Selasa, 22 November 2011 0 komentar

Hanya Senja


                      Terkadang aku selalu ingin seperti mentari,         
Selalu kembali dengan senyum membagikan cahayanya walaupun mereka mengeluhkan teriknya
Terkadang aku selalu ingin seperti hujan,
Selalu dengan setianya membagikan setiap tetesan airnya yang sangat bermanfaat
Walaupun mereka selalu mengutuki  banjir yang muncul kemudian
Terkadang aku selalu ingin seperti rembulan,
Selalu dengan anggunnya  menerangi malam, menggantikan matahari
Walaupun kini hadirnya sedikit dilupakan oleh sorot lampu-lampu lebih menyilaukan mata
Terkadang aku selalu ingin seperti bintang,
Selalu dengan telatennya menunjukkan arah bagi mereka yang tersesat dalam gelap
Walaupun kini magnet-magnet lebih menarik mereka untuk kembali ke arah mana mereka menuju
Namun,
Aku hanyalah sepotong senja
Senja yang hanya bisa menjadi senja
Senja yang kadang mengubah langit dari biru menjadi kelabu
Senja yang kadang mengubah siang yang cerah menjadi malam yang penuh petir
Senja yang kadang penuh lembayung dan cantik
tapi kadang gelap dan menakutkan
Sesaat
Dan terlupakan
Selasa, 15 November 2011 3 komentar

