Senin, 29 April 2013 2 komentar

Catatan -Masih- Seputar Pernikahan

Setelah postingan sebelumnya ada menyangkut pernikahannya, sekarang juga akan sedikit posting mengenai pernikahan... 
Sejak memasuki usia kepala 2, kata "Pernikahan" memiliki daya tarik tersendiri bagi saya... Entah karena saya memang terobsesi menikah muda, atau mungkin memang hal ini merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap perempuan yang memasuki usia seperti saya ini... Entahlahh.. Namun bagi saya, pernikahan merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari, untuk diamati, bahkan sangat sangat menarik untuk dialami *curcol*.. Apalagi setelah dalam dalam beberapa minggu terakhir ini dikomporin dengan bergugurannya undangan-undangan pernikahan dari kerabat, sahabat, hingga tetangga dekat.. Yaa.. Untuk saat ini hanya bisa mengamati dan mempelajari apa-apa yang terjadi saat momen sakral tersebut terjadi...
Dari beberapa pernikahan yang sempat diamati, saya dapat merekam beberapa momen dalam pernikahan yang menurut saya sungguh luar biasa.
1. Momen Siraman
    Dalam pernikahan dengan adat Sunda yang sering saya amati, saya sangat suka dengan suasana saat siraman.. Apalagi saat momen itu diiringi oleh kecapi suling yang dapat membuat bulu kuduk berdiri.. Momen siraman ini umumnya dialami oleh calon pengantin perempuan sehari sebelum prosesi akad nikah.. Momen siraman yang meninggalkan kesan tersendiri bagi saya adalah momen siraman saat teteh kedua saya mengalaminya.. Mungkin karena terbawa suasana juga yah, jadi berasa dapet bangeet suasananya.. Dalam momen siraman teteh saya itu, ada beberapa adat yang harus dilewati. Yang pertama, teteh sungkem dulu sama bapa dan mamah, juga para Ua, mamang, dan bibi yang mau menyiram teteh *karena namanya siraman, yah jadi disiram yah? bukan dimandikan*..  Semuanya itu diiringi sama musik kecapi suling yang sungguh bikin merinding..Apalagi suasana haru saat melihat mamah, bapa, ua, mamang, bibi menangis terharu   menerima permintaan maaf dan permohonan doa restu dari teteh.. Ahh.. Jadi ikutan nangis *ambil tisu*.. Setelah itu teteh disuapi minum, kemudian ditemani mamah dan bapa menuju kursi penyiraman..Lalu, satu persatu para tetua mulai menyiram teteh.. Saya sempat disuruh ikut menyiram teteh, tapi juru riasnya bilang "teu kenging anu teu acan nikah mah".. Woooo.. Apa-apaan ini? DISKRIMINASI!! Hahaha.. Setelah disirami, teteh kemudian digendong sama bapa, istilah Sundanya mah diais.. Haha.. Betapa lucunya melihat teteh yang kedinginan, digendong sama bapa.. Oh iya.. Untuk menuju tempat siraman itu disediakan kain sampig 7 motif yang digelarkan untuk dilewati oleh sang calon pengantin.. Udah gitu mah udah wehh.. Calon pengantinnya ganti baju *biar gak masuk angin*.. hihihi.. 
Ternyata, setelah beberapa saat lalu blogwalking, saya menemukan bahwa prosesi siraman itu ada beberapa tahapannya  dari blog http://bidakaraweddingexpo.com/347/prosesi-adat-sunda-siraman-ngebakan/.. Katanya momen saat teteh sungkem ke mamah dan bapa itu dinamakan ngaras. Artinya ngaji rasa rumasa.. Yang mana calon pengantin meminta maaf dan memohon restu dari kedua orang tua.. Dibarengi dengan adat mencuci kaki kedua orang tua dengan maksud menunjukkan bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya.
Kemudian kain samping 7 motif/ 7 lembar yang dilewati pengantin maksudnya agar dalam hari-hari selanjutnya yang akan dilalui pengantin selalu diberikan kesabaran, kesehatan, ketawakalan, ketabahan, keteguhan iman yang kuat dan senantiasa menjalankan agama.
Ahhh.. Sarat akan makna bukan?? 
Selain itu, bagi saya momen ini benar-benar momen antara anak perempuan dan orang tuanya yang terbaik.. Jujur, saya sempat merasa sangat cemburu saat bapa menggendong teteh setelah siraman dulu.. Seperti anak kecil yang berebut gendongan rasanya.. hihihi.. Tapi, sungguh saya dapat merasakan betapa sayangnya bapa dan mamah sama teteh.. Sayangnya orang tua yang akan melepas anak perempuan mereka yang selama sekian tahun dirawat dan dijaga dengan sepenuh hati untuk dijaga oleh suaminya.. Momen terakhir seorang anak perempuan dimanjakan dan memanjakan diri dengan orang tuanya.. Karena kelak setelah menikah, suami menjadi proiritas utama baginya..
2. Momen Tibanya Calon Pengantin Laki-laki ke Rumah Calon Pengantin Perempuan
    Kalo di Betawi ada adat palang pintu dimana akan ada acara baas pantun dan pertarungan antar jawara, maka momen yang membekas dalam ingatan saya adalah momen dalam pernikahan yang pernah saya saksikan *entah pernikahan siapa.. Lupa sungguuuuhh* yang saat calon pengantin datang itu disambut dengan lantunan Shalawat Badar yang lagi-lagi membuat merinding menyaksikannnya.. Karena saat itu, sang calon pengantin perempuan yang tadinya gelisah menunggu calon suaminya menjadi semakin berdebar saat mendengar lantunan shalawat Badar yang dinyanyikan pertanda calon suaminya sudah tiba dan akan segera membacakan Ijb Kabul.. Makanya hingga sekarang tiap mendengar lantunan shalawat Badar apalagi dalam momen pernikaha selalu saja jadi deg-degan.. Apalagi saat ingat bahwa shalawat Badar itu adalah shalawat yang dilantunkan para Shahabat saat menyambut kedatangan Rasulullah yang hijrah ke Madinah.. Dapet bangeeettt khidmatnya.. :)
3. Momen Ijab Kabul
    Dalam setiap pernikahan, acara utamanya yah ijab kabul.. Entah mengapa saya selalu penasaran saat momen ini terjadi.. Ikutan deg-degan rasanya tiap calon pengantin pria mulai proses ijab kabul.. hihihi.. suka aneh-aneh aja kalo mendengarkan cerita para pengantin pria selepas ijab kabul.. :)

