Tampilkan postingan dengan label Oret-oretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oret-oretan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 November 2015 0 komentar

CATATAN SEORANG GURU

Namaku Dewi.
Tidak. Bukan. Aku bukan Dewi Sartika.
Aku seorang guru. Tapi jangan pernah sekalipun melihat aku seperti seorang guru.Yang setiap pagi  berangkat ke sekolah dengan menjinjing tas berisi buku dan materi pelajaran.
Mengajar murid-murid dengan kasih sayang.
Berbagi ilmu.
Sungguh, aku bukan Dewi Sartika .
Ketika Dewi Sartika memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan.
Aku justru menjadi awal kerusakan pendidikan.
Setiap pagi aku berangkat ke sekolah, menjinjing tas mahal bermerk yang sangat sayang jika diisi dengan buku pelajaran yang berat.
daripada bersusah payah menyiapkan materi pelajaran, aku lebih suka menyiapkan berkas-berkas untuk kemajuan karierku.
mengajar tidak lebih penting dari arisan atau hang out bersama teman-temanku.
Sungguh, aku bukan Dewi Sartika.
Yang dengan susah payah mendirikan Sekolah Istri agar para perempuan Jawa Barat bisa belajar dan menjadi pintar.
dalam hatiku, justru aku selalu ingin segera meninggalkan sekolah. Kembali ke rumah dan duniaku sendiri.
Aku seorang guru.
Tapi aku bukanlah seorang guru.
Aku Dewi. Tapi aku bukan Dewi Sartika.
Mungkin kalian tidak tahu rupaku.
Tapi, perhatikanlah. Aku ada di sekitar kalian.
****

Namaku Dewi.
Tidak. Bukan. Aku bukan Dewi Sartika, seorang perempuan yang berasal dari kalangan Priyayi Sunda yang berjuang mendirikan pendidikan bagi kaum perempuan.
Aku hanyalah seseorang yang berasal dari tempat terpencil. Dan aku berjuang untuk mendapatkan pendidikan, bukan memperjuangkan pendidikan.
Aku seorang guru.
Walaupun banyak kalangan yang tidak menganggap aku seorang guru.
Mengajar adalah tugasku.
Mendidik adalah kewajibanku.
Berbagi ilmu dan tersenyum bersama murid-murid adalah kebahagiaan bagiku.
Bukan gaji besar atau menjinjing tas mahal yang menjadi prestasi bagiku.
Tapi, ketika murid-muridku mampu berbangga atas keberhasilannya, itulah prestasi terbaikku.
Tapi, sungguh aku bukan Dewi Sartika.
Yang bahkan rela melawan arus zaman pada saat itu demi memperjuangkan pendidikan untuk perempuan dari kalangan bawah.
Aku bahkan tidak mampu memperjuangkan kemerdekaan ideku sendiri.
Segalanya dibatasi birokrasi.
Segalanya dibatasi cibiran dan gunjingan dari rekan sejawat.
Aku Dewi. Tapi, aku bukan Dewi Sartika.
Aku hanyalah seorang guru yang ingin menjadi guru.
Kalian mungkin tidak pernah tahu rupaku.
Tapi, cobalah tanya pada jiwamu.
Adakah jiwaku disana?


Margacinta, Sehari menjelang HUT PGRI 2015

Teruntuk Rd. Dewi Sartika, terima kasih atas semua ilmu yang telah dipejuangkan agar sampai kepada kami kaum perempuan Jawa Barat. Semoga jiwa pendidikmu hadir dalam jiwa kami, orang-orang yang tengah belajar menjadi pendidik. Allahumagfirlaha......


Kamis, 05 November 2015 0 komentar

Catatan Menyanyi dan Membaca Puisi


Menjadi Wali Kelas 2 SD sebenarnya tugas yang gampang-gampang susah. Walaupun sejak pertama kali –belajar- mengajar sudah menjadi wali kelas 2, tapi tetap saja beragam siswa dengan beraneka keunikan mereka sering ditemui. Sepanjang perjalanan –belajar- mengajar, masalah utama yang dihadapi adalah masih banyaknya siswa yang belum fasih menulis dan membaca. Bahkan di tahun ajaran 2014-2015 lalu, saya menemukan siswa yang sama sekali tidak bisa mengingat bentuk alphabet.
Sementara itu, tuntutan dari silabus pembelajaran cukup luas. Siswa dituntut untuk mampu membaca dan menulis dengan baik. contohnya saja dalam pelaksanaan ulangan harian. Siswa dituntut untuk bisa membaca dan memahami soal sehingga bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Padahal kenyataannya di lapangan tidak bisa semudah demikian. Alhasil, sebagai wali kelas yang baik (lebih tepatnya mungkin menjaga reputasi agar tetap baik) saya melaksanakan ulangan dengan membacakan soal sehingga siswa-siswi saya tinggal menjawab soal. Itupun masih banyak yang keliru saat menulis.
Khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, tuntutan untuk bisa membaca dan menulis sangat tinggi. Bahkan dalam suatu kompetensi dasar, siswa kelas 2 saya sudah diharuskan mampu membaca puisi sederhana. Sekali lagi MAMPU MEMBACA PUISI.
Hal ini menurut saya merupakan suatu capaian kompetensi yang sulit. Bayangkan siswa kelas 2 SD yang membaca saja masih belepotan, diharuskan MAMPU membaca puisi. Ya. Membaca puisi merupakan salah satu kemampuan berbahasa tingkat tinggi menurut saya mah. Karena membaca puisi itu tidak cukup sekedar membaca kata-kata, tetapi harus juga memunculkan perasaan dan ekspresi dari puisi tersebut. Agar perasaan dan ekspresi ini muncul, tentu saja si pembaca puisi harus bisa memahami isi dari puisi yang akan dibacakannya.
Nah lho! Harus bagaimana coba? Dari silabus dituntut untuk mampu, sementara kebanyakan siswa-siswi saya membaca saja masih belepotan. Maka mulailah saya memutar otak. Sambil saya berpikir, program pembelajaran saya majukan. Saya Skip dulu pembelajaran membaca puisi ini.
Dan entah mendapat ilham darimana, saat sedang iseng membuka-buka buku pembelajaran Bahasa Indonesia, lalu saya menemukan sebuah puisi (karena disana tertulis seperti itu). Tapi, kata-kata dalam puisi tersebut sangat familiar dalam kepala saya. Maka, ngahulenglah saya beberapa saat. ~~~~~~~
Kurang lebih seperti ini puisi tersebut:
Pemandangan

Memandang alam dari atas bukit
Sejauh pandang kulepaskan
Sungai tampak berliku
Sawah hijau terbentang
Bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang berpayung awan
Oh.. indah pemandangan