Cerpen: Untuk Senin Pagi, Untuk Merah Putih-ku


Senin pagi, matahari bersinar dengan hangatnya. Burung-burung berkicau riang menyambut hangat pagi ini. Namun, tidak demikian dengan Dinda. Gadis berkuncir dua itu selalu saja enggan menyambut hari Senin.
“Selalu harus cepat-cepat segalanya!” katanya dengan wajah cemberut.
“Dinda sayang. Ayo cepat ganti bajunya. Nanti telat upacara.” panggil Bunda.
“Tuh kan? Selalu harus cepat-cepat!” gerutu Dinda.
“Dinda sayang. Ayo cepat sarapan!” panggil Bunda lagi.
“Iya Bunda” jawab Dinda seraya menuju  meja makan.
Sesampainya di meja makan, terlihat ayah, bunda dan kak Raka telah siap sarapan. Melihat Dinda telah bergabung untuk sarapan, ayah memimpin doa sebelum makan. Kemudian mereka pun sarapan bersama. Sarapan pagi sangatlah penting agar kita bisa menjalani aktivitas dengan baik sepanjang hari.
Dinda makan dengan bermalas-malasan. Ketika ayah, bunda, dan kak Raka sudah selesai makan, Dinda masih menyisakan banyak makanan di piringnya.
“Dinda, cepetan dong makannya. Telat nanti!” kak Raka menegur Dinda.
“Iya sayang. Ayo dihabiskan makanannya” kata Ayah.
Dinda lagi-lagi kesal karena harus cepat-cepat.
“Bentaran dulu dong! Nanti keselek kalo cepet-cepet makannya.” Dinda membela diri.
“Ini kan hari senin, sayang. Nanti telat lho.”kata Bunda mengingatkan.
“Kenapa sih setiap hari Senin itu harus buru-buru?” Dinda semakin cemberut.
“Kan upacara Dinda. Cepat makannya! Kakak telat nih bisa-bisa” kak Raka sedikit menggertak Dinda.
“Kenapa juga mesti upacara? Padahal kan cuma pegel-pegelan berdiri, hormat ke bendera, terus dengerin Pembina ngobrol di depan. Panas lagi!”gerutu Dinda sambil mengunyah suapan nasi gorengnya yang terakhir.
“Ya daripada dihukum sama guru? Hayo pilih mana. Udah cepetan makannya!” kak Raka semakin kesal pada Dinda.
“Udah. Nanti di mobil ayah jelaskan kenapa hari Senin harus pagi-pagi dan kenapa harus upacara. Ayo sekarang kita berangkat.” Kata ayah seraya mengajak putra-putrinya menuju aktivitas mereka.
Setelah berpamitan dengan Bunda yang berangkat belakangan, ayah, kak Raka, dan Dinda pun berangkat.
“Dadah Bunda. Assalamualaikum.” teriak Dinda dari balik kaca jendela mobil.
“Waalaikumsalam warohmatulloh. Hati-hati. Belajar yang rajin ya!” jawab bunda.
Belum 5 meter keluar dari garasi rumah, Dinda kembali berceloteh.
“Ayo katanya ayah mau menjelaskan yang tadi!” kata Dinda.
“Menjelaskan apa, Sayang?” ayah pura-pura lupa akan janjinya.
“Ih ayah yah! Pikun! Itu yang tadi pas sarapan.” kata Dinda dengan wajah cemberut.
Ayah hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu.
“Apa coba yang pas sarapan itu?” ayah malah semakin senang menggoda Dinda.
“Ih ayah… Itu yang tadi. Yang upacara itu.” kata Dinda dengan gemas.
“Oh yang itu. Kakak dan Dinda mau mendengarkan cerita ayah?”tanya ayah sebelum memulai menjelaskan.
“Mau!” serempak kak Raka dan Dinda menjawab pertanyaan Ayah.
“Oke. Sambil bercerita ayah maumenyetel lagu yah?”kata ayah seraya menyalakan MP3 Player. Dan terdengarlah alunan lagu “Berkibalah Benderaku” ciptaan Ibu Sud.
“Ah Ayah. Masa lagu yang begini! ST12 aja Yah.” protes kak Raka begitu mendengar lagu yang diputar ayah.
Ayah geleng-geleng kepala mendengar protes dari kak Raka dan seraya bergumam dalam hati “anakku mulai beranjak remaja”. Kemudian ayah menjawab:
“Kita kan mau bercerita tentang upacara. Jadi lagunya ini dulu, ST12-nya nanti lagi yah, kakak?”
Kak Raka hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian ayah memulai ceritanya tentang upacara.
“Tadi, Dinda bertanya yah “kenapa kalau hari Senin itu segalanya harus cepat-cepat?”, “kenapa hari Senin harus upacara”” kata ayah seraya menirukan suara Dinda.
Dinda dan kak Raka hanya tersenyum mendengar dan memperhatikan ayah yang menirukan Dinda yang masih kecil.
“Nah, ayah jawab satu-satu yah. Sebenarnya, bukan  hari Senin saja kita harus cepat-cepat, cepat-cepat bangun pagi,cepat-cepat mandi, shalat subuh  harus setiap hari, cepat-cepat sarapan juga harus setiap hari, bukan hari Senin saja, bukan juga karena upacara. Tapi, karena kita harus disiplin, tepat waktu. Coba kalau Dinda atau kak Raka bangunnya tidak cepat-cepat, pasti bakalan telat sahalat Subuh, telat sarapan, telat masuk sekolah, dan nanti dihukum sama ibu atau bapak guru. Iya gak?” kata  ayah.
Dinda dan kak Raka hanya mnegangguk-anggukkan kepala mereka tanda setuju dan menunggu penjelasan selanjutnya dari ayah tersayang.
“Jadi, bukan hanya hari Senin saja yah kalian harus cepat-cepat bangun,  sarapan dan berangkat sekolah. Tapi setiap hari. Oke?” Tanya Ayah yang dijawab dengan kata “oke” serempak dari mereka.
“Terus, yang kedua, “kenapa yah hari Senin itu harus upacara?”” lanjut Ayah.
“Tadi kata kakak biar gak dihukum ibu guru.” celetuk Dinda menjawab pertanyaan Ayahnya.
“Hehe. Iya benar. Salah satunya upacara supaya tidak dimarahi ibu guru. Tapi, sebenarnya bukan itu.” kata ayah lagi.
“Terus kenapa ayah?” tanya kak Raka yang penasaran jawabannya masih salah.
“Upacara itu untuk menghargai jasa pahlawan. Udah belajar kan tentang para pahlawan, ada Cut Nyak Dien, Pattimura, Otto Iskandardinata, masih inget gak?”
“Iya yah masih inget. Yang sampai meninggal berperang memerdekakan Indonesia yah?” kata Raka yang duduk di kelas 5.
“Iya betul. Nah, perjuangan mereka itu salah satunya untuk mengibarkan bendera merah putih yang menjadi tanda Negara kita. Susah lho perjuangannya. Dulu kalo membawa bendera merah putih dan ketauan Belanda bisa dibunuh. Maka, sekarang setelah merdeka, bendera itu selalu dikibarknan setiap hari Senin dalam upacara bendera,  atau saat uapacara-upacara lain. Agar kita selalu ingat pada para pahlawan yang telah membuat bangsa kita merdeka dan bebas dari penjajah yang kejam. Dan saat upacara juga kan ada yang namanya mengheningkan cipta, nah saat mengheningkan cipta iu, kita mendoakan para pahlawan agar menjadi syuhada-syuhada dan mendapat surga Allah. Bagaimana?” Ayah mengakhiri cerita panjang lebarnya dengan menatap kedua buah hatinya yang serius menanggapi ceritanya.
Kedua buah hatinya terlihat terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Jadi, upacara itu bukan karena takut pada ibu bapak guru yah, tapi untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan bagi kita dan mendoakan merka. Oke?”kata Ayah menarik kesimpulan dari penjelasannya.
“Oke ayah” jawab mereka serempak.
“Dinda gak boleh telat upacara ya, Yah? Supaya Dinda bisa mendoakan para pahlawan.” kata Dinda.
“Iya. Kakak juga gak boleh main-main saat upacara. Susah payah benderanya bisa dikibarkan, masa kakak main-main. Apa kata dunia?” kata kak Raka sambil meniru gaya iklan.
“Hehehe. Anak ayah pinter-pinter semuanya! Dan jangan lupa juga, kakak dan dinda harus rajin belajar supaya penter, supaya bangsa kita tidak dijajah lagi. Dan benderanya tetap bisa berkibar dengan gagah. Oke?” kata ayah mengakhiri diskusi kecil mereka pagi itu Karena gerbang sekolah keduanya telah terlihat.

Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa 
 
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah Slama-lamanya


                                                                                              In my room, November 14th 2011
09.58 pm
Senin, 14 November 2011 0 komentar

Kultwit Dari Mbak Asma Nadia

Seperti biasa, liburan pasti diisi dengan melototin beranda fesbuk atau tweet's yang berjalan di timeline twitter. Dan jreng...jreng...jreng... hari Minggu ini dapet "sesuatu" dari tweet's itu. Utamanya dari seorang penulis favorit saya, mbak Asma Nadia. Kebetulan pas login disambut dengan kultwit dari beliau. Yuhuuuuuuuu. Dan inilah kultwit-nya mbak Asma Nadia kemarin tentang tips #writing. Cekidot.
Tips 1 #writing cari cara untuk selalu mencatat setiap ide menarik.
Tips 2 #writing: temukan bentuk tulisan. Apakah akan dibuat dari A-Z alurnya linear biasa. Atau dimulai dari klimaks, bahkan akhir cerita.
Tips 3 #writing: Buat outline sederhana bagaimana tulisan akan bergerak. Bukan keharusan tapi akan sangat membantu bagi pemula.
Tips 4 #writing : Buat opening yang memikat. Hindari lead cerita yang biasa-biasa aja. Be creative!
Tips 5 #writing : Beri nyawa pada tokoh-tokohmu. 
Tips 6 #writing : Garap setting (waktu/tempat) untuk memperkuat cerita. Beri warna lokal sesuai kebutuhan. Tips 7 #writing: kenapa sebuah cerita hambar atau terasa monoton, karena tidak ada konflik/konflik tidak tergarap! Perhatikan konflikmu.
Tips 8 #writing: olah setiap unsur cerita dengan sabar. Beri perhatian pada detail yang harus dimunculkan agar logika cerita mantap.
Tips 9 #writing hindari kebetulan dalam cerita, kecuali bisa dipertanggungjawabkan. Khususnya untuk penyelesaian cerita.
Tips 10 #writing : saring dialog, buang yang tidak berfungsi. 
Tips 11 #writing : temukan formula ending yang pas, tanpa harus berpanjang-panjang kalimat. 
Tips 12 #writing: tentang ending lagi, akhir cerita yang baik meninggalkan gema lebih lama di hati pembaca. Jangan sia-siakan ending.
Tips 13: batasi ego-mu sebagai penulis. Tokoh-tokoh muncul sesuai karakter dalam ceritamu, tokoh-tokoh itu bukan dirimu. 
Tips 14 #writing : mematikan tokoh untuk memberi kejutan dalam cerita... cari cara lain yang tidak klise. 
Tips 15 #writing : biasakan memulai dengan basmalah sebelum menulis, lalu mulailah menulis dengan hatimu.
Tips 16 #writing:belajar setia&bertanggung jawab bukan hanya dalam upaya sakinah bersamamu/berkeluarga, jg dlm menyelesaikan ceritamu.
Tips 17 #writing : menulis untuk diselesaikan. Never ever give up on your stories. Give them chance! 
Tips 18 #writing kegigihanmu dlm menyelesaikan cerita yg sudah kamu mulai mencerminkan kegigihanmu dlm menghadapi persoalan kehidupan
Tips 19 #writing : beri judul yang menarik untuk ceritamu 
Tips 20 #writing: menulis itu cara lain berbagi. Hilangkan ketakutan/tidak pede dan excuse lain dalam mengirim cerita ke media
Minggu, 18 September 2011 0 komentar