Yaa itulah momen-momen pernikahan yang membuat saya semakin tertarik dengan pernikahan, semakin senang mengamati dan mengikuti proses2 adat dalam pernikahan.. Walaupun mungkin dalam waktu dekat ini belum berjodoh untuk mengalami momen-momen tersebut.. Tapi, suatu saat nanti PASTI akan mengalami.. Pada waktunya dan dengan jodohnya tentu saja.. Harapannya, saat siapapun melaksanakan adat-adat maupun rukun-rukun dalam prosesi pernikahan tidak hanya sekedar mengikuti aturan main saja.. Tetapi dapat menghayati makna-makna yang terkandung dalam aturan main tersebut.. Mungkin itu salah satu cara agar dapat mencapai label keluarga yang sakinah, penuh mawaddah dan rahmah.. Aamiinnnnn... ^___^
0 komentar

Catatan Mengecat Rumah

Waaahhh.. Sudah lama sekali tidak menulis disini.. *ambil sapu, kemoceng, dan lap pel* *buang-buang sarang laba-laba*.. hihihi.. Beberapa kesibukan, juga faktor M alias Males memang jadi penghalang yang sangat besar untuk bisa mengetikkan e-mail plus password blog ini... fiuuuhhhh...
By the way, selama kurang lebih .... errrr..... *satu dua tiga -ngitung jari-* ada mungkin yang 5 bulan lamanya menelantarkan blog ini *pukpuk blog* banyak hal yang dialami.. Baik yang sedih, senang, positif dan negatif.. Jadi bingung mau cerita apa dulu.. 
Selama 5 bulan ini, banyak kegiatan yang cukup "berat" untuk dilewati. Mulai dari PLP, proposal Skripsi, penelitian skripsi, bahkan sempat mengalami momen tersulit bersama sahabat.. hemmmhh.. mungkin di lain postingan saja bahas itu mah.. Sekarang sedang sangat mut bercerita tentang nikah.. hehehe.. 
Bukan karena akan segera menikah lho posting ini.. Cuma, karena beberapa minggu ke belakang ini sedikit banyak mengalami peristiwa yang ada kaitannya dengan pernikahan..
Dimulai dengan ide mamah buat sedikit make up-in rumah yang mulai sedikit kelihatan keriputnya alias ngecet dan sedikit perbaikan rumah. Apa hubungannya yah dengan pernikahan?
Awalnya saya juga sedikit aneh, ko bisa-bisanya ngecet rumah dikait-kaitkan dengan pernikahan? Tapi, itulah yang namanya adat kebiasaan. :)
Di lingkungan saya *yang kental dengan adat Sunda*, biasanya orang melakukan pengecetan rumah itu di momen-momen tertentu. Seperti saat menjelang hari-hari besar seperti Idul Fitri atau lebaran, Agustusan, dan hari pernikahan salah satu anggota keluarga di rumah tersebut. Hehehe.. Cukup unik bukan? 
Maka, pada saat mamah dan baapa mulai memanggil tukang untuk merenovasi rumah, beberapa tetangga sempat nyeletuk "Bade hajatan nya pa?" atau "Wahh.. Bade hajatan si bungsu nya?" dan kalimat-kalimat lain yang kurang lebih isinya sama yaitu ngejampein mamah dan bapa buat ngadain hajatan pernikahan anak bungsunya *tunjuk diri sendiri*.. Hahaha.. 
