Jumat, 06 Januari 2012 0 komentar

Catatan Tentang Sekolah Berbasis TIK (Tugas DASTEKOM)

Sekolah Berbasis TIK
            Seiring dengan diterapkannya kebijakan otonomi daerah, pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah juga mengalami perubahan mendasar melalui gagasan penerapan pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang dianggap sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. Pendekatan ini memberi peran yang lebih luas kepada sekolah. Dengan kata lain, pendekatan ini memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah sehingga manajemen sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya, sehingga sekolah lebih mandiri.
            Untuk itu, MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektivitas, kualitas/mutu, efisiensi, inovasi, relevansi, dan pemerataan serta akses pendidikan dalam rangka peningkatan mutu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, penerapan TIK perlu dipertimbangkan untuk membantu pelaksanaan manajemen sekolah yang lebih efektif dan efisien. Ruud (2005) menunjuk bahwa investasi TIK di sekolah-sekolah yang kemudian diikuti dengan sepuluh pengembangan kompetensi guru dan siswa dalam bidang TIK dapat memperbaiki efektifitas pengelolaan sekolah serta meningkatkan kinerja (performance) akademik tenaga kependidikan dan peserta didik.
            Hal ini dapat dipahami karena penerapan TIK di sekolah akan memberikan kontribusi langsung kepada peningkatan proses manajemen dan administrasi, peluang untuk mengembangkan bahan ajar dan belajar mandiri, motivator bagi siswa untuk mengembangkan kemampuannya, dan sebagai alat untuk pengembangan profesi dan mekanisme inovasi dalam sistem monitoring dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran.
            Uraian di atas menunjukkan bahwa penerapan TIK di sekolah merupakan solusi yang paling tepat untuk menunjang peningkatan mutu sekolah termasuk keberhasilan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan pencapaian standar nasional pendidikan (SNP). Dengan pemanfaatan TIK, tenaga kependidikan dan stakeholders lainnya dapat meningkatkan manajemen sekolah dan aliran informasi yang efisien untuk mendukung pencapaian standar nasional pendidikan dan proses desentralisasi pendidikan di Indonesia.
Akhir-akhir ini, banyak sekolah yang bersaing secara ketat untuk memasuki era dunia pendidikan yang baru, yang mana pendidikan tidak hanya sebagai proses pemanusiaan manusia yang dilaksanakan secara biasa.. Saat ini sekolah-sekolah mencoba menerapkan unsur-unsur teknologi informasi dan komunikasi dalam pelaksanaan pendidikannya, baik dalam segi pembelajaran maupun dalam segi managemen pendidikan di sekolah tersebut.
Beberapa Komponen utama sekolah berbasis TIK setidaknya terdiri dari:
1.        Konten dan Kurikulum
2.        Proses Pembelajaran
3.        Sarana dan Prasarana
4.        Kompetensi SDM Sekolah
5.        Sistem Administrasi dan Manajemen Sekolah
6.        Infrastruktur dan Suprastruktur
Berikut merupakan penjelasan mengenai komponen utama berbasis TIK :
1. Konten dan Kurikulum
Konten yang disampaikan dalam Smart School bukan lagi pengetahuan yang terbatas pada pengetahuan kognitif, tetapi lebih dari itu juga disampaikan pendidikan nilai. Strategi dalam peningkatan mutu pendidikan, salah satunya dicoba dengan pendekatan baru yakni manajemen mutu pendidikan berbasis sekolah (school based quality management). Konsep yang diluncurkan oleh Depdiknas ini berpijak dari teori effective school dengan memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan.
2. Proses Pembelajaran
Pada Smart School ini sistem pembelajaran berupa student-centered dimana siswa dituntut aktif untuk mengelaborasi informasi yang diperoleh serta secara kreatif dan terampil mengasah kemampuan berkolaboratif dalam memecahkan persoalan. Penerapkan metode “active learning” ini mengarah pada upaya melibatkan semua siswa dalam seluruh proses belajar mengajar (partisipasi aktif). Bahkan dalam topik tertentu, siswa diharapkan mampu menjadi guru bagi teman-temannya. Siswa tidak hanya belajar dari guru dan buku tetapi juga dari pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran untuk mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Selain metode active learning, siswa juga dapat merasa senang pada saat belajar karena terciptanya suasana belajar yang menyenangkan(joyful learning) sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang datang dari dalam diri pembelajar.
Metode joyful learning ini lebih menekanan pada pemberian:
Ø  Aspek visual (gambar, peta, diagram, warna, simbol, alat peraga dan penulisan kata kunci),
Ø  Aspek auditif (variasi suara, umpan balik secara lisan, pengulangan informasi penting atau kata kunci, penggunaan sajak atau nyanyian), dan
Ø  Aspek kinestetik (peragaan konsep, simulasi atau bermain peran, gerakan dan bahasa tubuh)
3. Sarana dan Prasarana
Dalam rangka terbentuknya sekolah yang berbasis Smart School yang memiliki jaringan nasional maupun regional/internasional, maka sekolah yang dipilih harus melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas sarana dan prasarana baik ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, buku pelajaran, peralatan peraga pendidikan, serta sarana informasi, komunikasi, dan teknologi seperti komputer dan fasilitas internet. Fasilitas TIK selain sebagai media komunikasi juga merupakan sarana bagi warga sekolah untuk meningkatkan pengetahuan atau wawasannya. Melalui internet setiap siswa dapat memperoleh berbagai informasi atau bahan pembelajaran yang mutakhir. Dengan fasilitas TIK, Smart school akan dapat mengembangkan program-program kerjasamanya, termasuk saling tukar gagasan inovasi pembelajaran dan materi pembelajaran.

