Selasa, 24 November 2015 0 komentar

CATATAN SEORANG GURU

Namaku Dewi.
Tidak. Bukan. Aku bukan Dewi Sartika.
Aku seorang guru. Tapi jangan pernah sekalipun melihat aku seperti seorang guru.Yang setiap pagi  berangkat ke sekolah dengan menjinjing tas berisi buku dan materi pelajaran.
Mengajar murid-murid dengan kasih sayang.
Berbagi ilmu.
Sungguh, aku bukan Dewi Sartika .
Ketika Dewi Sartika memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan.
Aku justru menjadi awal kerusakan pendidikan.
Setiap pagi aku berangkat ke sekolah, menjinjing tas mahal bermerk yang sangat sayang jika diisi dengan buku pelajaran yang berat.
daripada bersusah payah menyiapkan materi pelajaran, aku lebih suka menyiapkan berkas-berkas untuk kemajuan karierku.
mengajar tidak lebih penting dari arisan atau hang out bersama teman-temanku.
Sungguh, aku bukan Dewi Sartika.
Yang dengan susah payah mendirikan Sekolah Istri agar para perempuan Jawa Barat bisa belajar dan menjadi pintar.
dalam hatiku, justru aku selalu ingin segera meninggalkan sekolah. Kembali ke rumah dan duniaku sendiri.
Aku seorang guru.
Tapi aku bukanlah seorang guru.
Aku Dewi. Tapi aku bukan Dewi Sartika.
Mungkin kalian tidak tahu rupaku.
Tapi, perhatikanlah. Aku ada di sekitar kalian.
****

Namaku Dewi.
Tidak. Bukan. Aku bukan Dewi Sartika, seorang perempuan yang berasal dari kalangan Priyayi Sunda yang berjuang mendirikan pendidikan bagi kaum perempuan.
Aku hanyalah seseorang yang berasal dari tempat terpencil. Dan aku berjuang untuk mendapatkan pendidikan, bukan memperjuangkan pendidikan.
Aku seorang guru.
Walaupun banyak kalangan yang tidak menganggap aku seorang guru.
Mengajar adalah tugasku.
Mendidik adalah kewajibanku.
Berbagi ilmu dan tersenyum bersama murid-murid adalah kebahagiaan bagiku.
Bukan gaji besar atau menjinjing tas mahal yang menjadi prestasi bagiku.
Tapi, ketika murid-muridku mampu berbangga atas keberhasilannya, itulah prestasi terbaikku.
Tapi, sungguh aku bukan Dewi Sartika.
Yang bahkan rela melawan arus zaman pada saat itu demi memperjuangkan pendidikan untuk perempuan dari kalangan bawah.
Aku bahkan tidak mampu memperjuangkan kemerdekaan ideku sendiri.
Segalanya dibatasi birokrasi.
Segalanya dibatasi cibiran dan gunjingan dari rekan sejawat.
Aku Dewi. Tapi, aku bukan Dewi Sartika.
Aku hanyalah seorang guru yang ingin menjadi guru.
Kalian mungkin tidak pernah tahu rupaku.
Tapi, cobalah tanya pada jiwamu.
Adakah jiwaku disana?


Margacinta, Sehari menjelang HUT PGRI 2015

Teruntuk Rd. Dewi Sartika, terima kasih atas semua ilmu yang telah dipejuangkan agar sampai kepada kami kaum perempuan Jawa Barat. Semoga jiwa pendidikmu hadir dalam jiwa kami, orang-orang yang tengah belajar menjadi pendidik. Allahumagfirlaha......