Menggali Model Kecerdasan dari Al-Qur’an by Dedy Kurniawan



Menggali Model Kecerdasan dari Al-Qur’an
by Dedy Kurniawan on Monday, May 2, 2011 at 5:07pm

Penggalian model-model kecerdasan untuk mempercepat proses berpikir, masih terus dilakukan para ahli di bidangnya. Setelah ditemukan belahan otak kanan dan otak kiri, kini ditemukan lagi pilahan otak tengah. Penemuan-penemuan tersebut dimaksudkan untuk mempercepat proses kecerdasan tersebut. Lalu, adakah model-model kecerdasan yang bisa digali dari al-Qur’an? “Kecerdasan otak hanya bagian kecil dari seluruh totalitas kecerdasan manusia. Dalam bahasa agama kita mengenal istilah qalbun salim dan aqlun dzakiyyun… hati dan akal yang tercerahkan,” tutur Ilung S. Enha, Penulis buku Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan kepada Dedy Kurniawan dan Ahmad Suprianto dari JENDELA SANTRI. Berikut petikan wawancara selengkapnya.

Penemuan model-model kecerdasan untuk mempercepat proses berpikir, makin digandrungi masyarakat. Lantas, apakah di dalam al-Qur’an sendiri ada tawaran tentang model-model kecerdasan tersebut?
Ada dua ratus lebih ayat al-Qur’an yang menginspirasikan tentang kecerdasan. Di dalamnya banyak sekali model-model kecerdasan selain IQ, EQ dan SQ yang belum sanggup kita gali. Jika para cerdik-cendekia Muslim mau menggalinya, maka kita akan mengerti jika IQ, EQ dan SQ itu hanyalah merupakan sebagian kecil dari model kecerdasan yang diinspirasikan oleh al-Qur’an.

Bisa disebutkan sebagian dari model-model kecerdasan tersebut?
Sebut saja misalnya fu’ad (IQnya hati). Ini adalah merupakan potensi qalb yang bertanggung jawab pada masalah-masalah rasionalitas. Jika otak rasionalitas kognitif manusia dapat “menipu”, namun fu’âd senantiasa berpikir dengan kejujuran dan merujuk pada realitas yang objektif. Meminjam idiom al-Qur’an, fu’ad itu tidak mendustakan apa yang dilihat (QS. an-Najm: 11). Juga potensi kecerdasan lainnya seperti dzauq (intuisi), aql (akal), qalb (hati), shadr (EQnya hati), bashirah (SQnya hati), lubb (ketajaman inti hati) dan ruh (totalitas kecerdasan). Hanya lantaran istilah-istilah al-Qur’an tersebut belum sanggup diterjemahkan ke dalam bahasa sains, sehingga umat Islam lebih gemar mengekor ke pengetahuan neurologi Barat tanpa merujuknya dengan al-Qur’an.