4. Kompetensi SDM Sekolah
Bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan. Oleh karena itu maka perlu kiranya dibentuknya individu-individu yang berkualitas dengan memberikan pendidikan yang berkualitas sejak dini. Kompetensi guru :
- Mengoperasikan komputer
- Menjalankan Learning Management System (LMS)
- Membuat bahan ajar multimedia (dibantu Tim Pengembang)
- Berperan sebagai Fasilitator dalam proses pembelajaran
- Memiliki sertifikasi TI
5. Sistem Administrasi dan Manajemen Sekolah
Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Salah sat alat ukur mutu pendidikan pada suatu sekolah dapat dilihat pada tingkat kinerja sekolah tersebut. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses pendidikan di sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, dan inovasinya. Khusus yang berkaitan dengan kualitas dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi belajar peserta didik, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam prestasi akademik.
6. Infrastruktur dan Suprastruktur
Sekolah yang mampu menginternalisasikan konteks ke dalam dirinya akan membuat sekolah sebagai bagian dari konteks dan bukannya mengisolasi darinya. Konteks meliputi kemajuan ipteks, nilai dan harapan masyarakat, dukungan pemerintah, tuntutan globalisasi dan otonomi, tuntutan pengembangan diri, dan sebagainya.
Untuk membentuk sekolah yang berbasis Smart School maka sekolah yang ditunjuk harus memiliki kualitas baik pada bidang akademik dan maupun non akademik. Mutu sekolah ini dipengaruhi oleh tingkat kesiapan (input) dan proses belajar mengajar yang didukung dengan media-media pembelajaran yang dapat memudahkan peserta didik untuk memahami materi pembelajaran. Media-media pendidikan tersebut dapat berupa multimedia elektronika yang sarat dengan animasi, dan juga dapat berfungsi sebagai alat peraga yang lebih aktual, konkret, dan nyata, sehingga siswa akan lebih tertarik dan mudah dalam memahami materi yang disampaikan.
Fasilitas Sekolah yang Berbasis TIK :
- Spesifikasi H/W dan S/W yang up to date
- Lab multimedia
- Jaringan komputer
- Akses Internet yang memadai
- Sistem Informasi Sekolah
- Website sekolah
- Learning Management System
- Sistem Informasi Akademis
- Sistem Administrasi Sekolah
- Bahan ajar berbasis multimedia
0 komentar