Kamis, 05 November 2015 0 komentar

Catatan Menyanyi dan Membaca Puisi


Menjadi Wali Kelas 2 SD sebenarnya tugas yang gampang-gampang susah. Walaupun sejak pertama kali –belajar- mengajar sudah menjadi wali kelas 2, tapi tetap saja beragam siswa dengan beraneka keunikan mereka sering ditemui. Sepanjang perjalanan –belajar- mengajar, masalah utama yang dihadapi adalah masih banyaknya siswa yang belum fasih menulis dan membaca. Bahkan di tahun ajaran 2014-2015 lalu, saya menemukan siswa yang sama sekali tidak bisa mengingat bentuk alphabet.
Sementara itu, tuntutan dari silabus pembelajaran cukup luas. Siswa dituntut untuk mampu membaca dan menulis dengan baik. contohnya saja dalam pelaksanaan ulangan harian. Siswa dituntut untuk bisa membaca dan memahami soal sehingga bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Padahal kenyataannya di lapangan tidak bisa semudah demikian. Alhasil, sebagai wali kelas yang baik (lebih tepatnya mungkin menjaga reputasi agar tetap baik) saya melaksanakan ulangan dengan membacakan soal sehingga siswa-siswi saya tinggal menjawab soal. Itupun masih banyak yang keliru saat menulis.
Khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, tuntutan untuk bisa membaca dan menulis sangat tinggi. Bahkan dalam suatu kompetensi dasar, siswa kelas 2 saya sudah diharuskan mampu membaca puisi sederhana. Sekali lagi MAMPU MEMBACA PUISI.
Hal ini menurut saya merupakan suatu capaian kompetensi yang sulit. Bayangkan siswa kelas 2 SD yang membaca saja masih belepotan, diharuskan MAMPU membaca puisi. Ya. Membaca puisi merupakan salah satu kemampuan berbahasa tingkat tinggi menurut saya mah. Karena membaca puisi itu tidak cukup sekedar membaca kata-kata, tetapi harus juga memunculkan perasaan dan ekspresi dari puisi tersebut. Agar perasaan dan ekspresi ini muncul, tentu saja si pembaca puisi harus bisa memahami isi dari puisi yang akan dibacakannya.
Nah lho! Harus bagaimana coba? Dari silabus dituntut untuk mampu, sementara kebanyakan siswa-siswi saya membaca saja masih belepotan. Maka mulailah saya memutar otak. Sambil saya berpikir, program pembelajaran saya majukan. Saya Skip dulu pembelajaran membaca puisi ini.
Dan entah mendapat ilham darimana, saat sedang iseng membuka-buka buku pembelajaran Bahasa Indonesia, lalu saya menemukan sebuah puisi (karena disana tertulis seperti itu). Tapi, kata-kata dalam puisi tersebut sangat familiar dalam kepala saya. Maka, ngahulenglah saya beberapa saat. ~~~~~~~
Kurang lebih seperti ini puisi tersebut:
Pemandangan

Memandang alam dari atas bukit
Sejauh pandang kulepaskan
Sungai tampak berliku
Sawah hijau terbentang
Bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang berpayung awan
Oh.. indah pemandangan

