Jumat, 02 Oktober 2015 0 komentar

Catatan Selepas Menjadi Sarjana


Selepas kuliah, target untuk bekerja menjadi hal nomor satu untuk direalisasikan dalam agenda saya. Menjadi sarjana pendidikan alias S. Pd. setelah menempuh perjalanan studi yang rasanya manis-asam-asin ibarat like a dream comes true. Alhamdulillah wa syukurillah.
1 Oktober 2013, the dream comes true. Wisuda bersama ratusan teman-teman seperjuangan. Rasanya plooooooong begitu menerima ijazah dan melihat nama sendiri di belakangnya sudah tersemat sebuah gelar : SRI MULYANI, S. Pd. begitu katanya. Rasanya semua beban yang menumpuk semasa perkuliahan bbubaaaaaaarrrrr jalan!!! Satu kata yang tercetak dalam hati dan pikiran saat itu : BAHAGIA!




 
Padahal nyatanya sodara-sodaraaaahh… perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Mau dibawa kemana nih gelar S. Pd.-nya yang dibangga-banggakan itu? Nah lho!!!Mencari pekerjaan di zaman sekarang memang tidak mudah lho. Apalagi saya yang notabene tinggal di sebuah kota kecil yang lapangan pekerjaannya tidak semudah di kota-kota besar sana. Pilihan saya tidaklah banyak. Karena orang tua belum mengijinkan saya untuk belajar merantau ke luar kota.
“oke mah! Ngahonor we nya!” akhirnya kalimat itu keluar dari pikiran saya.
Memutuskan untuk menjadi tenaga honorer atau tenaga guru sukarelawan juga tidak mudah. Ditolak beberapa sekolah, bahkan juga tidak ditanggapi oleh beberapa sekolah jadi makanan saya waktu itu. Beruntung, ada SDN 1 Kawali mau menampung saya untuk ikut belajar disana. Tidak disangka ternyata sekolah sekelas SDN 1 Kawali yang merupakan SD inti di kecamatan saya mau menerima seorang sarjana baru lulus yang belum punya pengalaman apapun.


Disinilah bahwasannya apa yang disebut perjuangan untuk menjadi seorang sarjana itu dimulai. Bukan seperti perjuangan semasa kuliah, untuk mendapat gelar. Tapi perjuangan untuk menjawab pertanyaan “apa sih yang dibanggainnya jadi sarjana?” yang selama ini jadi senjata ampuh orang-orang yang kurang paham tentang pendidikan untuk mencibir.
Menjadi tenaga honorer atau kerennya mah sukwan memanglah tidak mudah. Satu bulan pertama masuk, saya hanya duduk manis di ruang guru. Sesekali masuk ke kelas hanya saat ada guru yang tidak masuk sekolah karena ada kepentingan dinas atau kepentingan lain. Lagi-lagi keberuntungan yang membawa saya ke dalam zona yang lebih baik. Saya pun diberi kesempatan mengajar di kelas IV.
 



Dunia kerja memang sangat jauh berbeda dengan apa yang dipelajari semasa kuliah.

Mungkin istilah itu yang selalu saya ucapkan dimasa-masa awal saya memasuki dunia pekerjaan. Padahal sebenarnya sayanya saja yang semasa kuliah #gagalfokus sama materi perkuliahan. Jadinya, di dunia kerja saya merasa asing dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Entah berapa kali saya diselamatkan dengan kata “beruntung”. Karena lagi-lagi, beruntung saya bekerja dilingkungan yang etos kerjanya cukup tinggi. Mungkin karena merupakan sekolah inti yang selalu mendapat sorotan dari banyak pihak, jadinya guru-guru disini dituntut untuk melakukan pekerjaan sesempurna mungkin.
Dengan suasana kerja yang seperti itu, saya sungguh merasa kecil. Tidak bisa apa-apa, tidak tahu apa-apa. Hari pertama saya mengajar di kelas, Kepala Sekolah bahkan lalu lalang terus didepan kelas saya, mengawasi saya. Mungkin takut saya melakukan kesalahan. Arrrhhhhhhh. Perasaan saya waktu itu sungguh lebih degdegan dibandingkan saat ujian PLP semasa kuliah dulu.
Pengalaman saya -belajar- mengajar di SDN 1 Kawali selama 2 tahun 7 bulan telah membuka mata dan pikiran saya bahwa pertanyaan para haters yang selalu mencibir “buat apa sih menjadi sarjana?” itu banyak benarnya. Buat apa jadi sarjana jika menjadi honorer saja tidak bisa apa-apa, bagaimana bisa menjadi agent of change di masyarakat? Bagaimana bisa mengharapkan gaji yang banyak jika materi kuliah saja banyak lupanya?
Maka, saya selalu menepuk jidat saya sambil berkata “Kamana wae sih keur kuliah nu kieu wae teu apal!?” ketika ada permasalahan mengenai pembelajaran yang saya tidak bisa menyelesaikannya. Tengsin euy kalo udah gini teh. Berasa gagal kuliah selama empat tahun teh.
Tapi, Allah sungguh Maha Pengasih dan Penyayang. Sekalipun saya selalu merasa tidak bisa apa-apa, Allah memalui guru-guru disini selalu membimbing saya menemukan hal-hal baru. Mulai dari belajar menjadi wali kelas, belajar mempersiapkan perangkat pembelajaran dari A sampai Z, mengikuti pelatihan mengelola perpustakaan, pelatihan kurikulum, ikut nimbrung urusan administrasi sekolah, membantu mengelola aplikasi-aplikasi pendataan sekolah, membimbing loma, mempersiapkan kenaikan kelas samapai ikut serta dalam kegiatan dari LPMP saya diberi kesempatan seperti mereka guru-guru yang sudah jadi PNS. Beribu terima kasih saya ucapkan atas segala kesempatan yang diberikan ini.