Catatan Tentang UAS PKn


1.      a. Proses dan Peran Paradigma Baru Bidang Studi PKn
Dalam paradigma baru pendidikan, tujuan pembelajaran bukan hanya untuk merubah perilaku siswa, tetapi membentuk karakter dan sikap mental profesional yang berorientasi pada global mindset. Fokus pembelajarannya adalah pada ‘mempelajari cara belajar’ (learning how to learn) dan bukan hanya semata pada mempelajari substansi mata pelajaran.
Dalam pembelajaran PKn di sekolah dasar, paradigma baru ini merupakan proses berpikir dalam menentukan dan menggunakan model pembelajaran PKn di SD menuju kehidupan masyarakat demokrasi. Paradigma ini merupakan sesuatu yang multidimensional dan mengacu kepada dimensi rasional, spiritual, emosional, dan social.
Dengan adanya paradigma baru dalam pembelajaran PKn ini, maka memunculkan suatu proses pembelajaran baru. Karena masalah utama dalam pembelajaran PKn ialah penggunaan metode pembelajaran yang terkesan kaku, kurang flkesibel, kurang demokratis, dan cenderung lebih dominan one way method. Guru PKn mengajar lebih banyak mengejar target yang berorientasi pada nilai ujian akhir, disamping masih menggunakan model konvensional yang monoton, aktivitas guru lebih dominan daripada siswa, akibatnya guru seringkali mengabaikan proses pembinaan tatanan nilai, sikap, dan tindakan.
Maka untuk mengatasi masalah tersebut dari paradigma baru itu muncul suatu model pembelajaran yang efektif dan efisien sebagai alternatif pendekatan, yaitu model pembelajaran berbasis portofolio (Portfolio Based Learning) atau Proyek Belajar Kewarganegaraan Kami Bangsa Indonesia (PKKBI) yang diharapkan mampu melibatkan siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran dan melibatkan seluruh aspek yaitu, kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.
Pendekatan portofolio ini ditandai dengan karakteristik siswa belajar aktif dan pendekatan inkuiri. Adapun dengan munculnya paradigma baru pembelajaran PKn melalui model portofolio ini diharapkan mampu melaksanakan peran pembelajaran dengan baik. Yaitu untuk membelajarkan dan melatih peserta didik untuk berpikir kritis, membawa peserta didik mengenal objek/subjek masalah dalam kehidupannya, memilih dan bisa memecahkan problem atau masalah, serta melatih peserta didik dalam berpikir dengan ilmiah.
b. Karakteristik Bidang Studi PKn
Bidang studi PKn merupakan suatu bidang kajian ilmiah dan program pendidikan sekolah dan diterima sebagai wahana utama dalam esensi pendidikan demokrasi di Indonesia. Dalam paradigma baru bidang studi PKn terdapat beberapa karakteristik, yaitu:
1)      Civic Intellegency, yaitu kecerdasan dan daya nalar warga negara yang baik dalam dimensi spiritual, rasional, emosional, maupun sosial.
2)      Civic Responsibility, yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
3)      Civic Participation, yaitu kemampuan berpartisipasi warga negara atas dasar tanggung jawabnya, baik secara individual, sosial, maupun sebagai pemimpin hari depan.
Karakteristik-karakteristik tersebut diwujudkan dalam tiga kelompok kompetensi dalam bidang studi PKn, yaitu:
1)      Kompetensi untuk menguasai pengetahuan kewarganegaraan;
-          Memahami tujuan pemerintah dan prinsip-prinsip dasar konstitusi pemerintah Republik Indonesia.
-          Mengetahui struktur, fungsi dan tugas pemerintah daerah dan nasional serta bagaimana keterlibatan warga negara membentuk kebijaksanaan publik.
-          Mengetahui hubungan Negara dan bangsa Indonesia dengan negara-negara dan bangsa-bangsa lain beserta masalah-masalah dunia dan atau internasional.
2)      Kompetensi untuk menguasai keterampilan kewarganegaraan;
-          Mengambil atau menetapkan keputusan yang tepat melalui proses pemecahan masalah dan inkuiri.
-          Mengevaluasi kekuatan dan kelemahan suatu isu tertentu.
-          Menentukan atau mengambil sikap guna mencapai suatu posisi tertentu.
-          Membela atau mempertahankan posisi bagi mengemukakan argumen yang  kritis, logis dan rasional.
-          Memaparkan suatu informasi yang penting pada khalayak umum.
-          Membangun koalisi, kompromi, negosiasi, dan consensus (demokrasi).
3)      Kompetansi untuk menguasai karakter kewarganegaraan;
-          Memberdayakan dirinya sebagai warga Negara yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab untuk berpartisipasi secara efektif dan efisien dalam berbagai aktivitas masyarakat, politik, dan pemerintahan pada semua tingkat (daerah dan nasional).
-          Memahami bagaimana warga Negara melaksanakan peranan, hak, dan tanggung jawab personal untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat pada semua tingkatan (daerah dan nasional).
-          Memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai budi pekerti, demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Nasionalisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
-          Memahami dan menerapkan prinsip-prinsip hak asasi manusia dalam kehidupan sehari-hari.