Bukankah selama ini mereka sudah mengkomparasikannya dengan al-Qur’an?
Yang selama ini terjadi bukanlah mengkomparasikan, melainkan justru menjustifikasi kebenaran neurologi Barat tersebut dengan ayat-ayat al-Qur’an. Ini sudah menjadi tradisi para cerdik-cendekia kita yang hingga kini masih belum juga berubah. Jadi, yang namanya psikologi Islam adalah pengetahuan psikologi Barat yang ditambah dengan dalil-dalil dari al-Qur’an. Begitu pun dengan metodologi dan teori-teori pendidikan Islam, itu teori pendidikan Barat yang ditambah dalil-dalil al-Qur’an. Begitupun dengan IQ, EQ dan SQ, agar tampak islami lantas kita carikan dalil-dalil al-Qur’an atau al-Hadits untuk mendukungnya.

Ambil SQ misalnya, bukankah dalam al-Qur’an sendiri memang banyak ayat yang menjelaskan tentang masalah-masalah yang ruhaniah?
Nah, kan? Dengan begitu entengnya kita mentransliterasi istilah spiritualitas dengan ruhaniah. Kita memang terbiasa latah mempadankatakan istilah-istilah yang sebenarnya tidak sama maknanya. Seperti ketika kita menyebut kata jasmani-ruhani. Kata ruhani di situ kerapkali kita maknai dengan jiwa. Padahal jiwa dalam al-Qur’an disebut dengan idiom nafs. Sehingga kata jasmani-ruhani seharusnya bukan diterjemahkan sebagai jasad dan jiwa, melainkan jasad dan ruh. Dan kata ruh sendiri tak bisa kita samakan dengan kata spirit dalam terminologi Barat.

Lho.. bukankah padan kata spiritualitas itu adalah ruhaniah?
Neurosains Barat menjelaskan spiritualitas itu bersarang di otak manusia. Sedangkan ruhaniah itu beroperasi di wilayah ruh. Jadi.. spiritualitas dalam terminologi Barat sangat berlainan dengan kata ruhaniah yang dimaksud oleh al-Qur’an. Menurut persepsi Barat, orang yang humanis, liberal, atau bahkan atheis sekalipun, mereka bisa mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi. Sedangkan menurut al-Qur’an, tak mungkin seseorang yang mengingkari eksistensi Tuhan bisa mencapai tingkat ruhaniah yang tinggi.

Jadi arti dari istilah spirit itu sendiri...
Jika kita merujuk pada kata aslinya, itu dekat dengan pengertian al-Qur’an. Kata spirit diambil dari kata spiritus yang diadopsi Barat dari Yunani. Kata spiritus memiliki makna ruh. Tapi Barat rupanya kurang konsisten dalam memaknainya, sehingga SQ lebih didefinisikan sebagai sesuatu yang menghidupkan, semangat hidup atau nafas kehidupan dengan tanpa sama sekali merujuk pada ruh. Jadi.. ketika manusia merespon insting keberagamaan, dipahami oleh Barat itu karena aktivitas God Spot yang terletak di lobus temporal dan bukan sesuatu yang bersifat ruhani. Sedangkan menurut al-Qur’an, kecerdasan yang bersifat ruhaniah tersebut bersarang di hati manusia dan bukan di otak. Sebab dengan hati yang senantiasa tercerahkan, maka seseorang akan selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

Lantas, di mana sebenarnya posisi IQ, EQ dan SQ sendiri dalam ranah al-Qur’an?
Kalau ketiganya dipersepsi dengan terminologi Barat, maka ketiganya masuk dalam ruang al-fikr yang di al-Qur’an diungkapkan dengan idiom fakkara, yatafakkaru, tatafakkaru atau yang senada dengan itu. Sebab Barat memahami IQ, EQ dan SQ merupakan aktivitas dari kinerja otak. IQ dan EQ mereka pahami sebagai kinerja dari otak kognitif dan otak intuitif. Begitu juga dengan SQ yang mereka jelaskan sebagai aktivitas dari noktah otak yang mereka sebut sebagai God Spot. Jadi ketiga-tiganya bersarang di otak manusia.

Lalu… bagaimana kita bisa menjelaskan model-model kecerdasan yang diinspirasikan al-Qur’an itu sehingga dianggap masuk akal oleh masyarakat?
Nah, istilah akal. Kita kerapkali keliru dalam mempergunakan istilah tersebut. Akal itu bukanlah pikiran. Kalau pikiran itu al-fikr, tapi kalau akal itu al-aql. Pikiran itu hasil kinerja otak atau dimagh. Sedangkan akal itu merupakan kinerja dari hati. Di dalam al-Qur’an dengan jelas disebutkan lahum qulubun ya’qiluna biha (Surat al-Hajj: 46). Jadi, di hamparan hatilah akal bertempat dan bukan di tabung otak.