Lama-lama, berkumpullah memori saya. Ternyata ini adalah lagu Pemandangan. padahal saya sudah berulangkali menebak-nebak bagaimana pembacaan puisi tersbut. Dari situlah tiba-tiba saya teringat. Mungkin kebodohan saya ini justru bisa menjadi salah satu cara membelajarkan puisi ke siswa-siswi saya. Namun, caranya justru saya balikkan. Saya akan mengajarkan lagu Pemandangan ini dulu kepada siswa saya, tujuannya agar mereka hafal dulu lagu ini. Karena berdasarkan pengalaman, anak-anak cenderung lebih mudah menghafal apabila dikombinasikan dengan lagu. Baru setelah mereka hafal lagu ini, saya akan coba membelajarkan membaca puisi pada mereka.
Percobaan Hari Ke-1
Seperti biasa, hari Jumat adalah jadwal pelajaran Bahasa Indonesia selain Hari Senin dan Selasa. Hari Jumat ini, saya mulai mengenalkan lagu Pemandangan kepada siswa saya. Sampai suara serak juga, nada yang mereka keluarkan masih meleset-meleset dari lagu sebenarnya. Cukup tersenyum saja menanggapi kenyataan ini. Inilah seninya mengajar. J
Percobaan hari ke-2
Hari Senin, sebelum masuk ke dalam kelas, dari kejauhan terdengar mereka sedang ramai bernyanyi lagu Pemandangan walaupun masih dengan nada yang meleset-meleset. Tapi, justru jadi menambah semangat saya untuk terus mengajarkan mereka sampai mereka bisa. Alhasil hari ke-2 ini masih digunakan untuk menghafalkan lagu. Namun saya tambahkan dengan memberi mereka tugas untuk menulis.
Percobaan hari ke-3
Hari selasa, berhubung nampaknya mereka mulai hafal lagu Pemandangan ini. Maka, saya memutuskan untuk mencoba mengetes mereka bernyanyi satu persatu. Lumayan menambah nilai SBK juga. Ternyata, sebagian besar mereka sudah hafal lirik lagu pemanadangan ini. Tapi masih dengan nada yang meleset. Bahkan ada beberapa siswa yang malah jadi menggunakan nada lagu lain yang mereka kenal. Cukup menyenangkan mendengarkan mereke berimprovisasi.
Percobaan hari ke-4
Hari Jumat, setelah mengetahui anak-anak sudah hafal lirik lagu pemandangan maka langkah selanjutnya adalah memperkenalkan mereka kedalam pembacaan puisi. Karena tidak begiitu ahli dalam deklamasi puisi, akhirnya saya memutuskan untuk mengajak mereka nonton pembacaan puisi. Saat menunjukkan penampilan membaca puisi, mereka sangat antusias. Tak jarang mereka ingin berkomentar selama pertunjukan. Namun karena saya memberikan aturan dilarang berisik dan berkomentar apapun, sepanjang pertunjukan mereka hanya diam saja.
Jadinya saat pertunjukkan selesai, keluarlah berbagai macam komentar dari mulut mereka. Mulai dari yang berkomentar, keren, bagus, sampai ada yang berkomentar lucu. Selanjutnya saya memancing mereka untuk mencoba menirukan pembacaan puisi yang sudah mereka tonton. Awalnya mereka ragu-ragu, tapi akhirnya mereka mau.
Pelajaran hari ini diakhiri dengan memberikan mereka PR untuk mencoba membacakan lagu Pemandangan dengan gaya membaca puisi. Tentu saja mereka langsung bersorak tidak suka. Dengan gaya cool, saya melenggang meninggalkan mereka yang masih menggerutu menolak.
 Hari Sabtu, sengaja saya tidak menyinggung-nyinggung masalah puisi. Tapi, justru mereka yang malah riweuh ngobrol-ngobrol masalah membaca puisi. Tujuannya sih supaya mereka tidak merasa dirurusuh sama gurunya. Tapi, ternyata yang ada mereka malah semakin penasaran. Hehehe.
Hari Eksekusi
Hari Senin kali ini, siswa kelas 2 nampak lebih bergairah dari biasanya. Bahkan saat upacara juga mereka terus berkomentar ingin segera selesai upacara dan segera masuk kelas. Ada yang terus-terusan bilang degdegan sampai telapak tangannya
Akhirnya, tibalah waktunyna eksekusi. Tidak sabar rasanya melihat penampilan mereka membacakan puisi. Karena bagi saya kali ini adalah kali pertama menyaksikan mereka menampilkan sesuatu  yang baru bagi mereka sekaligus sesuatu yang mereka persiapkan dengan asyik.
Untuk menambah semangat mereka, penampilan baca puisi ini saya kemas seperti lomba kecil-kecilan, sengaja saya buat susunan acara plus sedikit hadiah bagi juaranya nanti. Hal ini tentu saja mendapatkan reaksi yang beragam dari  para siswa. Ada yang justru makin semangat, makin gak sabar untuk tampil, ada yang makin gemeteran karena grogi, dan adaaaaa yang makin kenceng menghafal kata-kata puisi.
Singkat cerita, mulailah saya memanggil satu persatu siswa saya untuk maju ke depan dan membacakan puisi. Satu dua dari mereka mulai tampil. Untuk penampil pertama, sengaja saya memilih siswa yang sudah biasa vocal di kelas. Tujuannya sih untuk memanaskan suasana persaingan diantara mereka. Mulailah si penampil pertama ini tampil. Awalnya berjalan dengan baik. lancar dan nyaman didengarkan. Namun, saat pertengahan siswa ini berusaha menaikkan nada yang dia gunakan. Karena kebetulan di contoh pembacaan puisi kemarin ada bagian dimana si pembaca puisi itu sedikit “berteriak”. Nah, siswa ini juga sepertinya terinspirasi dari penampilan itu. Dia ingin sedikit berteriak tap Berhubung suara siswa ini memang sedikit serak-serak basah jadinya yang ada suaranya malah . selip. Tertawalah seluruh kelas. Untungnya, siswa ini mentalnya cukup bagus. Dia dengan pedenya malah meneruskan pembacaan puisinya.
Lucu dan penuh hiburan menyaksikan satu persatu dari mereka tampil. Bahkan seorang siswa membuat saya tidak berhenti tertawa karena penampilannya. Dia pada baris pertama cukup baik memulai pembacaan puisinya. Baris kedua, konsentrasinya sedikit terganggu, lupalah kata-kata puisinya. Dia mencoba mengingat-ingat dengan cara menyanyikan lagunya. Setelah ingat, dia mulai membacakan baris kedua dengan cukup baik. tapi di baris ketiga tanpa dia sadari dia malah menyanyikan lagu bukan membaca puisi. Karena teman-temannya tertawa barulah dia sadar. Dengan gaya tengilnya dia mencoba mengulangi lagi pembacaan puisi dari baris pertama, namun kejadian menyanyi di baris kertiga kembali terulang. Terus saja sampai 4 kali pengulangan kejadian ini terjadi.
Setelah semua siswa tampil dan pipi saya pegel karena terlalu banyak tertawa, saya memberikan penilaian secara keseluruhan atas tampilan mereka di depan kelas. Menyenangkan mendengarkan mereka memberikan penilaian juga atas tampilan teman-temannya. Ada saja yang membuat mereka tertawa dan merasa lucu. Diumumkanlah juara yang menurut saya dan mereka cukup baik membaca puisi. Mereka luar biasa antusias. Bahkan ada yang berkomentar “Bu, resep gening maca puisi teh”. Dalam hati saya juga berkomentar, “resep ibu ge kalian semangat belajar seperti ini”.
Mungkin jika dinilai oleh pakar dan penikmat puisi, pembacaan puisi siswa saya jauh dari kata ‘bagus’. Dan sepertinya kompetensi membacakan puisi ini juga belum tercapai. Tapi, bagi saya menyaksikan mereka dengan penuh semangat menghafal lagu, mempersiapkan diri membaca puisi, merupakan suatu kebanggaan. Apalagi saat melihat mereka tampil satu persatu, dengan penuh percaya diri (walaupun ada satu dua siswa yang malu-malu) menunjukkan apa yang sudah mereka persiapkan sangat menyenangkan rasanya.
Sepertinya, saya termasuk jenis orang yang mudah puas dengan suatu pencapaian. Begitu juga dengan saat ini. Melihat mereka sepeti tadi saja tidak lantas membuat saya keukeuh mengajarkan mereka agar lebih beneran lagi baca puisinya. Justru malah membuat saya merasa ‘cukup segitu aja’. Karena menurut saya, jika dipaksakan lebih mendalam lagi, sementara bagi mereka membaca cerita biasa saja susah, takutnya rasa resep mereka malah berubah jadi tidak resep, lebih jauhnya saya takut mereka merasa bosan dan malas belajar puisi lagi. Saya jadikan bahan PR saja untuk pembelajaran ke depannya atau mungkin di tingkat yang lebih tinggi nanti diajarkan oleh guru yang lain.
Ternyata, kebanggaan terbesar seorang guru (khususnya bagi saya pribadi saat ini) adalah ketika siswa merasa senang dengan pembelajaran yang kita sampaikan dan mereka dengan sepenuh hati mengikuti pembelajaran itu. Bahagia saat melihat mereka tertawa senang saat belajar. Bangga luar biasa saat mereka berani tampil. Mungkin mereka belum bisa memberikan penampilan yang sempurna, tapi semangat mereka sungguh sempurna membangkitkan semangat untuk lebih baik lagi saat mengajar.
Saya sepenuhnya percaya, siswa akan berkembang dengan baik jika gurunya melakukan usaha terbaik untuk menggali dan mengembangkan potensi siswa-siswanya. Practice makes perfect _unknown_
4 komentar