2.      a. Hakikat, Fungsi, dan Tujuan bidang studi PKn
Hakikat bidang studi PKn :
Dalam kurikulum 2004 (Depdiknas, 2003) menyatakan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter seperti yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Fungsi bidang studi PKn :
1)      sebagai sarana pembinaan watak bangsa (National Character Building) dan pemberdayaan warga negara. (Depdiknas, 2006)
2)      Mengembangkan dan melestarikan nilai, moral pancasila secara dinamis dan terbuka dalam artian bahwa nilai moral mampu menjawab tantangan yang terjadi di masyarakat tanpa kehilangan jati diri bangsa yang merdeka dan berdaulat.
3)      Mengembangkan dan membina manusia Indonesia seutuhnya yang sadar politk dan konstitusi Negara kesatuan Republik Indonesia berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
4)      Membina pemahaman dan kesadaran terhadap hubungan antar warga Negara dan Negara.
Tujuan Bidang studi PKn :
Guna meningkatkan dan pengembangan kemampuan bagi peserta didik dalam memahami, menghayati, dan meyakini nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga menjadi warga Negara yang baertanggung jawab dan dapat diandalkan serta memberi bekal kemampuan untuk belajar lebih lanjut dan sebagai kader bangsa yang diharapkan.
Sedangkan menurut Depdiknas (2006), tujuan PKn adalah untuk mengembangkan potensi agar siswa 1) memiliki kemampuan berpikir rasional, kritis, kreatif, shingga mampu memahami berbagai wacana kewarganegaraan, 2) memiliki keterampilan intelektual secara demokratis dan bertanggung jawab, 3) memiliki watak dan kepribadian sessuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
b. Alasan Bidang Studi PKn disebut pembentukan Pola Sikap bagi karakter bangsa adalah karena bidang studi PKn membuat peserta didik memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajiban untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dimanfaatkan oleh pancasila dan UUD 1945.
Hal ini bisa tercermin dari konsep dan moral hukum serta politik yang ditanamkan oleh guru kepada peserta didik melalui proses belajar mengajar sehingga peserta didik menjadi melek politik dan akan terbentuklah karakter bangsa berdasarkan teoritik. Misalnya: dalam proses belajar menngajar dan kegiatan-kegiatan nyata di kelas, karena kelas merupakan tempat berlatih guna berpikir kritis dan berjiwa demokrasi secara reflektif, menghargai pendapat orang lain dan tidak memaksakan kehendak pribadi pada orang lain.
Bidang studi PKn sebagai pendidikan politik diharapkan dapat membantu siswa untuk melek hukum dalam arti siswa mengetahui arti kehidupan sebagai warga negara yang taat pada hokum yang ditentukan oleh negara. Bidang studi PKn tidak hanya mendidik peserta didik guna memiliki pengetahuan dan keterampilan terhadap apa yang menjadi hak dan kewajiban, namun dapat memecahakan sekaligus menanggulangi semua bentuk permasalahan dalam kehidupannya sehari-hari di lingkungan sekitarnya.
Selain itu, Cogan and Derricott (1998:18) juga mempertegas hal ini dan mengatakan bahwa warga negara adalah anggota sutu masyarakat. Dengan kata lain, untuk menjadi warga Negara yang berkarakter mesti didik melalui pendidikan kewarganegaraan.
c. Peran metode, media, dan evaluasi bidang studi PKn yang dilandasi peran ranah afektif
Ranah  afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Menururt Popham (1995), ranah afektif  menentukan keberhasilan belajar seseorang. Oleh karena itu semua guru harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik belajar pelajaran yang menjadi tanggungjawab guru. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Masalah afektif  dirasakan penting oleh semua orang, namun implementasinya masih kurang. Hal ini disebabkan merancang pencapaian tujuan pembelajaran afektif tidak semudah seperti pembelajaran kognitif. Oleh karena itu, sekolah harus merancang pengalaman belajar peserta didik yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif  dapat dicapai. Dalam pelaksanaannya, diperlukan dukungan dari metode pembelajaran, media pembelajaran, serta evaluasi atau penilaian yang digunakan agar pengalaman belajar peserta didik dan tujuan pembelajaran bisa tercapai.
Banyak sekali metode dan media pembelajaran yang bisa digunakan untuk mendukung pencapaian pengalaman belajar peserta didik, seperti : metode simulasi, bermain peran, demonstrasi, observasi, diskusi, dramatisasi, latihan, percobaan, dan pengalaman lapangan. Kesemua metode pembelajaran ini bisa diterapkan untuk mendukung pencapaian pengalaman siswa.
Selain metode, media juga dibutuhkan dam pembelajaran PKn. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, media berperan sebagai alat bantu yang akan meningkatkan proses kmudahan, kelancaran, dan keberhasilan pembelajaran. Media pembelajaran PKn bisa diambil dari mana saja. Utamanya yang lebih dekat atau nyata dengan peserta didik, seperti kegiatan dan lingkungannya.