Berarti kecerdasan manusia itu tak hanya berproses di wilayah otak saja?
Betul! Kecerdasan otak hanya bagian kecil dari seluruh totalitas kecerdasan manusia. Dalam bahasa agama sendiri, kita mengenal istilah qalbun salim dan aqlun dzakiyyun… hati dan akal yang tercerahkan. Sebuah qalbun yang salim, di dalamnya tersimpan kumparan energi yang sangat luar biasa. Jika energi ini dapat kita kelola dengan baik dan benar serta berhasil mentransfernya ke ranah akal, maka akal akan berkembang menjadi aqlun dzakiyyun. Dan apabila kecemerlangan akal semodel ini yang men-support energi ke dalam rongga otak, tentu hasilnya adalah sebuah pencerahan pikiran yang sangat menakjubkan.

Jika di dalam al-Qur’an begitu banyak tawaran model kecerdasan, kenapa yang lebih dikenal umat Islam justru IQ, EQ dan SQ?
Karena selama ini umat Islam memang lebih gemar menjadi konsumen sains Barat ketimbang menjadi produsen pengetahuan yang digali sendiri dari kitab sucinya. Ketika orang-orang Barat menemukan SQ misalnya, kita dengan gegap gempita rebutan “membeli”nya dan langsung meramunya dengan dalil-dalil al-Qur’an untuk mendukungnya. Itulah yang membuat kita cuma sibuk mengelola pikiran, tanpa pernah menengok kecerdasan lain yang diinspirasikan oleh al-Qur’an. Padahal banyak sekali potensi kecerdasan selain pikiran, yang jika kita sanggup mengelolanya secara tepat akan terjadi lompatan percepatan proses kecerdasan yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Tapi… bukankah di dalam al-Qur’an banyak ayat yang memerintahkan kita untuk berpikir?
Kalau yang dimaksudkan berpikir itu merujuk pada ayat afalaa tatafakkarun atau yang seirama dengan itu, maka pengertiannya bisa kita perluas. Tatafakkarun di situ lebih pas diterjemahkan dengan tafakkur atau merenung, dan bukan sekedar berpikir rasional. Sebab berpikir rasional hanya membutuhkan elemen otak kognitif saja. Tetapi merenungkan atau tafakkur, selain menggunakan elemen otak kognitif, otak emosional, otak spiritual, juga dengan melibatkan hati dengan segala perangkatnya. Jadi tafakkur itu merupakan pertemuan dari akal pikiran dan akal hati. Sehingga elemen kecerdasan yang dipergunakan untuk merenung, disamping menggunakan IQ, EQ dan SQ, juga menggunakan perangkat kecerdasan dzauq, aql, shadr, fu’âd, qalb, bashîrah dan lubb.

Kalau tak salah mengerti, istilah-istilah yang Anda maksudkan itu operasinya di wilayah hati?
Benar.

Lantas bagaimana dengan kecerdasan yang beroperasi di wilayah ruh?
Di ruang pusat gravitasi energi ruh tak hanya menyimpan energi kecerdasan semata, melainkan juga energi kekuatan, energi kecermatan, energi percepatan, energi kesabaran, energi keikhlasan, energi gerak yang tiada kenal putus asa, energi niat dan kesungguhan, energi inovasi, energi hening dan kebeningan, serta sederet energi-energi lain yang bisa kita perpanjang sendiri. Di wilayah pusat energi ruh inilah, segala bentuk energi itu telah manunggal menjadi satu-kesatuan yang tak terpilahkan. Dengan benih energi inilah, apa yang saya sebut dengan Laduni Quotient (LQ) tumbuh dan berkembang. Mula-mula benih itu tertanam di kedalaman lubb. Lalu dipancarkan oleh bashîrah ke dalam ruangan qalb. Dari sana kemudian mengalir menuju fu’âd dan shadr. Lantas disambungkan oleh akal ke tabung intuisi dan tabung pikiran. Dengan totalitas kecerdasan itulah, seseorang akan dapat menyongsong seruan-Nya: “Dan bertakwalah, niscaya Allah yang mengajarimu.” (QS. al-Baqarah: 282).