Lama-lama, berkumpullah memori saya. Ternyata ini adalah lagu Pemandangan. padahal saya sudah berulangkali menebak-nebak bagaimana pembacaan puisi tersbut. Dari situlah tiba-tiba saya teringat. Mungkin kebodohan saya ini justru bisa menjadi salah satu cara membelajarkan puisi ke siswa-siswi saya. Namun, caranya justru saya balikkan. Saya akan mengajarkan lagu Pemandangan ini dulu kepada siswa saya, tujuannya agar mereka hafal dulu lagu ini. Karena berdasarkan pengalaman, anak-anak cenderung lebih mudah menghafal apabila dikombinasikan dengan lagu. Baru setelah mereka hafal lagu ini, saya akan coba membelajarkan membaca puisi pada mereka.
Percobaan Hari Ke-1
Seperti biasa, hari Jumat adalah jadwal pelajaran Bahasa Indonesia selain Hari Senin dan Selasa. Hari Jumat ini, saya mulai mengenalkan lagu Pemandangan kepada siswa saya. Sampai suara serak juga, nada yang mereka keluarkan masih meleset-meleset dari lagu sebenarnya. Cukup tersenyum saja menanggapi kenyataan ini. Inilah seninya mengajar. J
Percobaan hari ke-2
Hari Senin, sebelum masuk ke dalam kelas, dari kejauhan terdengar mereka sedang ramai bernyanyi lagu Pemandangan walaupun masih dengan nada yang meleset-meleset. Tapi, justru jadi menambah semangat saya untuk terus mengajarkan mereka sampai mereka bisa. Alhasil hari ke-2 ini masih digunakan untuk menghafalkan lagu. Namun saya tambahkan dengan memberi mereka tugas untuk menulis.
Percobaan hari ke-3
Hari selasa, berhubung nampaknya mereka mulai hafal lagu Pemandangan ini. Maka, saya memutuskan untuk mencoba mengetes mereka bernyanyi satu persatu. Lumayan menambah nilai SBK juga. Ternyata, sebagian besar mereka sudah hafal lirik lagu pemanadangan ini. Tapi masih dengan nada yang meleset. Bahkan ada beberapa siswa yang malah jadi menggunakan nada lagu lain yang mereka kenal. Cukup menyenangkan mendengarkan mereke berimprovisasi.
Percobaan hari ke-4
Hari Jumat, setelah mengetahui anak-anak sudah hafal lirik lagu pemandangan maka langkah selanjutnya adalah memperkenalkan mereka kedalam pembacaan puisi. Karena tidak begiitu ahli dalam deklamasi puisi, akhirnya saya memutuskan untuk mengajak mereka nonton pembacaan puisi. Saat menunjukkan penampilan membaca puisi, mereka sangat antusias. Tak jarang mereka ingin berkomentar selama pertunjukan. Namun karena saya memberikan aturan dilarang berisik dan berkomentar apapun, sepanjang pertunjukan mereka hanya diam saja.
Jadinya saat pertunjukkan selesai, keluarlah berbagai macam komentar dari mulut mereka. Mulai dari yang berkomentar, keren, bagus, sampai ada yang berkomentar lucu. Selanjutnya saya memancing mereka untuk mencoba menirukan pembacaan puisi yang sudah mereka tonton. Awalnya mereka ragu-ragu, tapi akhirnya mereka mau.
Pelajaran hari ini diakhiri dengan memberikan mereka PR untuk mencoba membacakan lagu Pemandangan dengan gaya membaca puisi. Tentu saja mereka langsung bersorak tidak suka. Dengan gaya cool, saya melenggang meninggalkan mereka yang masih menggerutu menolak.
 Hari Sabtu, sengaja saya tidak menyinggung-nyinggung masalah puisi. Tapi, justru mereka yang malah riweuh ngobrol-ngobrol masalah membaca puisi. Tujuannya sih supaya mereka tidak merasa dirurusuh sama gurunya. Tapi, ternyata yang ada mereka malah semakin penasaran. Hehehe.
Hari Eksekusi
Hari Senin kali ini, siswa kelas 2 nampak lebih bergairah dari biasanya. Bahkan saat upacara juga mereka terus berkomentar ingin segera selesai upacara dan segera masuk kelas. Ada yang terus-terusan bilang degdegan sampai telapak tangannya
Akhirnya, tibalah waktunyna eksekusi. Tidak sabar rasanya melihat penampilan mereka membacakan puisi. Karena bagi saya kali ini adalah kali pertama menyaksikan mereka menampilkan sesuatu  yang baru bagi mereka sekaligus sesuatu yang mereka persiapkan dengan asyik.
Untuk menambah semangat mereka, penampilan baca puisi ini saya kemas seperti lomba kecil-kecilan, sengaja saya buat susunan acara plus sedikit hadiah bagi juaranya nanti. Hal ini tentu saja mendapatkan reaksi yang beragam dari  para siswa. Ada yang justru makin semangat, makin gak sabar untuk tampil, ada yang makin gemeteran karena grogi, dan adaaaaa yang makin kenceng menghafal kata-kata puisi.