Dan yang terakhir adalah penilaian atau evaluasi yang menekankan pada ranah afektif, penilaian berperan sebagai 1) tolak ukur bagi pengetahuan moral peserta didik dan sekaligus menunjukkan kecendderungan yang kuat bagi sikap dan tindakannya. 2) media klasifikasi dalam mengungkap dan memperkokoh nilai, moral, dan norma yang baik. 3) Media redukasi, terutama yang menyangkut proses maupun hasil.
3.      Sistem pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran di kelas
Prinsip pembelajaran konstruktivisme yang berorientasi pada masalah dan tantangan akan menghasilkan sikap mental profesional yang disebut researchmendedness dalam pola pikir peserta didik, sehingga pembelajaran selalu menarik dan menyenangkan. Model pembelajaran konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya.
Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga diperlukan perubahan/modifikasi struktur kognitif untuk mencapai keseimbangan, peristiwa ini akan terjadi secara berkelanjutan, selama siswa menerima pengetahuan baru.
Perolehan pengetahuan siswa diawali dengan diadopsinya hal baru sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, kemudian hal baru tersebut dibandingkan dengan konsepsi awal yang telah dimiliki sebelumnya. Jika hal baru tersebut tidak sesuai dengan konsepsi awal siswa, maka akan terjadi konflik kognitif yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan dalam struktur kognisinya. Pada kondisi ini diperlukan alternatif strategi lain untuk mengatasinya.
Berdasarkan pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model konstruktivisme dalam pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental, membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang dimilikinya. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar dan mengajar lebih berfokus terhadap suksesnya siswa mengorganisasi pengalaman mereka.
Kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun sendiri pengetahuannya. Siswa mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari, ini merupakan proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dalam pikiran mereka. Model pembelajaran konstruktivisme meliputi empat tahapan yaitu :
a. Tahapan pertama adalah apersepsi, pada tahap ini dilakukan kegiatan menghubungkan konsepsi awal, mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dari materi sebelumnya yang merupakan konsep prasyarat.
b. Tahap kedua adalah eksplorasi, pada tahap ini siswa mengungkapkan dugaan sementara terhadap konsep yang mau dipalajari. Kemudian siswa menggali menyelidiki dan menemukan sendiri konsep sebagai jawaban dari dugaan sementara yang dikemukakan pada tahap sebelumnya, melalui manipulasi benda langsung.
c. Tahap ketiga, diskusi dan penjelasan konsep, pada tahap ini siswa mengkomunikasikan hasil penyelidikan dan tamuannya, pada tahap ini pula guru menjadi fasilitator dalam menampung dan membantu siswa membuat kesepakatan kelas, yaitu setuju atau tidak dengan pendapat kelompok lain serta memotifasi siswa mengungkapkan alasan dari kesepakatan tersebut melalui kegiatan tanya jawab.
d. Tahap keempat, pengembangan dan aplikasi, pada tahap ini guru memberikan penekanan terhadap konsep-konsep esensial, kamudian siswa membuat kesimpulan melalui bimbingan guru dan menerapkan pemahaman konseptual yang telah diperoleh melalui pembelajaran saat itu melalui pengerjaan tugas.
Dengan diterapkannya pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran PKn, diharapkan dapat membantu siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan lebih memahami penjelasan guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Juga diharapkan dapat mendorong munculnya pendidikan yang demokratis.
4.      Ciri-ciri Guru dengan Kemampuan Inkuiri
Inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Pembelajaran inkuiri beriorientasi pada keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.
Ada tiga ciri pembelajaran inkuiri, yaitu pertama, Strategi Inquiry menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan (siswa sebagai subjek belajar). Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis.
Menurut Sanjaya (2009), dalam menggunakan pendekatan inkuiri guru harus harus memperhatikan beberapa prinsip yang mana prinsip-prinsip tersebut menjadi acuan atau kompetensi yang harus bisa dilakukan oleh guru agar tujuan pembelajaran inkuiri bisa tercapai, antara lain:
a. Berorientasi pada pengembangan intelektual. Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian , strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunkan strategi inquiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan.
b. Prinsip Interaksi, Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
 c. Prinsip Bertanya, Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan model inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir.
d. Prinsip Belajar, untuk Berpikir Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.
e. Prinsip Keterbukaan, Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
Selasa, 22 November 2011 0 komentar