Lantas untuk mencapai hal tersebut…
Untuk bisa memperoleh kecerdasan laduni, seseorang harus sanggup masuk ke pusat gravitasi energi ruh tersebut. Sebab dari kecerdasan ruhaniah, dan bukan kecerdasan spiritual, LQ dapat diraih. Seseorang akan dapat memasuki wilayah tersebut jika mampu mengelola jiwa (nafs), membersihkan hati (qalb) – dari nafsu internal (hawa) dan nafsu eksternal (syahwat), mengelola kesadaran akal (aql), mengoptimalkan pikiran (fikr) dan hati rasional (fu’âd), memperindah intuisi (dzauq) dan kreativitas hatinya (shadr), mempertajam kecermatan mata hati (bashîrah), dan memperhalus inti terdalam nurani hati (lubb). Tanpa itu semua, menggapai kecerdasan laduni (LQ) hanya lebih bersifat khayalan daripada semangat penggalian yang sungguh-sungguh dan tak pernah merasa berputus-asa.
0 komentar

Jika Kau Ingin Jadi Penulis


Seperti judul diatas, catatan saya yang berikut ini tentang tips jika ingin menjadi penulis. Sebenarnya saya menemukan catatan ini saat tengah membuka note-note di facebook, tiba-tiba terbuka kembali sebuah note yang di-tag-kan oleh seorang kakak, mbak Wanda Kaniawati dan merupakan kutipan dari status dari salah seorang penulis favorit saya mas Fahri Asiza. Untuk kembali membuka motivasi saya, maka saya catat kembali di blog saya ini. Berikut tips-tips Jika Ingin Menjadi Penulis itu:

Jika kau ingin jadi penulis, FOKUSKAN pada satu gagasan saja dari sekian juta gagasan yang kau punya. Kenapa? Karena kau akan lebih mudah mengendalikannya. Sebab lain, karena ide itu sangat liar dan dibutuhkan FOKUS untuk menjinakkannya. Jadi ketika kau merasa tak punya ide, harusnya kau berbahagia, karena kau akan lebih mudah menemukannya karena ada kekuatan FOKUS di dalamnya.

Jika kau ingin menjadi penulis, PECUNDANGILAH ide yang kau punya. Maksudnya begini, setelah kau dapat ide dan membuat kronologis cerita dari idemu itu, saat kau menuliskannya, PATAHKANLAH. Buang BAGIAN ide dari ide yang kaumiliki, MANIPULASI BAGIAN ide itu dgn ide baru dan lanjutkan dengan ide baru itu. Dengan cara ini idemu akan berkembang baik dan kau tak akan stag menuliskannya. Memang agak susah, tapi cobalah...

Jika kau ingin menjadi penulis, sekecil apa pun ide yang kaumiliki bisa menjadi besar dan hidup. Caranya, mainkan psikologis tokoh-tokohmu dan biarkan seolah mereka berpikir sendiri. Jangan memaksakan dia bergerak mengikuti alurmu, tp biarkan tokoh-tokohmu berbuat dgn alur pikirannya. Masih bingung? Mainkan melalui dialog. Sekali lagi ingat, psikologis tokoh-tokohmu. Memang agak susah, tp tak ada salahnya dicoba.

Jika kau ingin menjadi penulis, selain MOOD yang tak boleh dipercaya, juga TAKUT yang harus kauabaikan. Takut tidak bisa, takut tidak bagus, takut tidak punya ide, takut ditolak, takut dikritik. Abaikan semua rasa TAKUT dalam hal menulis. Yang terpenting, teruslah menulis, menulis dan menulis...

Jika kau ingin menjadi penulis, setelah menemukan ide dan men-sinergikan dgn kekuatan di sekeliling, tulislah ide itu dgn memakai dua sudut pandang 1. Sudut pandang orang pertama. 2. Sudut pandang orang ketiga. Jadi dgn ide yg sama kau punya dua cerita dgn dua sudut pandang. Fungsinya, kau akan terbiasa menulis dgn kedua gaya itu dan kau pun akan menemukan perbedaannya.


Ayo, berlatih dan mulailah menulis!
HWAITING!!!

\^o^/
 
;