Sebenarnya, saya cukup 'aneh' dengan asumsi-asumsi yang berlaku disini. Tapi, lama kelamaan setelah merenung dan berdiskusi dengan laki-laki paling tampan dan paling pintar di rumah *tunjuk bapa*, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan, mungkin bapa emanng mau menikahkan saya dalam waktu dekat ini.... Hahaha.. Bukaaannn.. Tapi, kesimpulan saya mungkin mengecat rumah dan merenovasi rumah itu memiliki makna filosofis yang dekat dengan Idul Fitri, Agustusan, dan Pernikahan..
Kalau kita pikirkan, mengecat rumah dan merenovasi rumah itu kan berarti memberikan penampilan baru terhadap rumah kita.. Mulai dari warnanya, kebersihannya, bahkan untuk yang lebih besarnya dengan pembaruan furniture juga.. 
Dan coba dibandingkan dengan momen Idul Fitri. Jelas kan Idul Fitri itu sering diartikan dengan Kembali Fitri, kembali menjadi pribadi yang suci setelah melewati proses shaum dan maaf-maafan saat Hari Raya. Sehingga kita menjadi pribadi yang baru.. Adakah kesamaan??
Kemudian dengan momen Agustusan.. Kalo momen ini hanya orang Indonesia yang punya.. Yapp.. Agustusan itu adalah peringatan hari kemerddekan Indonesia yang jatuh pada bulan Agustus, jadi saya seirng menyebutnya agustusan.. Sebagai orang Indonesia pasti tahu dong kalo untuk mencapai kemerdekaannya, Indonesia harus melewati berbagai proses yang cukup berat? Perjuangan yang begitu luaaaarrr biasaaaa cetarrrr membahanaaa.. *hiperbol* Sehingga, momen Agustusan itu menjadi sesuatu hal yang layak kita lakukan untuk mengenang dan mensyukuri apa yang kita rasakan sekarang sebagai hasil dari pengeorbanan dan perjuangan para pahlawan.. Tanggal 17 Agustus 1945, yang hingga kini kita kenang sebagai hari kemerdekaan itu merupakan sebuah awal yang baru bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang merdeka, bebas dari penjajahan, dan bangsa yang berhak mendapatkan penghidupan yang lebih baik.. So, adakah kesamaan???
Dan yang terakhir adalah pernikahan.. Well, yang sering mendapatkan undangan dari rekan atau sodaranya kemudian memeberikan kado pasti sering menuliskan kalimat "Selamat Menempuh Hidup Baru".. Jelas berarti yang kesamaannya dengan momen-momen sebelumya?
Jadi, kesimpulannya adalah *tereteeteteeeeetttt* kenapa momen mengecat rumah selalu identik dengan hari raya Idul Fitri, Agustusan, dan Pernikahan adalah karena mengecat rumah itu dapat melambangkan juga akan menghadapi suatu hal yang baru dan memberikan perubahan untuk yang melakukannya, perubahan yang baik tentunya sama halnya dengan Idul Fitri, Agustusan, dan Pernikahan...
Well, ini hanya merupakan sebuah gagasan yang muncul di sela-sela kerasnya himpitan pemikiran tentang pacar 6 bulan saya *read Skripsi*.... Akhirnya, semoga saja tidak hanya dengan mengecat rumah atau melalui momen2 tertentu kita bisa dan mau untuk berubah menjadi lebih baik.. Setiap hari, saat matahari terbit dari timur kita sebaiknya selalu mengusahakan perubahan menjadi lebih baik tersebut..
"Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung".. :) 
Senin, 10 Desember 2012 1 komentar