USAI

Entah kapan cerita ini berawal
Entah siapa yang memulai.
Entah siapa yang meminta, yang menyebutkan nama salah satu dalam doanya.

Tapi, ombak-ombak itu mulai tumbuh dalam dada
bahkan temaram senja pun tidak dapat menahan deburannya
Mereka berkejaran dengan takdir.
Berusaha menentang waktu.

Namun, cerita ini harusnya sudah usai
Sebelum ia semakin bersemi
Menjadi bunga-bunga ajaib yang tumbuh di langit-langit mimpi


Cidawung, selepas hujan usai
November 2015







Jumat, 02 Oktober 2015 0 komentar

Catatan Selepas Menjadi Sarjana


Selepas kuliah, target untuk bekerja menjadi hal nomor satu untuk direalisasikan dalam agenda saya. Menjadi sarjana pendidikan alias S. Pd. setelah menempuh perjalanan studi yang rasanya manis-asam-asin ibarat like a dream comes true. Alhamdulillah wa syukurillah.
1 Oktober 2013, the dream comes true. Wisuda bersama ratusan teman-teman seperjuangan. Rasanya plooooooong begitu menerima ijazah dan melihat nama sendiri di belakangnya sudah tersemat sebuah gelar : SRI MULYANI, S. Pd. begitu katanya. Rasanya semua beban yang menumpuk semasa perkuliahan bbubaaaaaaarrrrr jalan!!! Satu kata yang tercetak dalam hati dan pikiran saat itu : BAHAGIA!




 
Padahal nyatanya sodara-sodaraaaahh… perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Mau dibawa kemana nih gelar S. Pd.-nya yang dibangga-banggakan itu? Nah lho!!!Mencari pekerjaan di zaman sekarang memang tidak mudah lho. Apalagi saya yang notabene tinggal di sebuah kota kecil yang lapangan pekerjaannya tidak semudah di kota-kota besar sana. Pilihan saya tidaklah banyak. Karena orang tua belum mengijinkan saya untuk belajar merantau ke luar kota.
“oke mah! Ngahonor we nya!” akhirnya kalimat itu keluar dari pikiran saya.
Memutuskan untuk menjadi tenaga honorer atau tenaga guru sukarelawan juga tidak mudah. Ditolak beberapa sekolah, bahkan juga tidak ditanggapi oleh beberapa sekolah jadi makanan saya waktu itu. Beruntung, ada SDN 1 Kawali mau menampung saya untuk ikut belajar disana. Tidak disangka ternyata sekolah sekelas SDN 1 Kawali yang merupakan SD inti di kecamatan saya mau menerima seorang sarjana baru lulus yang belum punya pengalaman apapun.


Disinilah bahwasannya apa yang disebut perjuangan untuk menjadi seorang sarjana itu dimulai. Bukan seperti perjuangan semasa kuliah, untuk mendapat gelar. Tapi perjuangan untuk menjawab pertanyaan “apa sih yang dibanggainnya jadi sarjana?” yang selama ini jadi senjata ampuh orang-orang yang kurang paham tentang pendidikan untuk mencibir.
Menjadi tenaga honorer atau kerennya mah sukwan memanglah tidak mudah. Satu bulan pertama masuk, saya hanya duduk manis di ruang guru. Sesekali masuk ke kelas hanya saat ada guru yang tidak masuk sekolah karena ada kepentingan dinas atau kepentingan lain. Lagi-lagi keberuntungan yang membawa saya ke dalam zona yang lebih baik. Saya pun diberi kesempatan mengajar di kelas IV.
 



Dunia kerja memang sangat jauh berbeda dengan apa yang dipelajari semasa kuliah.

Mungkin istilah itu yang selalu saya ucapkan dimasa-masa awal saya memasuki dunia pekerjaan. Padahal sebenarnya sayanya saja yang semasa kuliah #gagalfokus sama materi perkuliahan. Jadinya, di dunia kerja saya merasa asing dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Entah berapa kali saya diselamatkan dengan kata “beruntung”. Karena lagi-lagi, beruntung saya bekerja dilingkungan yang etos kerjanya cukup tinggi. Mungkin karena merupakan sekolah inti yang selalu mendapat sorotan dari banyak pihak, jadinya guru-guru disini dituntut untuk melakukan pekerjaan sesempurna mungkin.
Dengan suasana kerja yang seperti itu, saya sungguh merasa kecil. Tidak bisa apa-apa, tidak tahu apa-apa. Hari pertama saya mengajar di kelas, Kepala Sekolah bahkan lalu lalang terus didepan kelas saya, mengawasi saya. Mungkin takut saya melakukan kesalahan. Arrrhhhhhhh. Perasaan saya waktu itu sungguh lebih degdegan dibandingkan saat ujian PLP semasa kuliah dulu.
Pengalaman saya -belajar- mengajar di SDN 1 Kawali selama 2 tahun 7 bulan telah membuka mata dan pikiran saya bahwa pertanyaan para haters yang selalu mencibir “buat apa sih menjadi sarjana?” itu banyak benarnya. Buat apa jadi sarjana jika menjadi honorer saja tidak bisa apa-apa, bagaimana bisa menjadi agent of change di masyarakat? Bagaimana bisa mengharapkan gaji yang banyak jika materi kuliah saja banyak lupanya?
Maka, saya selalu menepuk jidat saya sambil berkata “Kamana wae sih keur kuliah nu kieu wae teu apal!?” ketika ada permasalahan mengenai pembelajaran yang saya tidak bisa menyelesaikannya. Tengsin euy kalo udah gini teh. Berasa gagal kuliah selama empat tahun teh.
Tapi, Allah sungguh Maha Pengasih dan Penyayang. Sekalipun saya selalu merasa tidak bisa apa-apa, Allah memalui guru-guru disini selalu membimbing saya menemukan hal-hal baru. Mulai dari belajar menjadi wali kelas, belajar mempersiapkan perangkat pembelajaran dari A sampai Z, mengikuti pelatihan mengelola perpustakaan, pelatihan kurikulum, ikut nimbrung urusan administrasi sekolah, membantu mengelola aplikasi-aplikasi pendataan sekolah, membimbing loma, mempersiapkan kenaikan kelas samapai ikut serta dalam kegiatan dari LPMP saya diberi kesempatan seperti mereka guru-guru yang sudah jadi PNS. Beribu terima kasih saya ucapkan atas segala kesempatan yang diberikan ini.