Singkat cerita, mulailah saya memanggil satu persatu siswa saya untuk maju ke depan dan membacakan puisi. Satu dua dari mereka mulai tampil. Untuk penampil pertama, sengaja saya memilih siswa yang sudah biasa vocal di kelas. Tujuannya sih untuk memanaskan suasana persaingan diantara mereka. Mulailah si penampil pertama ini tampil. Awalnya berjalan dengan baik. lancar dan nyaman didengarkan. Namun, saat pertengahan siswa ini berusaha menaikkan nada yang dia gunakan. Karena kebetulan di contoh pembacaan puisi kemarin ada bagian dimana si pembaca puisi itu sedikit “berteriak”. Nah, siswa ini juga sepertinya terinspirasi dari penampilan itu. Dia ingin sedikit berteriak tap Berhubung suara siswa ini memang sedikit serak-serak basah jadinya yang ada suaranya malah . selip. Tertawalah seluruh kelas. Untungnya, siswa ini mentalnya cukup bagus. Dia dengan pedenya malah meneruskan pembacaan puisinya.
Lucu dan penuh hiburan menyaksikan satu persatu dari mereka tampil. Bahkan seorang siswa membuat saya tidak berhenti tertawa karena penampilannya. Dia pada baris pertama cukup baik memulai pembacaan puisinya. Baris kedua, konsentrasinya sedikit terganggu, lupalah kata-kata puisinya. Dia mencoba mengingat-ingat dengan cara menyanyikan lagunya. Setelah ingat, dia mulai membacakan baris kedua dengan cukup baik. tapi di baris ketiga tanpa dia sadari dia malah menyanyikan lagu bukan membaca puisi. Karena teman-temannya tertawa barulah dia sadar. Dengan gaya tengilnya dia mencoba mengulangi lagi pembacaan puisi dari baris pertama, namun kejadian menyanyi di baris kertiga kembali terulang. Terus saja sampai 4 kali pengulangan kejadian ini terjadi.
Setelah semua siswa tampil dan pipi saya pegel karena terlalu banyak tertawa, saya memberikan penilaian secara keseluruhan atas tampilan mereka di depan kelas. Menyenangkan mendengarkan mereka memberikan penilaian juga atas tampilan teman-temannya. Ada saja yang membuat mereka tertawa dan merasa lucu. Diumumkanlah juara yang menurut saya dan mereka cukup baik membaca puisi. Mereka luar biasa antusias. Bahkan ada yang berkomentar “Bu, resep gening maca puisi teh”. Dalam hati saya juga berkomentar, “resep ibu ge kalian semangat belajar seperti ini”.
Mungkin jika dinilai oleh pakar dan penikmat puisi, pembacaan puisi siswa saya jauh dari kata ‘bagus’. Dan sepertinya kompetensi membacakan puisi ini juga belum tercapai. Tapi, bagi saya menyaksikan mereka dengan penuh semangat menghafal lagu, mempersiapkan diri membaca puisi, merupakan suatu kebanggaan. Apalagi saat melihat mereka tampil satu persatu, dengan penuh percaya diri (walaupun ada satu dua siswa yang malu-malu) menunjukkan apa yang sudah mereka persiapkan sangat menyenangkan rasanya.
Sepertinya, saya termasuk jenis orang yang mudah puas dengan suatu pencapaian. Begitu juga dengan saat ini. Melihat mereka sepeti tadi saja tidak lantas membuat saya keukeuh mengajarkan mereka agar lebih beneran lagi baca puisinya. Justru malah membuat saya merasa ‘cukup segitu aja’. Karena menurut saya, jika dipaksakan lebih mendalam lagi, sementara bagi mereka membaca cerita biasa saja susah, takutnya rasa resep mereka malah berubah jadi tidak resep, lebih jauhnya saya takut mereka merasa bosan dan malas belajar puisi lagi. Saya jadikan bahan PR saja untuk pembelajaran ke depannya atau mungkin di tingkat yang lebih tinggi nanti diajarkan oleh guru yang lain.
Ternyata, kebanggaan terbesar seorang guru (khususnya bagi saya pribadi saat ini) adalah ketika siswa merasa senang dengan pembelajaran yang kita sampaikan dan mereka dengan sepenuh hati mengikuti pembelajaran itu. Bahagia saat melihat mereka tertawa senang saat belajar. Bangga luar biasa saat mereka berani tampil. Mungkin mereka belum bisa memberikan penampilan yang sempurna, tapi semangat mereka sungguh sempurna membangkitkan semangat untuk lebih baik lagi saat mengajar.
Saya sepenuhnya percaya, siswa akan berkembang dengan baik jika gurunya melakukan usaha terbaik untuk menggali dan mengembangkan potensi siswa-siswanya. Practice makes perfect _unknown_
4 komentar