Tak ada alasan untuk berhenti dan kehilangan cita-cita

Sore ini kembali langit berbagi cintanya dengan bumi. Ya. Cinta lewat tetesan hujan. Dan langit juga membagi indahnya sore ini dengan seulas warna-warni pelangi yang tergambar diatara tetesan gerimis.. hoho.. ingat apa itu pelangi dan bagaimana proses terjadinya?
Yg kali ini ingin aku bagi bukan pelangi atau hujan. Tapi, aku ingin mambahas pelangi lain. Sejuta Pelangi-nya Mbak Oki Setiana Dewi atau sering dikenal dengan OSD.  Ini buku keduanya setelah Melukis Pelangi. Awalnya aku tertarik membaca buku ini karena yang menulisnya Mbak Oki. Jujur, awalnya meragukan isi dari buku Melukis Pelangi itu. Aku kira dia hanya seorang yang aji mumpung, ketika ia sukses menjadi pemain film (tau dong Mbak Oki kan pemeran Anna Althafunnisa dalam film Ketika Cinta Bertasbih-nya kang Abik), eh coba-coba jadi penulis dengan karya yg asal-asalan. Tapi ternyata, setelah membaca buku Melukis Pelangi itu sukses membuat aku tergila-gila dan mencari buku Sejuta Pelangi ini.
Well, review bukunya mungkin nanti menyusul. Karena yang ingin aku bahas kali ini adalah sebuah cerita yang tertulis di halaman 58 hingga 67. Cerita yang memiliki subjudul Khilaf itu sebenarnya sebuah cerita sederhana yang bahkan berulang kali menjadi cerita sentral dari beberapa judul film atau sinetron. Tapi, entah kenapa mbak Oki ini mampu membuat cerita sederhana itu menjadi “ngena” banget.
Ceritanya adalah tentang remaja yang mengalami sebuah cobaan dengan hamil diluar nikah, putus sekolah, lalu diceraikan begitu saja oleh sang suami. Namun dengan segenap kekuatannya ia mampu bangkit dari ketrpurukannya. Mengejar kembali cita-citanya yang tertunda karena kekhilafannya. Meneruskan sekolah, membangun bisnis, dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai anak, kakak, dan ibu.
Dari cerita ini, ada beberapa paragraph yang aku garis bawahi.
“Betapa kasih sayang Allah tak pernah habis. Bahkan disaat kita terlalu sering melupakan-Nya. Banyak manusia yang memilih lebih menjauh dari Allah dalam keadaan sulit. Marah karena Allah memberinya musibah, keterpurukan, dan kesulitan besar. Lalu mereka menjauh dan semakin menjauh. Tetapi setelah itu, hidupnya malah semakin hancur karena tak pernah lagi punya kekuatan untuk bangkit, tak pernah lagi bermimipi, mati sebelum jasadnya mati, mati sebelum kehilangan nyawa, mati sebelum Izrail datang menemuinya.
Berbeda dengan orang-orang yang mau bangkit, mendekat kepada Rabb-Nya, berusaha memperbaiki kesalahan, menutup masa lalu, dan menghapus kekhilapan. Ia sadar bahwa Allah menegurnya agar tidak terpuruk selamanya, agar tak terus melakukan perbuatan dosa hingga akhir hayatnya. Mereka kembali menata hidup, berjalan diantara kebenaran, kembali bangkit, kembali bermimipi.
Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa ketika Allah menciptakan manusia di bumi ini, Allah sertakan juga harapan dalam jiwanya agar manusia selalu bangkit dan tidak putus asa. Ketika Allah ciptakan masalah, Allah selalu menciptakan solusinya. Ketika Allah menciptakan duka, Allah juga sertakan suka. Ini sama seperti ketika Allah menciptakan neraka, Allah juga menyiapkan surga di akhirat sana. Tak ada alas an untuk berhenti dan kehilangan cita-cita.
… kekuatan besar memang terletak pada mereka yang berhasil terhindar dari kesulitan, dari keterpurukan dan kehancuran. Akan tetapi, kekuatan yang lebih besar justru terletak pada mereka yang bisa bangkit setelah kehancuran dan keterpurukan.”