Lalu, puaskah saya setelah bekerja menjadi seorang honorer? Tentu saja TIDAK!

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas dengan segala pencapaian yang telah didapat. Begitu pula saya. Mendapatkan banyak pengalaman semasa menjadi honorer ini tidak lantas membuat saya puas begitu saja. Malahan, saya selalu merasa makin tidak bisa apa-apa. Misalnya saja, saat berkesempatan ikut membimbing anak-anak kelas VI untuk mempersiapkan Ujian Nasional. Banyak soal yang membuat saya mengerutkan kening. “Ieu soal nanaonan sih?” “Naon deui soal jiga kieu?” atau “Duuuhhhh. Ieu eusi na naon deuih!?” adalah sejenis pertanyaan yang sering muncul dalam kepala saya waktu itu.
Mungkin ada benarnya juga pepatah yang mengatakan “semakin banyak belajar semakin bodohlah kita”. Semakin banyak mengetahui hal-hal baru, semakin merasa tidak bisa apa-apa. Semakin tidak puaslah kita. Semakin ingin saya banyak belajar. Lagi-lagi, beruntung saya diberi kesempatan ikut –belajar- mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar. Disini saya banyak mendapatkan ilmu baru yang lagi-lagi membuat saya semakin bodoh. Hahahahaha..

Lantas, puaskah saya? Lagi-lagi, TIDAK.

Banyak orang yang mencibir kepada seorang sukwan. Bahkan tak sedikit juga sukwan yang mengutuki nasib mereka. Pekerjaan menumpuk, tapi gaji tidak seberapa. Sungguh. Saya juga sempat berpikiran seperti itu. Merutuki nasib yang digaji hanya ratus ribu perbulan. Untungnya, seorang guru sukwan yang sudah lama mengabdi juga banyak menasehati, banyak mengajak untuk selalu bersyukur atas apa yang dimiliki dan didapat.
“Asal kitanya mau berusaha dan tidak mudah bosan, meskipun gaji hanya segitu insyaa allah kebutuhan mah pasti tercukupi” begitu nasihatnya yang selalu diingat sampai sekarang.

Tulisan ini sungguh tidak bermaksud untuk menyombongkan diri akan apa yang sudah diraih. Tapi, hanya ingin menjawab sebuah pernyataan dari seseorang yang mengatakan “Jangan terlalu berbangga jadi sarjana, idealis menjadi seorang honorer yang kerjanya diforsir, diperah dan tidak digaji selayaknya pekerjaan yang dilakukan. Bahkan banyak sarjana yang malah ngojek biar penghasilannya lebih baik. da kebutuhan mah tidak cukup dipenuhi sama gelar sarjana”

Menurut saya, pemikiran itu sangat picik! Secara langsung menyepelekan gelar sarjana (padahal dianya juga seorang sarjana) dan merendahkan tenaga sukwan. Jaman sekarang, gelar itu menjadi syarat utama untuk mendapatkan pekerjaan. Sekalipun pekerjaan itu hanya menjadi seorang sukwan. Dan menurut saya menjadi seorang sukwan bukanlah pekerjaan yang layak mendapat tambahan ‘hanya’ didepannya.
Menurut saya, menjadi sukwan adalah pengabdian sesungguhnya. Mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan gaji, adalah sebuah pengorbanan. Kenapa kita para sukwan terkadang mendapat porsi pekerjaan yang lebih banyak dari yang sudah PNS adalah karena para sukwan ini mendapat kepercayaan, bahwa mereka memiliki kemampuan yang lebih untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Masalah gaji yang tidak sesuai dengan pekerjaan, saya sangat yakin bahwa rezeki setiap orang tidak akan tertukar karena Allah Maha Adil dan Maha Melihat. Bahkan gaji sukwan yang sesungguhnya adalah sajuta (singkatan dari sabar, jujur dan tawakal). Yakinlah, Allah sangat menghargai sajuta yang disertai dengan ikhlas daripada sajuta uang yang didapat dengan keserakahan. Tidak pernah kan ada berita yang mengabarkan seorang guru honorer meninggal karena kelaparan?
            Menjadi sukwan, membuat saya menjadi lebih kaya. Menambah pengetahuan, menambah teman dan kenalan, menambah saudara, dan menambah anak-anak yang mencintai. Bahkan sampai saya berpindah tugas, semua pengalaman yang saya peroleh saat menjadi sukwanlah yang banyak membantu saya disini. Maka, bagi siapapun yang mencibir pekerjaan seorang tenaga sukwan, saya sangat berharap Anda memikirkan kembali kata-kata Anda. Dan buat para sukwan dimanapun berada, keep Fighting, smile, dan Lillah… 

Inti dari tulisan ini adalah kita harus senantiasa bersyukur akan segala sesuatu yang sudah kita miliki dan sudah kita capai. Mohon jangan pernah menyepelekan apapun yang dimiliki oleh orang lain. Bisa jadi apa yang kita sepelekan dari orang lain justru merupakan apa yang sangat dia harapkan dan dambakan. Hargai juga apa yang dimiliki orang lain. Keep respect. 
0 komentar

Noona Neomu Yepposeo

“Oppa……..”
Lagi-lagi suara cempreng itu terdengar persis saat pintu masuk berderit terbuka.
“Sudah kubilang jangan panggil aku Oppa, anak kecil!” seruku sambil meletakkan buku yang tengah kubaca.
“Mau pesan apa?”tanyaku sebelum suara cemprengnya terdengar lagi..
“Spaghetti bolognise dan jus mangga.” jawabnya dengan enteng
“Ordered!” kataku sambil berlalu menuju dapur.
“Gomoyo oppa!” terdengar suara cempreng itu meneriakkan kata-kata yang tidak aku mengerti.
Dasar anak aneh. Namanya Nurul. Kelas XI SMA. Karena sekolah dan rumahnya berdekatan dengan toko tempatku bekerja, dia hampir setiap hari mampir ke toko ini. Sekedar membeli makanan dan berkumpul dengan teman-temanya, atau hanya memesan segelas jus alpukat sendirian sambil ditemani laptop putihnya, menonton drama korea katanya.
Akibat dia terlalu sering nonton drama korea itulah dia sering mengeluarkan kata-kata bahasa Korea yang tidak aku mengerti. Salah satunya yang menggangguku adalah dia kerap memanggilku ‘Oppa’. Heyy. Aku baru 25 tahun.
“Oppa itu artinya kakak laki-laki. Sama halnya seperti panggilan Abang, akang atau Aa.” Katanya ketika aku memprotes panggilannya.
“Tapi, tetap saja Nur. Itu membuat abang berasa dipanggil Kakek. Berasa udah tua!” bantahku.
“Ahhh.. Andri oppa kuper. Masa yang begitu saja tidak tahu. Gak gaul ahh!” katanya sambil memanyunkan bibir dan mengalihkan pandangannya pada laptopnya yang sedang dipenuhi adegan-adegan drama Korea, ngambek. Kalo sudah begini aku memilih meninggalkannya.
Dan kali ini, ketika aku hendak mengantarkan pesanannya, dia tampak tengah menangis sambil memandangi laptop putihnya. Ahh lagi-lagi menangis karena menonton film. Dasar perempuan!
“sudah nangisnya. Makan dulu!!”Kataku sambil meletakkan sepiring spaghetti dan jus alpukat pesanannya.
“Oppa….” Katanya tepat saat aku hendak melangkahkan kakiku meninggalkannya.
“sudah kubilang jangan panggil aku OPPA.” Kataku sambil berbalik ke arahnya.
“Tokomu sedang sepi kan? Bisakah oppa menemaniku duduk disini? Aku sedang butuh teman, oppa.” Katanya sambil menunduk.
“kenapa kau datang sendirian kalau kau sedang butuh teman? Kemana teman-temanmu yang selalu bikin rusuh tokoku?” kataku cuek. Namun, jujur dalam hati aku merasakan ha yang ganjil dari Nurul. Karena seringnya dia datang ke tokoku, sedikit-sedikit aku mulai mengenalnya. Menganggap dia adikku sendiri.
“Bukan teman-teman seperti mereka. Mereka hanya teman bercanda. Aku sedang ingin berbicara serius. Mungkin dengan oppa bisa” katanya, dan manik mata kami bertemu. Kalo sudah begitu, aku tak akan bisa menolak apapun permintaannya.
Kuseret kursi yang dekat dengan kakiku. Kutempatkan tepat diseberang mejanya.
“Oke ceritakan apa yang ingin kau ceritakan. Dengan syarat jangan panggil Oppa selama kau bercerita!” ancamku, galak.
“Tapi opp….” Belum selesai dia berkata aku memotongnya dengan isyarat tangan hendak pergi.
“Okeeee abang!” katanya sambil memelas. Nampaknya dia memang sedang sangat butuh teman bercerita.
“Apakah kau pernah jatuh cinta bang?” tanyanya.
Aku mengerutkan dahiku. Cinta? Kenapa anak ini tiba-tiba berbicara tentang cinta?