USAI

Entah kapan cerita ini berawal
Entah siapa yang memulai.
Entah siapa yang meminta, yang menyebutkan nama salah satu dalam doanya.

Tapi, ombak-ombak itu mulai tumbuh dalam dada
bahkan temaram senja pun tidak dapat menahan deburannya
Mereka berkejaran dengan takdir.
Berusaha menentang waktu.

Namun, cerita ini harusnya sudah usai
Sebelum ia semakin bersemi
Menjadi bunga-bunga ajaib yang tumbuh di langit-langit mimpi


Cidawung, selepas hujan usai
November 2015







Jumat, 02 Oktober 2015 0 komentar

Catatan Selepas Menjadi Sarjana


Selepas kuliah, target untuk bekerja menjadi hal nomor satu untuk direalisasikan dalam agenda saya. Menjadi sarjana pendidikan alias S. Pd. setelah menempuh perjalanan studi yang rasanya manis-asam-asin ibarat like a dream comes true. Alhamdulillah wa syukurillah.
1 Oktober 2013, the dream comes true. Wisuda bersama ratusan teman-teman seperjuangan. Rasanya plooooooong begitu menerima ijazah dan melihat nama sendiri di belakangnya sudah tersemat sebuah gelar : SRI MULYANI, S. Pd. begitu katanya. Rasanya semua beban yang menumpuk semasa perkuliahan bbubaaaaaaarrrrr jalan!!! Satu kata yang tercetak dalam hati dan pikiran saat itu : BAHAGIA!




 
Padahal nyatanya sodara-sodaraaaahh… perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Mau dibawa kemana nih gelar S. Pd.-nya yang dibangga-banggakan itu? Nah lho!!!Mencari pekerjaan di zaman sekarang memang tidak mudah lho. Apalagi saya yang notabene tinggal di sebuah kota kecil yang lapangan pekerjaannya tidak semudah di kota-kota besar sana. Pilihan saya tidaklah banyak. Karena orang tua belum mengijinkan saya untuk belajar merantau ke luar kota.
“oke mah! Ngahonor we nya!” akhirnya kalimat itu keluar dari pikiran saya.
Memutuskan untuk menjadi tenaga honorer atau tenaga guru sukarelawan juga tidak mudah. Ditolak beberapa sekolah, bahkan juga tidak ditanggapi oleh beberapa sekolah jadi makanan saya waktu itu. Beruntung, ada SDN 1 Kawali mau menampung saya untuk ikut belajar disana. Tidak disangka ternyata sekolah sekelas SDN 1 Kawali yang merupakan SD inti di kecamatan saya mau menerima seorang sarjana baru lulus yang belum punya pengalaman apapun.


Disinilah bahwasannya apa yang disebut perjuangan untuk menjadi seorang sarjana itu dimulai. Bukan seperti perjuangan semasa kuliah, untuk mendapat gelar. Tapi perjuangan untuk menjawab pertanyaan “apa sih yang dibanggainnya jadi sarjana?” yang selama ini jadi senjata ampuh orang-orang yang kurang paham tentang pendidikan untuk mencibir.
Menjadi tenaga honorer atau kerennya mah sukwan memanglah tidak mudah. Satu bulan pertama masuk, saya hanya duduk manis di ruang guru. Sesekali masuk ke kelas hanya saat ada guru yang tidak masuk sekolah karena ada kepentingan dinas atau kepentingan lain. Lagi-lagi keberuntungan yang membawa saya ke dalam zona yang lebih baik. Saya pun diberi kesempatan mengajar di kelas IV.
 