Tak ada alasan untuk berhenti dan kehilangan cita-cita. Siapapun pasti pernah mengalami berada di titik terndah dalam kehidupan. Dalam cerita yang berbeda tentunya dari cerita yang diuraikan mbak Oki. Keluarga, persahabatan, ekonomi, prestasi, akademik, atau kesehatan. Semua mengalami pasang surut. Ada saat dimana kita berada dalam puncak gemilang, ada juga kalanya kita berada dalam posisi terndah. Tetapi, semua itu tidak pernah lepas dari skenario indah Allah yang telah diciptakan untuk kita.
Tinggal kita memilih jalan mana yang akan kita ambil seperti yang telah disebutkan oleh mbak Oki dalam bukunya. Memilih lebih menjauh dari Allah dalam keadaan sulit kemudian malah semakin hancur karena tak pernah lagi punya kekuatan untuk bangkit? Ataukah bangkit, mendekat kepada Rabb-Nya, berusaha memperbaiki kesalahan, menutup masa lalu, dan menghapus kekhilapan?
Aku memilih yang kedua yaa Allah. Memperbaiki kesalahan, menutup masa lalu, dan menghapus kekhilafan. Masih ada harapan dan kesempatan. Semoga aku bisa lebih baik yaa Rabb. Yaa muqanibal quluub, tsabit qalbiy ‘ala diinika wa ‘ala thaa’atika.
Semoga Allah selalu menjaga hati dan diri kita agar senantiasa berada dalam genggaman rahmat-Nya. Aamiin.
Kamis, 01 Maret 2012 0 komentar

Oh!-Girl’s Generation

Jeone aldeon naega anya brand new sound
Saerowojin nawa hamkke one more round
dance dance dance ‘Till we run this town.
Oppa-oppa I’ll be I’ll be down down down
It’s not the me you knew before, brand new sound
Together with this new me, one more round
Dance, dance, dance, you’ll be wrong this time
Oppa oppa, I’ll be, I’ll be down, down, down, down

(oh)oppa najombwa nareul jom barabwa
cheoeumiya ireon nae maltu hah)
meorido hago hwajangdo haetneunde
(wae neoman neoman moreuni)
Oppa look at me, please gaze at me a bit
For me this style of talking is a first, ha
I did my hair, and I put on makeup too
But why are you, you, the only one who doesn’t know

dugeundugeun gaseumi tteollyeowayo
Jakkujakku sangsangman haneungeoryo
eotteoke hana kotdaenopdeon naega
malhagosipeo
Thump thump my heart is starting to tremble
Over and over it won’t stop imagining
What should I do? With my head held high
I want to say this to you

Oh Oh Oh oppareul saranghae
Ah Ah Ah a mani manihae
sujubeuni jebal utjimayo
jinsimini nollijido marayo
tto babogateun malppunya –
Oh, oh, oh, oh, ppa I love you
Ah, ah, ah, ah, so much so much
I’m shy so please don’t laugh, it’s the truth so please don’t tease me
Again it’s only foolish words

Jeone aldeon naega anya brand new sound
saerowojin nawa hamkke one more round
dance dance dance ‘Till we run this town.
oppaoppa Ill be Ill be down down down
It’s not the me you knew before, brand new sound
Together with this new me, one more round
Dance, dance, dance, you’ll be wrong this time
Oppa oppa, I’ll be, I’ll be down, down, down, down

oppa jamkkanman jamkkanman deureobwa
(sujupdan yaegineun malgo)
dongsaengeuroman saenggakhajin mara
(1nyeon dwien huhoehal geol)
Oppa, for a moment, for a moment, listen to me
Don’t say the things you kept saying
Don’t just think of me as a little sister
Once a year passes, I think you’d regret it

mollamolla naemameul jeonhyeomolla
nunchieopsi jangnanman chineungeoryo
eotteoke hana i cheoreopneun sarama
(deureobwa jeongmal)
You don’t know, don’t know, you have no clue of my heart
Tactlessly, you’re only joking around
What am I to do, you thoughtless person
Listen to me, just for a bit