 ------ TO BE CONTINUED --------
Selasa, 22 November 2011 0 komentar

Hanya Senja


                      Terkadang aku selalu ingin seperti mentari,         
Selalu kembali dengan senyum membagikan cahayanya walaupun mereka mengeluhkan teriknya
Terkadang aku selalu ingin seperti hujan,
Selalu dengan setianya membagikan setiap tetesan airnya yang sangat bermanfaat
Walaupun mereka selalu mengutuki  banjir yang muncul kemudian
Terkadang aku selalu ingin seperti rembulan,
Selalu dengan anggunnya  menerangi malam, menggantikan matahari
Walaupun kini hadirnya sedikit dilupakan oleh sorot lampu-lampu lebih menyilaukan mata
Terkadang aku selalu ingin seperti bintang,
Selalu dengan telatennya menunjukkan arah bagi mereka yang tersesat dalam gelap
Walaupun kini magnet-magnet lebih menarik mereka untuk kembali ke arah mana mereka menuju
Namun,
Aku hanyalah sepotong senja
Senja yang hanya bisa menjadi senja
Senja yang kadang mengubah langit dari biru menjadi kelabu
Senja yang kadang mengubah siang yang cerah menjadi malam yang penuh petir
Senja yang kadang penuh lembayung dan cantik
tapi kadang gelap dan menakutkan
Sesaat
Dan terlupakan
Selasa, 15 November 2011 3 komentar