Dunia kerja memang sangat jauh berbeda dengan apa yang dipelajari semasa kuliah.

Mungkin istilah itu yang selalu saya ucapkan dimasa-masa awal saya memasuki dunia pekerjaan. Padahal sebenarnya sayanya saja yang semasa kuliah #gagalfokus sama materi perkuliahan. Jadinya, di dunia kerja saya merasa asing dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Entah berapa kali saya diselamatkan dengan kata “beruntung”. Karena lagi-lagi, beruntung saya bekerja dilingkungan yang etos kerjanya cukup tinggi. Mungkin karena merupakan sekolah inti yang selalu mendapat sorotan dari banyak pihak, jadinya guru-guru disini dituntut untuk melakukan pekerjaan sesempurna mungkin.
Dengan suasana kerja yang seperti itu, saya sungguh merasa kecil. Tidak bisa apa-apa, tidak tahu apa-apa. Hari pertama saya mengajar di kelas, Kepala Sekolah bahkan lalu lalang terus didepan kelas saya, mengawasi saya. Mungkin takut saya melakukan kesalahan. Arrrhhhhhhh. Perasaan saya waktu itu sungguh lebih degdegan dibandingkan saat ujian PLP semasa kuliah dulu.
Pengalaman saya -belajar- mengajar di SDN 1 Kawali selama 2 tahun 7 bulan telah membuka mata dan pikiran saya bahwa pertanyaan para haters yang selalu mencibir “buat apa sih menjadi sarjana?” itu banyak benarnya. Buat apa jadi sarjana jika menjadi honorer saja tidak bisa apa-apa, bagaimana bisa menjadi agent of change di masyarakat? Bagaimana bisa mengharapkan gaji yang banyak jika materi kuliah saja banyak lupanya?
Maka, saya selalu menepuk jidat saya sambil berkata “Kamana wae sih keur kuliah nu kieu wae teu apal!?” ketika ada permasalahan mengenai pembelajaran yang saya tidak bisa menyelesaikannya. Tengsin euy kalo udah gini teh. Berasa gagal kuliah selama empat tahun teh.
Tapi, Allah sungguh Maha Pengasih dan Penyayang. Sekalipun saya selalu merasa tidak bisa apa-apa, Allah memalui guru-guru disini selalu membimbing saya menemukan hal-hal baru. Mulai dari belajar menjadi wali kelas, belajar mempersiapkan perangkat pembelajaran dari A sampai Z, mengikuti pelatihan mengelola perpustakaan, pelatihan kurikulum, ikut nimbrung urusan administrasi sekolah, membantu mengelola aplikasi-aplikasi pendataan sekolah, membimbing loma, mempersiapkan kenaikan kelas samapai ikut serta dalam kegiatan dari LPMP saya diberi kesempatan seperti mereka guru-guru yang sudah jadi PNS. Beribu terima kasih saya ucapkan atas segala kesempatan yang diberikan ini.

Lalu, puaskah saya setelah bekerja menjadi seorang honorer? Tentu saja TIDAK!

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas dengan segala pencapaian yang telah didapat. Begitu pula saya. Mendapatkan banyak pengalaman semasa menjadi honorer ini tidak lantas membuat saya puas begitu saja. Malahan, saya selalu merasa makin tidak bisa apa-apa. Misalnya saja, saat berkesempatan ikut membimbing anak-anak kelas VI untuk mempersiapkan Ujian Nasional. Banyak soal yang membuat saya mengerutkan kening. “Ieu soal nanaonan sih?” “Naon deui soal jiga kieu?” atau “Duuuhhhh. Ieu eusi na naon deuih!?” adalah sejenis pertanyaan yang sering muncul dalam kepala saya waktu itu.
Mungkin ada benarnya juga pepatah yang mengatakan “semakin banyak belajar semakin bodohlah kita”. Semakin banyak mengetahui hal-hal baru, semakin merasa tidak bisa apa-apa. Semakin tidak puaslah kita. Semakin ingin saya banyak belajar. Lagi-lagi, beruntung saya diberi kesempatan ikut –belajar- mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar. Disini saya banyak mendapatkan ilmu baru yang lagi-lagi membuat saya semakin bodoh. Hahahahaha..