Oh Oh Oh oppareul saranghae
Ah Ah Ah a mani manihae
sujubeuni jebal utjimayo
jinsimini nollijido marayo
tto geureomyeon na uljido molla –
Oh, oh, oh, oh, ppa I love you
Ah, ah, ah, ah, so much so much
I’m shy so please don’t laugh, it’s the truth so please don’t tease me
If you do that again I just might cry

(oh-oh-oh)

Jeone aldeon naega anya brand you style
mwonga dareun oneulmaneun tteugeoun nal
down down ireojima hwaman na
oppa oppa idaeroneun no no no no
It’s not the me you knew before, brand new sound
Only on this somehow different day, it’s a heated heart
Down down, don’t be like this I’ll get mad
Oppa oppa, don’t be this way no, no, no, no

tell me boy boy love it (it it it it ah -)
Oh Oh Oh o ppareul saranghae
Ah Ah Ah a mani manihae
Oh Oh Oh Oh Oh Oh Oh o ppareul saranghae
Ah Ah Ah Ah Ah Ah Ah a mani manihae tto babogateun malppunya –
Tell me boy, boy, love it, it, it, it, it, it, it, ah
Oh, oh, oh, oh, ppa I love you
Ah, ah, ah, ah, so much so much
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, ppa I love you
Ah, ah, ah, ah, ah, ah, ah, ah, so much so much
Again it’s only foolish words

Oh Oh Oh Oh

Ah Ah Ah Ah
Oh Oh Oh Oh Oh Oh Oh o ppareul saranghae
Ah Ah Ah Ah Ah Ah Ah a mani manihae
Oh Oh Oh Oh Oh Oh Oh o ppareul saranghae
Ah Ah Ah Ah Ah Ah Ah a mani mani
Oh, oh, oh, oh,
Ah, ah, ah, ah
Oh, oh, oh, oh, ppa I love you
Ah, ah, ah, ah, so much so much
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, ppa I love you
Ah, ah, ah, ah, ah, ah, ah, ah, so much so much, oh

credit to Tetsuya@mysone,SONEms
Credits: hangul lyrics: MNET
romanji: justhyuu@flowinglyrics
English:iridescent @ Soompi!