Cerpen: Untuk Senin Pagi, Untuk Merah Putih-ku


Senin pagi, matahari bersinar dengan hangatnya. Burung-burung berkicau riang menyambut hangat pagi ini. Namun, tidak demikian dengan Dinda. Gadis berkuncir dua itu selalu saja enggan menyambut hari Senin.
“Selalu harus cepat-cepat segalanya!” katanya dengan wajah cemberut.
“Dinda sayang. Ayo cepat ganti bajunya. Nanti telat upacara.” panggil Bunda.
“Tuh kan? Selalu harus cepat-cepat!” gerutu Dinda.
“Dinda sayang. Ayo cepat sarapan!” panggil Bunda lagi.
“Iya Bunda” jawab Dinda seraya menuju  meja makan.
Sesampainya di meja makan, terlihat ayah, bunda dan kak Raka telah siap sarapan. Melihat Dinda telah bergabung untuk sarapan, ayah memimpin doa sebelum makan. Kemudian mereka pun sarapan bersama. Sarapan pagi sangatlah penting agar kita bisa menjalani aktivitas dengan baik sepanjang hari.
Dinda makan dengan bermalas-malasan. Ketika ayah, bunda, dan kak Raka sudah selesai makan, Dinda masih menyisakan banyak makanan di piringnya.
“Dinda, cepetan dong makannya. Telat nanti!” kak Raka menegur Dinda.
“Iya sayang. Ayo dihabiskan makanannya” kata Ayah.
Dinda lagi-lagi kesal karena harus cepat-cepat.
“Bentaran dulu dong! Nanti keselek kalo cepet-cepet makannya.” Dinda membela diri.
“Ini kan hari senin, sayang. Nanti telat lho.”kata Bunda mengingatkan.
“Kenapa sih setiap hari Senin itu harus buru-buru?” Dinda semakin cemberut.
“Kan upacara Dinda. Cepat makannya! Kakak telat nih bisa-bisa” kak Raka sedikit menggertak Dinda.
“Kenapa juga mesti upacara? Padahal kan cuma pegel-pegelan berdiri, hormat ke bendera, terus dengerin Pembina ngobrol di depan. Panas lagi!”gerutu Dinda sambil mengunyah suapan nasi gorengnya yang terakhir.
“Ya daripada dihukum sama guru? Hayo pilih mana. Udah cepetan makannya!” kak Raka semakin kesal pada Dinda.
“Udah. Nanti di mobil ayah jelaskan kenapa hari Senin harus pagi-pagi dan kenapa harus upacara. Ayo sekarang kita berangkat.” Kata ayah seraya mengajak putra-putrinya menuju aktivitas mereka.
Setelah berpamitan dengan Bunda yang berangkat belakangan, ayah, kak Raka, dan Dinda pun berangkat.
“Dadah Bunda. Assalamualaikum.” teriak Dinda dari balik kaca jendela mobil.
“Waalaikumsalam warohmatulloh. Hati-hati. Belajar yang rajin ya!” jawab bunda.
Belum 5 meter keluar dari garasi rumah, Dinda kembali berceloteh.
“Ayo katanya ayah mau menjelaskan yang tadi!” kata Dinda.
“Menjelaskan apa, Sayang?” ayah pura-pura lupa akan janjinya.
“Ih ayah yah! Pikun! Itu yang tadi pas sarapan.” kata Dinda dengan wajah cemberut.
Ayah hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu.
“Apa coba yang pas sarapan itu?” ayah malah semakin senang menggoda Dinda.
“Ih ayah… Itu yang tadi. Yang upacara itu.” kata Dinda dengan gemas.
“Oh yang itu. Kakak dan Dinda mau mendengarkan cerita ayah?”tanya ayah sebelum memulai menjelaskan.
“Mau!” serempak kak Raka dan Dinda menjawab pertanyaan Ayah.
“Oke. Sambil bercerita ayah maumenyetel lagu yah?”kata ayah seraya menyalakan MP3 Player. Dan terdengarlah alunan lagu “Berkibalah Benderaku” ciptaan Ibu Sud.
“Ah Ayah. Masa lagu yang begini! ST12 aja Yah.” protes kak Raka begitu mendengar lagu yang diputar ayah.
Ayah geleng-geleng kepala mendengar protes dari kak Raka dan seraya bergumam dalam hati “anakku mulai beranjak remaja”. Kemudian ayah menjawab:
“Kita kan mau bercerita tentang upacara. Jadi lagunya ini dulu, ST12-nya nanti lagi yah, kakak?”
Kak Raka hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian ayah memulai ceritanya tentang upacara.
“Tadi, Dinda bertanya yah “kenapa kalau hari Senin itu segalanya harus cepat-cepat?”, “kenapa hari Senin harus upacara”” kata ayah seraya menirukan suara Dinda.
Dinda dan kak Raka hanya tersenyum mendengar dan memperhatikan ayah yang menirukan Dinda yang masih kecil.
“Nah, ayah jawab satu-satu yah. Sebenarnya, bukan  hari Senin saja kita harus cepat-cepat, cepat-cepat bangun pagi,cepat-cepat mandi, shalat subuh  harus setiap hari, cepat-cepat sarapan juga harus setiap hari, bukan hari Senin saja, bukan juga karena upacara. Tapi, karena kita harus disiplin, tepat waktu. Coba kalau Dinda atau kak Raka bangunnya tidak cepat-cepat, pasti bakalan telat sahalat Subuh, telat sarapan, telat masuk sekolah, dan nanti dihukum sama ibu atau bapak guru. Iya gak?” kata  ayah.
Dinda dan kak Raka hanya mnegangguk-anggukkan kepala mereka tanda setuju dan menunggu penjelasan selanjutnya dari ayah tersayang.
“Jadi, bukan hanya hari Senin saja yah kalian harus cepat-cepat bangun,  sarapan dan berangkat sekolah. Tapi setiap hari. Oke?” Tanya Ayah yang dijawab dengan kata “oke” serempak dari mereka.
“Terus, yang kedua, “kenapa yah hari Senin itu harus upacara?”” lanjut Ayah.
“Tadi kata kakak biar gak dihukum ibu guru.” celetuk Dinda menjawab pertanyaan Ayahnya.
“Hehe. Iya benar. Salah satunya upacara supaya tidak dimarahi ibu guru. Tapi, sebenarnya bukan itu.” kata ayah lagi.
“Terus kenapa ayah?” tanya kak Raka yang penasaran jawabannya masih salah.
“Upacara itu untuk menghargai jasa pahlawan. Udah belajar kan tentang para pahlawan, ada Cut Nyak Dien, Pattimura, Otto Iskandardinata, masih inget gak?”
“Iya yah masih inget. Yang sampai meninggal berperang memerdekakan Indonesia yah?” kata Raka yang duduk di kelas 5.
“Iya betul. Nah, perjuangan mereka itu salah satunya untuk mengibarkan bendera merah putih yang menjadi tanda Negara kita. Susah lho perjuangannya. Dulu kalo membawa bendera merah putih dan ketauan Belanda bisa dibunuh. Maka, sekarang setelah merdeka, bendera itu selalu dikibarknan setiap hari Senin dalam upacara bendera,  atau saat uapacara-upacara lain. Agar kita selalu ingat pada para pahlawan yang telah membuat bangsa kita merdeka dan bebas dari penjajah yang kejam. Dan saat upacara juga kan ada yang namanya mengheningkan cipta, nah saat mengheningkan cipta iu, kita mendoakan para pahlawan agar menjadi syuhada-syuhada dan mendapat surga Allah. Bagaimana?” Ayah mengakhiri cerita panjang lebarnya dengan menatap kedua buah hatinya yang serius menanggapi ceritanya.
Kedua buah hatinya terlihat terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Jadi, upacara itu bukan karena takut pada ibu bapak guru yah, tapi untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bagi kita dan mendoakan merka. Oke?”kata Ayah menarik kesimpulan dari penjelasannya.
“Oke ayah” jawab mereka serempak.
“Dinda gak boleh telat upacara ya, Yah? Supaya Dinda bisa mendoakan para pahlawan.” kata Dinda.
“Iya. Kakak juga gak boleh main-main saat upacara. Susah payah benderanya bisa dikibarkan, masa kakak main-main. Apa kata dunia?” kata kak Raka sambil meniru gaya iklan.
“Hehehe. Anak ayah pinter-pinter semuanya! Dan jangan lupa juga, kakak dan dinda harus rajin belajar supaya penter, supaya bangsa kita tidak dijajah lagi. Dan benderanya tetap bisa berkibar dengan gagah. Oke?” kata ayah mengakhiri diskusi kecil mereka pagi itu Karena gerbang sekolah keduanya telah terlihat.

Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa 
 
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah Slama-lamanya


                                                                                              In my room, November 14th 2011
09.58 pm
Senin, 15 Agustus 2011 0 komentar

Untuk Pramuka


Senja uSiamu tidak membUat tuLangmu kian meRapUh.
Tak jua membUat cokLatmu memUtih.

Senja di usiamu mengukirkan jingga di sudut-sudut perjuanganmu.

PRAJA MUDA KARANA.

Semangatmu akan tetap beRkobaR seiRing peRcik-peRcik api unggun yg meRona di keheningan maLam.
Janji-janjimu terukir mesra dalam pRasasti-pRasasti satya dan dhaRma di hati tUnas-tUnas keLapa.
Baktimu teRpatRi daLam ucap Langkah dan peLuh yang disemai seiRing deRma peRjuangan.

IkhLas, muLia, dan beRsahaja. PotRetmu seLaLu menjadi kebanggaan dan peLipuR LaRa bangsa.
MengukiRkan tinta semangat dg karya dan kebanggaan.

PRAJA MUDA KARANA.

Di senja usiamu, jadilah nyiur yg tinggi menjulang nan gagah. Jadilah nyiur yg selalu bermanfaat bagi nusa bangsa.



Heheeee. Itulah sebait coretan "iseng" dari seorang "tunas kelapa" yang masih muda. heheeee. sebenarnya ulang tahun Pramuka itu tanggal 14 Agustus kan kan kan? Telat niii nge-post'nya. Bukan karena lupa, atau melalaikan, tapi baru sempet ajja. Dan, tanpa mengurangi rasa cinta terhadap PRAMUKA-ku, DIRGAHAYU PRAMUKA-ku yang ke-50. Setengah abad, semoga semakin berjaya!!!!!

SATYA-KU KUDARMAKAN, DARMA-KU KUBAKTIKAN.
PRAJA MUDA KARANA.
Selasa, 12 Juli 2011 0 komentar

Sebagai Renungan

-seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya tetapi dari kecantikan hati yang ada di balik itu
-seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona tetapi dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya
-seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia beri tetapi dari keikhlasan dia memberikan kebaikan
-seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya tetapi dari apa yang ia bicarakan
-seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kemampuannya dalam berbahasa tetapi dari cara ia berbicara
-seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya
-seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dari kekhawatirannya membuat orang lain tergoda
-seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besar ujian yang dilalui tetapi dari se3jauh mana ia menghadapi ujian dengan penuh rasa syukur
-seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari rasa supelnya dalam bergaul tetpi dari sejauh mana ia mampu menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul

*seorang ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar tetapi dari kebaikan yang ia berikan pada orang sekitarnya
*ikhwan sejati itu bukan dilihat dari seberapa lantang ia bersuara tetapi dari kelembutannya menyuarakan kebenarannya
*ikhwan sejati itu bukan dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi bangsa
Jumat, 03 Juni 2011 0 komentar

Give Thank's to Allah

I asked for STRENGTH,, and ALLAH gave me DIFICULLTIES to make me STRONG..
I asked for WISDOM and ALLAH gave problem to SOLVE..
I asked for COURAGE,, and ALLAH gave me OBSTACLES to overcome..
I asked for LOVE, and ALLAH gave TROUBLED PEOPLE to HELP..
I asked for FAVORS, and ALLAH gave me OPPORTUNITY..Maybe I received nothing I WANTED, but I received everything I NEEDED..
Thank y0u allah.. Your Love is everything for me.. Without You, I'm is nothing.. Alhamdulillah.. Subhanallah
Selasa, 03 Mei 2011 0 komentar

Tafakur Cinta

Tuhan,

ketika aku sedang jatuh cinta, jagalah cinta itu agar tak melebihi cintaku pada-Mu

Tuhan,

jika ketika aku berucap "aku cinta padamu",biarlah kukatakan kepada yang hatinya senantiasa terpaut pada-Mu agar aku tak terjatuh pada cinta yg bukan karena-Mu

Tuhan,

ketika aku merindukan seorang kekasih,rindukanlah aku kepada yang rindu cinta sejati-Mu agar kerinduan terhadap-Mu semakin menjadi

Tuhan,

jika aku hendak mencintai seseorang,temukanlah aku dengan orang yang mencintai-Mu agar bertambah cintaku pada-Mu..