Lantas, puaskah saya? Lagi-lagi, TIDAK.

Banyak orang yang mencibir kepada seorang sukwan. Bahkan tak sedikit juga sukwan yang mengutuki nasib mereka. Pekerjaan menumpuk, tapi gaji tidak seberapa. Sungguh. Saya juga sempat berpikiran seperti itu. Merutuki nasib yang digaji hanya ratus ribu perbulan. Untungnya, seorang guru sukwan yang sudah lama mengabdi juga banyak menasehati, banyak mengajak untuk selalu bersyukur atas apa yang dimiliki dan didapat.
“Asal kitanya mau berusaha dan tidak mudah bosan, meskipun gaji hanya segitu insyaa allah kebutuhan mah pasti tercukupi” begitu nasihatnya yang selalu diingat sampai sekarang.

Tulisan ini sungguh tidak bermaksud untuk menyombongkan diri akan apa yang sudah diraih. Tapi, hanya ingin menjawab sebuah pernyataan dari seseorang yang mengatakan “Jangan terlalu berbangga jadi sarjana, idealis menjadi seorang honorer yang kerjanya diforsir, diperah dan tidak digaji selayaknya pekerjaan yang dilakukan. Bahkan banyak sarjana yang malah ngojek biar penghasilannya lebih baik. da kebutuhan mah tidak cukup dipenuhi sama gelar sarjana”

Menurut saya, pemikiran itu sangat picik! Secara langsung menyepelekan gelar sarjana (padahal dianya juga seorang sarjana) dan merendahkan tenaga sukwan. Jaman sekarang, gelar itu menjadi syarat utama untuk mendapatkan pekerjaan. Sekalipun pekerjaan itu hanya menjadi seorang sukwan. Dan menurut saya menjadi seorang sukwan bukanlah pekerjaan yang layak mendapat tambahan ‘hanya’ didepannya.
Menurut saya, menjadi sukwan adalah pengabdian sesungguhnya. Mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan gaji, adalah sebuah pengorbanan. Kenapa kita para sukwan terkadang mendapat porsi pekerjaan yang lebih banyak dari yang sudah PNS adalah karena para sukwan ini mendapat kepercayaan, bahwa mereka memiliki kemampuan yang lebih untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Masalah gaji yang tidak sesuai dengan pekerjaan, saya sangat yakin bahwa rezeki setiap orang tidak akan tertukar karena Allah Maha Adil dan Maha Melihat. Bahkan gaji sukwan yang sesungguhnya adalah sajuta (singkatan dari sabar, jujur dan tawakal). Yakinlah, Allah sangat menghargai sajuta yang disertai dengan ikhlas daripada sajuta uang yang didapat dengan keserakahan. Tidak pernah kan ada berita yang mengabarkan seorang guru honorer meninggal karena kelaparan?
            Menjadi sukwan, membuat saya menjadi lebih kaya. Menambah pengetahuan, menambah teman dan kenalan, menambah saudara, dan menambah anak-anak yang mencintai. Bahkan sampai saya berpindah tugas, semua pengalaman yang saya peroleh saat menjadi sukwanlah yang banyak membantu saya disini. Maka, bagi siapapun yang mencibir pekerjaan seorang tenaga sukwan, saya sangat berharap Anda memikirkan kembali kata-kata Anda. Dan buat para sukwan dimanapun berada, keep Fighting, smile, dan Lillah… 

Inti dari tulisan ini adalah kita harus senantiasa bersyukur akan segala sesuatu yang sudah kita miliki dan sudah kita capai. Mohon jangan pernah menyepelekan apapun yang dimiliki oleh orang lain. Bisa jadi apa yang kita sepelekan dari orang lain justru merupakan apa yang sangat dia harapkan dan dambakan. Hargai juga apa yang dimiliki orang lain. Keep respect. 
0 komentar