0 komentar

Pengalaman Belajar Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan salah satu identitas bangsa Indonesia dan menjadi alat pemersatu bangsa. Oleh karena itu, bahasa Indonesia menjadi salah satu objek yang harus dilestarikan dan dijaga oleh bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dalam pendidikan, yaitu menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu objek dalam kegiatan belajar mengajar. Tepatnya menjadi sebuah mata pelajaran, yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Istimewannya, setiap jenjang pendidikan formal di Indonesia seperti TK, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi membelajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia ini. Sehingga, semua pelajar pasti pernah belajar Bahasa Indonesia.
Begitu pula halnya dengan seorang anak bangsa yang bernama Sri Mulyani. Sejak mengenal bangku sekolah yang dimulai sejak TK atau Taman Kanak-kanak sudah mengenal pula apa yang namanya Bahasa Indonesia melalui mambaca dan menulis. Baginya yang dalam kesehariannya lebih sering menggunakan bahasa ibu alias bahasa daerahnya yaitu bahasa Sunda, sangat menarik bisa belajar bahasa Indonesia. Terutama membaca. Ya, dia sangat senang belajar membaca. Terbukti dengan dia sangat cepat fasih membaca dibanding dengan teman-teman sekelasnya. Namun, dia sangat tidak suka menulis, sulit sekali baginya. Tulisan tangannya selalu tidak lebih baik dari teman-temannya.
Kesenangannya membaca selalu ia perlihatkan dimana saja. Bahkan saat melakukan perjalanan ke luar kota dengan kendaraan umum. Celotehannya membacakan spanduk-spanduk, baliho, papan nama, bahakan papan penunjuk jalan selalu mengiri perjalanannya. Ibunya bahkan pernah menegur anak bungsunya itu, “Cerewet sekali anak ini.” Namun, mendapat komentar begitupun tak menyurutkan kebiasaan membaca sepanjang perjalanan.
Menginjak usia Sekolah Dasar, pelajaran Bahasa Indonesia yang ia terima semakin bertambah. Tidak hanya membaca dan menulis satu atau dua kata. Tetapi juga mulai membaca cerita pendek, menulis kalimat, cerita, deklamasi puisi, bahkan mendongeng. Namun baginya, tetap saja membaca adalah bagian dari plajaran yang sangat meyenangkan. Menulis masih menjadi ‘musuh besar’ baginya. Nilai menulisnya selalu saja tidak lebih dari 7,5. Dan tulisan-tulisannya selau dihiasi komentar “Tingkatkan kerapihan” dari gurunya. Betapa mneyebalkan baginya. Apalagi saat melihat teman sebangkunya memiliki tulisan yang rapid an bagus.
Menginjak kelas tinggi, kecintaannya terhadap membaca semakin menjadi. Apalagi di kelasnya mulai ada perpustakaan. Setiap hari ada saja buku yang dia bawa pulag untuk dibaca. Dan ia mulai termotivasi untuk menulis. Walaupun tanpa diiringi dengan peningkatan kualitas tulisan tangannya, ia mulai suka menulis cerita, puisi, dan diari.
Saat kelas VI, kelasnya kedatangan seorang murid baru, perempuan. Dan anak itu sangat pandai berdeklamasi puisi. Sri mulai senang mendengarkan deklamasi puisi. Selalu terkagum-kagum ia saat temannya mendeklamasikan puisi. Sri mulai senang mendengarkan deklamasi puisi. Namun, sama sekali dia tidak berminat untuk bisa membca puisi. Rasa malu dan rasa tidak percaya diri membuatnya selalu enggan tampil ke depan kelas dan berdeklamasi.
Memasuki usia SMP, ia kembali bertemu dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Namun kali ini dengan wajah yang berbeda. Jika di SD dulu belajar Bahasa Indonesia oleh guru kelasnya, sekarang oleh guru bidang studi, yang tentunya mereka memiliki spesifikasi tersendiri di bidang mata pelajaran Bahas Indonesia. Di SMP, Sri banyak bertemu dengan guru-guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang membuatnya semain menyukai pelajaran tersebut.  Betul ternyata apa kata orang-orang bahwa yang pertama disukai adalah gurunya, baru mata pelajarannya.
Di usia SMP, Sri masih tetap mencintai membaca. Dia selalu menjadi langganan perpustakaan. Karena kebetulan kelasnya saat kelas VII ekat dengan ruang perpustakaan. Namun, kecintaannya terhadap menulispun semakin meningkat. Hal ini berawal dari saat ia kelas VIII.
Ketertarikan terhadap lawan jenis merupakan hal yang wajar terjadi di usia pubertas atau masa remaja. Begitu pula dengan yang dialami oleh si bungsu yang satu ini. Dia menyukai seorang kakak kelasnya, dan begitu pula sebaliknya, sang kakak kelaspun menyukainya. Namun, karena mereka masih sama-sama malu, komunikasi yang terjalin adalah melalui surat. Sri selalu rajin menulis surat untuk sang kakak kelas. Dalam suratnya, ia selalu menceritakan banyak hal. Awalnya ia sangat malu karena jeleknya tulisan tangannya. Bahkan sang kakak kelas lebih bagus tulisannya. Namun, sang kakak kelas malah memuji dan sangat menyukai isi dari surat-suratnya. Alhasil itu menjadi motivasi tersendiri baginya. Iapun semakin suka menulis dan ia selalu berusaha meningkatkan kualitas tampilan tulisan tangannya.
