungsi sebagai alat peraga yang lebih aktual, konkret, dan nyata, sehingga siswa akan lebih tertarik dan mudah dalam memahami materi yang disampaikan.
Fasilitas Sekolah yang Berbasis TIK :
- Spesifikasi H/W dan S/W yang up to date
- Lab multimedia
- Jaringan komputer
- Akses Internet yang memadai
- Sistem Informasi Sekolah
- Website sekolah
- Learning Management System
- Sistem Informasi Akademis
- Sistem Administrasi Sekolah
- Bahan ajar berbasis multimedia
 
;