Noona Neomu Yepposeo

“Oppa……..”
Lagi-lagi suara cempreng itu terdengar persis saat pintu masuk berderit terbuka.
“Sudah kubilang jangan panggil aku Oppa, anak kecil!” seruku sambil meletakkan buku yang tengah kubaca.
“Mau pesan apa?”tanyaku sebelum suara cemprengnya terdengar lagi..
“Spaghetti bolognise dan jus mangga.” jawabnya dengan enteng
“Ordered!” kataku sambil berlalu menuju dapur.
“Gomoyo oppa!” terdengar suara cempreng itu meneriakkan kata-kata yang tidak aku mengerti.
Dasar anak aneh. Namanya Nurul. Kelas XI SMA. Karena sekolah dan rumahnya berdekatan dengan toko tempatku bekerja, dia hampir setiap hari mampir ke toko ini. Sekedar membeli makanan dan berkumpul dengan teman-temanya, atau hanya memesan segelas jus alpukat sendirian sambil ditemani laptop putihnya, menonton drama korea katanya.
Akibat dia terlalu sering nonton drama korea itulah dia sering mengeluarkan kata-kata bahasa Korea yang tidak aku mengerti. Salah satunya yang menggangguku adalah dia kerap memanggilku ‘Oppa’. Heyy. Aku baru 25 tahun.
“Oppa itu artinya kakak laki-laki. Sama halnya seperti panggilan Abang, akang atau Aa.” Katanya ketika aku memprotes panggilannya.
“Tapi, tetap saja Nur. Itu membuat abang berasa dipanggil Kakek. Berasa udah tua!” bantahku.
“Ahhh.. Andri oppa kuper. Masa yang begitu saja tidak tahu. Gak gaul ahh!” katanya sambil memanyunkan bibir dan mengalihkan pandangannya pada laptopnya yang sedang dipenuhi adegan-adegan drama Korea, ngambek. Kalo sudah begini aku memilih meninggalkannya.
Dan kali ini, ketika aku hendak mengantarkan pesanannya, dia tampak tengah menangis sambil memandangi laptop putihnya. Ahh lagi-lagi menangis karena menonton film. Dasar perempuan!
“sudah nangisnya. Makan dulu!!”Kataku sambil meletakkan sepiring spaghetti dan jus alpukat pesanannya.
“Oppa….” Katanya tepat saat aku hendak melangkahkan kakiku meninggalkannya.
“sudah kubilang jangan panggil aku OPPA.” Kataku sambil berbalik ke arahnya.
“Tokomu sedang sepi kan? Bisakah oppa menemaniku duduk disini? Aku sedang butuh teman, oppa.” Katanya sambil menunduk.
“kenapa kau datang sendirian kalau kau sedang butuh teman? Kemana teman-temanmu yang selalu bikin rusuh tokoku?” kataku cuek. Namun, jujur dalam hati aku merasakan ha yang ganjil dari Nurul. Karena seringnya dia datang ke tokoku, sedikit-sedikit aku mulai mengenalnya. Menganggap dia adikku sendiri.
“Bukan teman-teman seperti mereka. Mereka hanya teman bercanda. Aku sedang ingin berbicara serius. Mungkin dengan oppa bisa” katanya, dan manik mata kami bertemu. Kalo sudah begitu, aku tak akan bisa menolak apapun permintaannya.
Kuseret kursi yang dekat dengan kakiku. Kutempatkan tepat diseberang mejanya.
“Oke ceritakan apa yang ingin kau ceritakan. Dengan syarat jangan panggil Oppa selama kau bercerita!” ancamku, galak.
“Tapi opp….” Belum selesai dia berkata aku memotongnya dengan isyarat tangan hendak pergi.
“Okeeee abang!” katanya sambil memelas. Nampaknya dia memang sedang sangat butuh teman bercerita.
“Apakah kau pernah jatuh cinta bang?” tanyanya.
Aku mengerutkan dahiku. Cinta? Kenapa anak ini tiba-tiba berbicara tentang cinta?


 ------ TO BE CONTINUED --------
 
;