Amiin ya aLLah, ya RobbaL 'aLamin...
0 komentar

Menikah???

Pagi ini, kelas kami 2A tercinta kedatangan sebuah surat undangan lagi. Sebenarnya berbagai dan berlembar surat sering mampir ke kelas. Cuma, yg ini mah surat undangannya beda. Ini mh undangan pernikahan dari tetangga sebelah. Woww. Teman satu angkatan ada yg mau melepas masa lajang di usia yg masih muda. Hoho. Musim mungkin ya? Ky arteiz-arteiz itu ya?
Well, jadi teringat sebuah artikel yg berjudul 'Menyempurnakan Agama'.

Artikel itu dimulai dg sebuah pesan "Menikahlah, karena menikah itu adalah setengah agama". Waw, sungguh menggelitik. Saat itu penasaran membuatku membaca artikel itu. Ooh panjang menjadi akhirnya. Selanjutnya, saya termenung. Gitu ya? Sungguh luar biasa arti sebuah pernikahan.

Menurut sang penulis, baginya pernikahan adalah madrasah. Tempat ia belajar banyak tentang peristiwa dalam keseharian hidupnya dan hikmah yg dapat dipetik dibaliknya. Sehingga pernikahan bisa membuat ia belajar dan terus belajar memperbaiki diri dan menyempurnakan agamanya demi keluarga yg dipimpinnya.

Terbersit dalam pikiran, bisakah saya menjadikan pernikahan sebagai sarana menyempurnakan agama? Hemmh.

Akhirnya, hanya sebuah d0a sem0ga kelak setelah bisa berbakti dan mengabdi pada ayah bunda, akn datang pangeran dg kuda putihnya yg mampu menunjukkan dn membawa ke jalan menuju indahnya jannatul firdaus. Amin.

Untuk teman kami, semoga pernikahannya berkah, dan menjadi keluarga yg sakinah, mawaddah, warohmah. Aamiin. Barakallahu.
0 komentar

Teruntuk IBU !!!

Bunda, ibu, mama, umi, emak, m0mmy dan entah berapa nama lagi yg digunakan untuk memanggilmu tak akan merubah esensi kemuliaan cintamu pada anak2mu. Betapa tidak, pengorbanan dan perjuanganmu menjadi saksi betapa mulianya engkau.

Jika cermin hanya bisa menunjukkan bayangan nyata tapi terbalik, lensa membiaskan dan membengkokkan cahaya, tapi matamu memancarkan ketulusan dan kasih sayang yg apa adanya.

Ketika selimut hanya bisa menghangatkan dikala dingin, dan air hanya bisa menyejukkan dikala panas, tapi sentuhan lembut tanganmu mampu menghangatkan hati yg dilanda lara dan mendinginkan hati yg dibakar amarah.

Ketika mulutku hanya mampu menggerutu mengeluhkan nasihat-nasihatmu, bibir lembutmu terus bertasbih, berdzikir dan berdoa menyebut namaku didalamnya. Semoga kebahagiaan dan kemuliaan selalu menyertai anakku.

Maafkan aku bunda. Kadang tak sengaja lisan dn tingkah ini membuat relung hatimu terluka.

Aku ingin kau tahu, bunda.

Aku mencintaimu.

Kumohon restu dalam langkahku. Bahagiaku seiring doamu.
0 komentar

Tentang Pernikahan

Kembali kata 'pernikahan' menyeruak memori pikiran.

Saya kembali menemukan makna baru sebuah mahligai pernikahan. Ya. Makna baru itu adalah pernikahan sangatlah menghormati dan menjunjung tinggi derajat perempuan. Tentu berlainan dg paham feminisme yg mengatakan bahwa dlm Islam, seorang istri tidak dihargai. Semua itu hanya omong kosong belaka. Saya benar-benar mengerti betapa tinggi derajat seorang perempuan dlm pernikahan di mata Islam.

Salah satu contohnya adalah dalam hal pelaksanaan resepsi pernikahan atw walhmatul 'urusy. Pelaksanaan itu harus diselenggarakan di rumah atw tempat pengantin perempuan. Yg mana disini menyiratkan bahwa pengantin laki-laki harus rela berkorban untuk mendapatkan sang pengantin perempuan. Selain itu, wanita jga dimuliakan dg diberinya mahar atw mas kawin dan barang2 'seserahan' dalam adat sunda mh.

Dalam proses akad nikah juga, sang pengantin laki-laki harus membacakan janji2 nikah atw namanya th sighat apa gitu. Sedangkan tidak untuk perempuan. Dalam pelaksanaan pernikahan pun, laki-laki mempunyai kewajiban yg lebih banyak pada istri, seperti memberi nafkah lahir dan batin, memberi tempat tinggal yg layak, dll.

Sedangkan istri, hanya wajib mematuhi, menghormati dn melayani suaminya. Serta menjaga harta dn kehormatan suaminya. Maka, berbanggahatilah menjadi seorang perempuan. Dn jangan sampai kita yg sangat dimuliakan dalam ikatan pernikahan menjadi penghancur pernikahan kita sendiri.

Bagi perempuan2 yg telah menikah, semoga menjadi istri2 shalehah, bagi mereka yg hendak menikah, semoga telah mempersiapkan diri guna menjadi istri shaleha, dan bagi yg belum terpikir untuk menikah, semoga allah segera menunjukkan jodoh dn segera merasakan dimuliakan saat menjadi istri.

Wallahu'alam bish shawab.
0 komentar

Catatan 11 Juli

MaLam ini, ingin kuucap terima kasih atas untaian harapan yg kaurangkai diatas tirai cinta dan kaugantungkan didepan pintu kebahagiaan ini. Serta atas seulas senyum yg kaulukis dg tinta ketulusan diatas kanvas kepercayaan ini.

Malam ini pula, ingin kupanjatkan doa pada Rabb yg kucintai dan kaucintai.

Semoga ini menjadi awal yg baik bagi perjalanan panjang kita.

Semoga ini menguatkan cinta kita pada Rabb yg telah menciptakan dn mempertemukan kita. Semoga ini menjadi jalan agar kita sama-sama menuju surga-Nya yg indah.

Malam ini juga, aku berharap. Aku bukanlah manusia sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah.
Maka, aku tidak pernah dan tidak pantas mengharap kau menjadi yg sempurna bagiku. Yg kuharap adalah aku dan kau mampu menerima satu sama lain apa adanya. Dan mampu saling melengkapi serta saling menghargai. Karena dg begitulah semua akan terasa sempurna.