Hanya Senja


                      Terkadang aku selalu ingin seperti mentari,         
Selalu kembali dengan senyum membagikan cahayanya walaupun mereka mengeluhkan teriknya
Terkadang aku selalu ingin seperti hujan,
Selalu dengan setianya membagikan setiap tetesan airnya yang sangat bermanfaat
Walaupun mereka selalu mengutuki  banjir yang muncul kemudian
Terkadang aku selalu ingin seperti rembulan,
Selalu dengan anggunnya  menerangi malam, menggantikan matahari
Walaupun kini hadirnya sedikit dilupakan oleh sorot lampu-lampu lebih menyilaukan mata
Terkadang aku selalu ingin seperti bintang,
Selalu dengan telatennya menunjukkan arah bagi mereka yang tersesat dalam gelap
Walaupun kini magnet-magnet lebih menarik mereka untuk kembali ke arah mana mereka menuju
Namun,
Aku hanyalah sepotong senja
Senja yang hanya bisa menjadi senja
Senja yang kadang mengubah langit dari biru menjadi kelabu
Senja yang kadang mengubah siang yang cerah menjadi malam yang penuh petir
Senja yang kadang penuh lembayung dan cantik
tapi kadang gelap dan menakutkan
Sesaat
Dan terlupakan
Selasa, 15 November 2011 3 komentar