Hal ini berlanjut. Tidak hanya rajin menulis surat untuk sang kakak kelas, tetapi iapun mulai suka menulis cerpen, puisi, bahkan artikel pendek. Satu momen yang selalu menjadi motivasi baginya adalah ketika ia membuat tulisam bertema ibu, kemudian tanpa sengaja tulisan itu dibaca oleh guru Bahasa Indonesianya yang bernama ibu Eti Rochayati atau yang biasa disapa ibu Eet. Gurunya sampai terharu dan berkata:
“Bagus. Ayo lebih rajin lagi menulis. Semakin banyak menulis, semakin banyak pula kemampuan menulismu”.
Dari sanalah titik balik kecintaannya terhadap menulis. Diari-diari semakin banyak yang dia isi, cerpen-cerpennya pun semakin banyak. Dan dia mulai beranai menunjukkan karya-karyanya pada teman-temannya. Ada sebuah cerpen yang menjadi “Best Reading” dan banyak dibaca oleh teman-temannya. Namun, cerpen itu menghilang entah kemana. Selain cerpen, iapun mulai suka menulis naskah drama musikal dan dipentaskan dalam acara perpisahan dalam acara pameran di sekolahnya. Naskah drama pertamanya itu berjudul “IJOLUMUT”.
Selain menulis, iapun mulai berani berbicara di depan kelas. Awalnya hanya mambacakan synopsis buku, lama-lama meningkat menjadi membaca dongeng, menjelaskan prosedur pembuatan suatu barang, hingga berpidato. Bahkan ia diberikan keprcayaan untuk menjadi perwakilan teman-temannya berpidato saat acara perpisahan. Kemampuan dan kemauannya berbicara di depn umum ini selain dilatih oleh guru Bahasa Indonesianya, juaga ia dapat dari pengalamannya berorganisasi di OSIS, Pramuka dan Paskibra di sekolahnya.
Baginya, belajar Bahasa Indonesia di SMP sangnatlah menyenangkan. Terutama saat kelas IX. Guru bahasa Indonesianya, ibu Eti Rochayati adalah sosok guru yang sangat lembut, baik dan kreatif. Belajar Bahasa Indonesia itu jadi tidak melulu membaca teks, menjawab pertanyaan, merangkum, membuat synopsis, membuat puisi, tetapi juga mengajarkan untuk berani tampil, berlomba menjadi kreatif dan yang terpenting adalah motivasi untuk belajar Bahasa Indonesia dengan baik. Beliau membuat pelajaran Bahasa Indonesia yang tadinya menyebalkan bagi Sri menjadi mata pelajaran yang sangat dia nantikan dan rindukan. Itu pula yang menjadi salah satu motivasi Sri untuk menjadi seorang guru seperti guru Bahasa Indonesia-nya itu.
Memasuki SMA, Sri masih tetap dengan kecintaannya pada membaca dan menulis. Ia tetap menjadi langganan perpustakaan dan tetap menulis. Di SMA pula beberapa naskah dramanya dipentaskan. Salah satunya yang berjudul “Kabayan vs Cinderella”. Selain itu, di SMA dia mulai mengenal dunia baru dalam bahasa dan sastra Indonesia, yaitu dunia jurnalistik. Bermula saat Sri dan dua orang temannya dari pengurus OSIS diamanahi untuk mengikuti pelatihan jurnalistik. Dari sanalah ia mulai sering mencoba mennulis artikel, berita dan sebagainya.
Oh iya. Ada satu pengalaman yang tidak bisa Sri lupakan mengenai menulis saat SMA. Ia pernah mengikuti lomba menulis artikel antar kelas di SMA-nya. Dan pada saat pelaksanaan lomba ia malah ditegur oleh juri yang merupakan guru Bahasa Indonesia-nya. Alasannya adalah karena apa yang ia tulis bukanlah merupakan artikel melainkan esai. Alhasil ia didiskualifikasi.
Semasa SMA, kenangan belajar Bahasa Indonesia terburuk adalah saat melihat nilai ujian nasional. Bahasa Indonesia mendapat nilai yang sangat rendah. Tidak lebih dari angka 8. Dan hampir semua teman satu angkatannya pun demikian. Hal ini sangat mengecewakan bagi Sri, teman-temannya, dan juga guru-gurunya. Mereka sudah berusaha dengan maksimal. Namun, ternyata tetap saja manusia yang berusaha, tapi Tuhan yang berhak menentukan hasilnya.
Belajarnya Sri tentang Bahasa Indonesia tidak berhenti sampai SMA. Tapi saat ia masuk perguruan tinggi pun ia masih bertemu dengan pelajaran bahasa Indonesia. Walaupun kini dengan nama yang berbeda, bukan mata pelajaran lagi, tapi mata kuliah. Dan jika dulu  saat TK, SD, SMP, dan SMA Sri bealajar Bahasa Indonesia hanya untuk dirinya sendiri, tapi karena Sri kenetulan kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia dan mengambil konsentrasi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, maka ia belajar Bahasa Indonesia selain untuk menambah pengetahuannya, tapi juga untuk menambah pengetahuan siswa-siswanya kelak. Ya. Artinya ia belajar untuk mengajarkan.
Harapannya, semoga dengan semua pengalaman-pengalaman sri sebagai pemelajar Bahasa Indonesia sewaktu sekolah dulu, bisa ia integrasikan dengan teori-teori yang ia dapat dari bangku kuliah. Sehingga ia menjadi guru yang bisa menjalankan tugasnya dengan baik sekaligus bisa mnjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia.
 
;