Akhirnya, malam ini ditutup dg sebait doa 'Robbana hablana min ajzwaziina wa dzuriyatina kurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama'. Amin. Amin. Ya robbal 'alamin.

*memories 110710*
0 komentar

Untuk Sahabat !!!

Kilauan mentari terpatri dalam hangatnya tatapan matamu. Tatapan yg selalu memeluk mataku, mengalirkan semangat dan harapan.

Lembut salju nan menyejukkan menjelma dalam halus tanganmu. Tangan yg selalu menepuk pundakku. Menyejukkan kala amarah. Menguatkan kala lara menyerang.

Warna warni indah pelangi menyala terbit di indah senyummu. Senyum yg selalu menambah ceria hari dan mencerahkan setelah gerimis.

Dentingan rinai hujan yg diiringi symfoni dentuman petir yg syahdu terekam dalam merdu suaramu. Suara yg selalu memperdengarkan kata-kata penghangat ikatan, penguat persaudaraan, dan pengokoh silaturahmi.

Semua yg kau, kamu, engkau, dia, kalian beri, sungguh bermakna, Sahabat. Tiap jengkal dalam perjalanan yg kutempuh, tiap detik yg kulalui, tiap doa yg terukir, tiap semangat yg menyala, semua adalah nyata dengan indah persahabatan.

Aku selalu berharap, persahabatan kita akan tetap menyala seperti matahari. Akan tetap bersinar seperti rembulan. Akan tetap menyejukkan seperti hujan. Dan akan tetap kokoh seperti karang di lautan.

Sungguh, Sahabatku. Ingin aku mencintai kaLian karena allah.
0 komentar

Cita-citaku Menjadi Seorang GURU !!

Terkadang saya malu ketika teman atau saudara bertanya 'Kuliah dimana? Jurusan apa?'. Apalagi yg bertanyanya itu teman yg kuliah di Universitas Waw dg jurusan Wow. Sedangkan saya hanyalah kuliah di kampus daerah dg jurusan PGSD.

Tapi, setelah lama bersemedi dn mencari ilham, akhirnya muncul juga rasa percaya diri itu. Seiring dg motivasi dari ayah yg mengatakan bahwa 'Kalau tidak ada guru apalagi guru SD, tidak akan pernah ada dokter, profesor, bahkan presiden'.
Karena apa? Memang pekerjaan guru SD terlihat mudah. Hanya mengajarkan 1+1=2, dan I-NI I-BU BU-DI. Juga bekerjanya hanya sebentar. Berangkat jam 7pagi dan jm 12siang sudah kembali ongkang-ongkang kaki di rumahnya.

Tapi, sadarkah kita jika tak ada yg mengajarkan 1+1=2 tentu kita tidak akan dapat menghitung angka2 yg lebih besar seperti bilangan avogadro dan atau bilangan-bilangan yg kecil seperti bilangan desimal? Juga jika tak ada yg mengajarkan kita I-NI I-BU BU-DI kita tidak akan pernah tahu buku-buku sejarah, ilmu pengetahuan, dan keagamaan yg akan mencerdaskan kita. Dan walaupun hanya dididik sebentar, tapi sepanjang hayat ilmu yg mereka beri akan tetap berguna. Betul tidak? Cobalah kita sejenak merenung. Kembali ke memori SD kita. Betapa besar pengorbanan dn kasih sayang guru kita.

Maka, kini saya akan berseru dg lantang dan bangga CITA-CITAKU MENJADI SEORANG GURU. Dan saya persembahkan kebanggan saya pada semua guru di penjuru dunia ini.

'Guruku tersayang, guru tercinta, tanpamu apa jadinya aku? Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal. Guruku, TERIMA KASIHKU.' (Guru Tersayang : AFI Junior)
0 komentar

Mata Rindu

Kembali aku merindukan senja yg berpendar dalam retina matamu.

Mata indah yg karenanya aku bisa menyelami dalamnya lautan cinta.
Mata yg memancarkan rona jingga jiwa yg bersahaja.

Serombongan lembayung menari dalam indahnya symfoni dan harmonisasi kidung rindu yg kunyanyikan.
Sepasang merpati yg tengah memadu kasih, turut bersenandung.

Aduhai, betapa aku merindukan tatapmu yg dengannya bisa kulihat ribuan mil jauhnya harapan yg terhampar.

Biarkanlah hanya aku yg merasakan eratnya pelukan tatapmu itu.
0 komentar

Untukmu, Saudariku !!

Untaian rambut hitammu bak hitamnya langit malam.Menyibakkan sejuta pesona yg melenakan hati kaum Adam. Maka,tutupilah ia dg jilbab ini. Jilbab yg akn menjga kehormatanmu sbg wanita di dunia, dan menjunjung kehormatanmu sbg wanita pnghuni surga dari kaum Nabi Muhammad di akhirat kelak.

Parasmu mempesona, layaknya mutiara yg selalu diburu oleh para pecinta. Maka, jagalah ia dg pesona pribadi shalehamu dan kecantikan hatimu. Seraya mengucapkan 'allahumma kamma hassanta khuluqi, fahassin khulqi'. Sesungguhnya, wanita shaleha dilihat dari kecantikan hati yg ada dibalik parasnya yg indah.

Elok tubuhmu seperti kilauan harta karun yg menggoda para penyamun untuk menyentuhnya. Maka, jagalah ia dg pakaian yg menutupi perhiasanmu dan menjaga kehormatanmu. Sesungguhnya, wanita sejati dilihat dari kekhawatirannya membuat orang lain tergoda.

Lantunan suaramu yg halus nan merdu ibarat khomr yg memabukkan. Maka, aturlah ia dg dzikir dn dentingan ayat2 suci. Sesungguhnya,wanita sejati dilihat dari setiap kata yg ia bicarakan.

Perilakumu ibarat tarian2 dansa yg mengundang semua mata untuk menikmatinya. Maka, percantiklah ia dg kostum akhlaqul karimah. Perindah gerakannya dg amalush shaleha. Buatlah lebih syahdu symfoninya dg untaian syukur dn sabar dlm setiap peristiwa hidupmu.

Dunia adalah perhiasan,dan seindah-indahnya itu adalah engkau saudariku wanita shaleha.

Dan sesungguhnya surga firdaus adalah tempat bidadari2 rupawan seperti engkau, Saudariku.
0 komentar

Izinkan Aku untuk ... Cemburu

Izinkan aku katakan, Manisku.. AKU CEMBURU..

Ya. Aku cemburu, Manisku. Pada angin yg selalu membelai wajahmu. Pada rembulan yg selalu terbit di kilau matamu. Pada senja yg selalu berpijar di senyummu. Pada mentari yg selalu menyala di tawamu. Pada pelangi yg selalu merona di harumu.

AKU CEMBURU, Manisku. Pada temaram lampu di sudut2 gang yg selalu kau cari setiap malam saat kau tersesat mencari jalan pulang. Pada bangku taman yg selalu menjadi teman kala kau gundah mencari ketenangan. Pada kolam2 ikan yg selalu menemani khayalmu ketika kau tengah ragu2. Pada ranting2 patah yg selalu menjadi kawan dalam perjalanan panjangmu menggapai asa.

AKU CEMBURU, Manisku. Ketika kau hanya mematUng. Membisu. Membeku. Dihadapku. Aku cemburu pada kebisuan dn kebekuan yg merajaimu itu.

Sekali lagi, Manisku.

AKU CEMBURU ! ! !
 
;