Cerpen: Untuk Senin Pagi, Untuk Merah Putih-ku


Senin pagi, matahari bersinar dengan hangatnya. Burung-burung berkicau riang menyambut hangat pagi ini. Namun, tidak demikian dengan Dinda. Gadis berkuncir dua itu selalu saja enggan menyambut hari Senin.
“Selalu harus cepat-cepat segalanya!” katanya dengan wajah cemberut.
“Dinda sayang. Ayo cepat ganti bajunya. Nanti telat upacara.” panggil Bunda.
“Tuh kan? Selalu harus cepat-cepat!” gerutu Dinda.
“Dinda sayang. Ayo cepat sarapan!” panggil Bunda lagi.
“Iya Bunda” jawab Dinda seraya menuju  meja makan.
Sesampainya di meja makan, terlihat ayah, bunda dan kak Raka telah siap sarapan. Melihat Dinda telah bergabung untuk sarapan, ayah memimpin doa sebelum makan. Kemudian mereka pun sarapan bersama. Sarapan pagi sangatlah penting agar kita bisa menjalani aktivitas dengan baik sepanjang hari.
Dinda makan dengan bermalas-malasan. Ketika ayah, bunda, dan kak Raka sudah selesai makan, Dinda masih menyisakan banyak makanan di piringnya.
“Dinda, cepetan dong makannya. Telat nanti!” kak Raka menegur Dinda.
“Iya sayang. Ayo dihabiskan makanannya” kata Ayah.
Dinda lagi-lagi kesal karena harus cepat-cepat.
“Bentaran dulu dong! Nanti keselek kalo cepet-cepet makannya.” Dinda membela diri.
“Ini kan hari senin, sayang. Nanti telat lho.”kata Bunda mengingatkan.
“Kenapa sih setiap hari Senin itu harus buru-buru?” Dinda semakin cemberut.
“Kan upacara Dinda. Cepat makannya! Kakak telat nih bisa-bisa” kak Raka sedikit menggertak Dinda.
“Kenapa juga mesti upacara? Padahal kan cuma pegel-pegelan berdiri, hormat ke bendera, terus dengerin Pembina ngobrol di depan. Panas lagi!”gerutu Dinda sambil mengunyah suapan nasi gorengnya yang terakhir.
“Ya daripada dihukum sama guru? Hayo pilih mana. Udah cepetan makannya!” kak Raka semakin kesal pada Dinda.
“Udah. Nanti di mobil ayah jelaskan kenapa hari Senin harus pagi-pagi dan kenapa harus upacara. Ayo sekarang kita berangkat.” Kata ayah seraya mengajak putra-putrinya menuju aktivitas mereka.
Setelah berpamitan dengan Bunda yang berangkat belakangan, ayah, kak Raka, dan Dinda pun berangkat.
“Dadah Bunda. Assalamualaikum.” teriak Dinda dari balik kaca jendela mobil.
“Waalaikumsalam warohmatulloh. Hati-hati. Belajar yang rajin ya!” jawab bunda.
Belum 5 meter keluar dari garasi rumah, Dinda kembali berceloteh.
“Ayo katanya ayah mau menjelaskan yang tadi!” kata Dinda.
“Menjelaskan apa, Sayang?” ayah pura-pura lupa akan janjinya.
“Ih ayah yah! Pikun! Itu yang tadi pas sarapan.” kata Dinda dengan wajah cemberut.
Ayah hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu.
“Apa coba yang pas sarapan itu?” ayah malah semakin senang menggoda Dinda.
“Ih ayah… Itu yang tadi. Yang upacara itu.” kata Dinda dengan gemas.
“Oh yang itu. Kakak dan Dinda mau mendengarkan cerita ayah?”tanya ayah sebelum memulai menjelaskan.
“Mau!” serempak kak Raka dan Dinda menjawab pertanyaan Ayah.
“Oke. Sambil bercerita ayah maumenyetel lagu yah?”kata ayah seraya menyalakan MP3 Player. Dan terdengarlah alunan lagu “Berkibalah Benderaku” ciptaan Ibu Sud.
“Ah Ayah. Masa lagu yang begini! ST12 aja Yah.” protes kak Raka begitu mendengar lagu yang diputar ayah.
Ayah geleng-geleng kepala mendengar protes dari kak Raka dan seraya bergumam dalam hati “anakku mulai beranjak remaja”. Kemudian ayah menjawab:
“Kita kan mau bercerita tentang upacara. Jadi lagunya ini dulu, ST12-nya nanti lagi yah, kakak?”
Kak Raka hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian ayah memulai ceritanya tentang upacara.
“Tadi, Dinda bertanya yah “kenapa kalau hari Senin itu segalanya harus cepat-cepat?”, “kenapa hari Senin harus upacara”” kata ayah seraya menirukan suara Dinda.
Dinda dan kak Raka hanya tersenyum mendengar dan memperhatikan ayah yang menirukan Dinda yang masih kecil.
“Nah, ayah jawab satu-satu yah. Sebenarnya, bukan  hari Senin saja kita harus cepat-cepat, cepat-cepat bangun pagi,cepat-cepat mandi, shalat subuh  harus setiap hari, cepat-cepat sarapan juga harus setiap hari, bukan hari Senin saja, bukan juga karena upacara. Tapi, karena kita harus disiplin, tepat waktu. Coba kalau Dinda atau kak Raka bangunnya tidak cepat-cepat, pasti bakalan telat sahalat Subuh, telat sarapan, telat masuk sekolah, dan nanti dihukum sama ibu atau bapak guru. Iya gak?” kata  ayah.
Dinda dan kak Raka hanya mnegangguk-anggukkan kepala mereka tanda setuju dan menunggu penjelasan selanjutnya dari ayah tersayang.
“Jadi, bukan hanya hari Senin saja yah kalian harus cepat-cepat bangun,  sarapan dan berangkat sekolah. Tapi setiap hari. Oke?” Tanya Ayah yang dijawab dengan kata “oke” serempak dari mereka.
“Terus, yang kedua, “kenapa yah hari Senin itu harus upacara?”” lanjut Ayah.
“Tadi kata kakak biar gak dihukum ibu guru.” celetuk Dinda menjawab pertanyaan Ayahnya.
“Hehe. Iya benar. Salah satunya upacara supaya tidak dimarahi ibu guru. Tapi, sebenarnya bukan itu.” kata ayah lagi.
“Terus kenapa ayah?” tanya kak Raka yang penasaran jawabannya masih salah.
“Upacara itu untuk menghargai jasa pahlawan. Udah belajar kan tentang para pahlawan, ada Cut Nyak Dien, Pattimura, Otto Iskandardinata, masih inget gak?”
“Iya yah masih inget. Yang sampai meninggal berperang memerdekakan Indonesia yah?” kata Raka yang duduk di kelas 5.
“Iya betul. Nah, perjuangan mereka itu salah satunya untuk mengibarkan bendera merah putih yang menjadi tanda Negara kita. Susah lho perjuangannya. Dulu kalo membawa bendera merah putih dan ketauan Belanda bisa dibunuh. Maka, sekarang setelah merdeka, bendera itu selalu dikibarknan setiap hari Senin dalam upacara bendera,  atau saat uapacara-upacara lain. Agar kita selalu ingat pada para pahlawan yang telah membuat bangsa kita merdeka dan bebas dari penjajah yang kejam. Dan saat upacara juga kan ada yang namanya mengheningkan cipta, nah saat mengheningkan cipta iu, kita mendoakan para pahlawan agar menjadi syuhada-syuhada dan mendapat surga Allah. Bagaimana?” Ayah mengakhiri cerita panjang lebarnya dengan menatap kedua buah hatinya yang serius menanggapi ceritanya.
Kedua buah hatinya terlihat terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Jadi, upacara itu bukan karena takut pada ibu bapak guru yah, tapi untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bagi kita dan mendoakan merka. Oke?”kata Ayah menarik kesimpulan dari penjelasannya.
“Oke ayah” jawab mereka serempak.
“Dinda gak boleh telat upacara ya, Yah? Supaya Dinda bisa mendoakan para pahlawan.” kata Dinda.
“Iya. Kakak juga gak boleh main-main saat upacara. Susah payah benderanya bisa dikibarkan, masa kakak main-main. Apa kata dunia?” kata kak Raka sambil meniru gaya iklan.
“Hehehe. Anak ayah pinter-pinter semuanya! Dan jangan lupa juga, kakak dan dinda harus rajin belajar supaya penter, supaya bangsa kita tidak dijajah lagi. Dan benderanya tetap bisa berkibar dengan gagah. Oke?” kata ayah mengakhiri diskusi kecil mereka pagi itu Karena gerbang sekolah keduanya telah terlihat.

Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa 
 
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah Slama-lamanya


                                                                                              In my room, November 14th 2011
09.58 pm
Senin, 14 November 2011 0 komentar

Kultwit Dari Mbak Asma Nadia

Seperti biasa, liburan pasti diisi dengan melototin beranda fesbuk atau tweet's yang berjalan di timeline twitter. Dan jreng...jreng...jreng... hari Minggu ini dapet "sesuatu" dari tweet's itu. Utamanya dari seorang penulis favorit saya, mbak Asma Nadia. Kebetulan pas login disambut dengan kultwit dari beliau. Yuhuuuuuuuu. Dan inilah kultwit-nya mbak Asma Nadia kemarin tentang tips #writing. Cekidot.
Tips 1 #writing cari cara untuk selalu mencatat setiap ide menarik.
Tips 2 #writing: temukan bentuk tulisan. Apakah akan dibuat dari A-Z alurnya linear biasa. Atau dimulai dari klimaks, bahkan akhir cerita.
Tips 3 #writing: Buat outline sederhana bagaimana tulisan akan bergerak. Bukan keharusan tapi akan sangat membantu bagi pemula.
Tips 4 #writing : Buat opening yang memikat. Hindari lead cerita yang biasa-biasa aja. Be creative!
Tips 5 #writing : Beri nyawa pada tokoh-tokohmu. 
Tips 6 #writing : Garap setting (waktu/tempat) untuk memperkuat cerita. Beri warna lokal sesuai kebutuhan. Tips 7 #writing: kenapa sebuah cerita hambar atau terasa monoton, karena tidak ada konflik/konflik tidak tergarap! Perhatikan konflikmu.
Tips 8 #writing: olah setiap unsur cerita dengan sabar. Beri perhatian pada detail yang harus dimunculkan agar logika cerita mantap.
Tips 9 #writing hindari kebetulan dalam cerita, kecuali bisa dipertanggungjawabkan. Khususnya untuk penyelesaian cerita.
Tips 10 #writing : saring dialog, buang yang tidak berfungsi. 
Tips 11 #writing : temukan formula ending yang pas, tanpa harus berpanjang-panjang kalimat. 
Tips 12 #writing: tentang ending lagi, akhir cerita yang baik meninggalkan gema lebih lama di hati pembaca. Jangan sia-siakan ending.
Tips 13: batasi ego-mu sebagai penulis. Tokoh-tokoh muncul sesuai karakter dalam ceritamu, tokoh-tokoh itu bukan dirimu. 
Tips 14 #writing : mematikan tokoh untuk memberi kejutan dalam cerita... cari cara lain yang tidak klise. 
Tips 15 #writing : biasakan memulai dengan basmalah sebelum menulis, lalu mulailah menulis dengan hatimu.
Tips 16 #writing:belajar setia&bertanggung jawab bukan hanya dalam upaya sakinah bersamamu/berkeluarga, jg dlm menyelesaikan ceritamu.
Tips 17 #writing : menulis untuk diselesaikan. Never ever give up on your stories. Give them chance! 
Tips 18 #writing kegigihanmu dlm menyelesaikan cerita yg sudah kamu mulai mencerminkan kegigihanmu dlm menghadapi persoalan kehidupan
Tips 19 #writing : beri judul yang menarik untuk ceritamu 
Tips 20 #writing: menulis itu cara lain berbagi. Hilangkan ketakutan/tidak pede dan excuse lain dalam mengirim cerita ke media
 
;