Lalu, puaskah saya setelah bekerja menjadi seorang honorer? Tentu saja TIDAK!

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas dengan segala pencapaian yang telah didapat. Begitu pula saya. Mendapatkan banyak pengalaman semasa menjadi honorer ini tidak lantas membuat saya puas begitu saja. Malahan, saya selalu merasa makin tidak bisa apa-apa. Misalnya saja, saat berkesempatan ikut membimbing anak-anak kelas VI untuk mempersiapkan Ujian Nasional. Banyak soal yang membuat saya mengerutkan kening. “Ieu soal nanaonan sih?” “Naon deui soal jiga kieu?” atau “Duuuhhhh. Ieu eusi na naon deuih!?” adalah sejenis pertanyaan yang sering muncul dalam kepala saya waktu itu.
Mungkin ada benarnya juga pepatah yang mengatakan “semakin banyak belajar semakin bodohlah kita”. Semakin banyak mengetahui hal-hal baru, semakin merasa tidak bisa apa-apa. Semakin tidak puaslah kita. Semakin ingin saya banyak belajar. Lagi-lagi, beruntung saya diberi kesempatan ikut –belajar- mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar. Disini saya banyak mendapatkan ilmu baru yang lagi-lagi membuat saya semakin bodoh. Hahahahaha..

Lantas, puaskah saya? Lagi-lagi, TIDAK.

Banyak orang yang mencibir kepada seorang sukwan. Bahkan tak sedikit juga sukwan yang mengutuki nasib mereka. Pekerjaan menumpuk, tapi gaji tidak seberapa. Sungguh. Saya juga sempat berpikiran seperti itu. Merutuki nasib yang digaji hanya ratus ribu perbulan. Untungnya, seorang guru sukwan yang sudah lama mengabdi juga banyak menasehati, banyak mengajak untuk selalu bersyukur atas apa yang dimiliki dan didapat.
“Asal kitanya mau berusaha dan tidak mudah bosan, meskipun gaji hanya segitu insyaa allah kebutuhan mah pasti tercukupi” begitu nasihatnya yang selalu diingat sampai sekarang.

Tulisan ini sungguh tidak bermaksud untuk menyombongkan diri akan apa yang sudah diraih. Tapi, hanya ingin menjawab sebuah pernyataan dari seseorang yang mengatakan “Jangan terlalu berbangga jadi sarjana, idealis menjadi seorang honorer yang kerjanya diforsir, diperah dan tidak digaji selayaknya pekerjaan yang dilakukan. Bahkan banyak sarjana yang malah ngojek biar penghasilannya lebih baik. da kebutuhan mah tidak cukup dipenuhi sama gelar sarjana”

Menurut saya, pemikiran itu sangat picik! Secara langsung menyepelekan gelar sarjana (padahal dianya juga seorang sarjana) dan merendahkan tenaga sukwan. Jaman sekarang, gelar itu menjadi syarat utama untuk mendapatkan pekerjaan. Sekalipun pekerjaan itu hanya menjadi seorang sukwan. Dan menurut saya menjadi seorang sukwan bukanlah pekerjaan yang layak mendapat tambahan ‘hanya’ didepannya.
Menurut saya, menjadi sukwan adalah pengabdian sesungguhnya. Mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan gaji, adalah sebuah pengorbanan. Kenapa kita para sukwan terkadang mendapat porsi pekerjaan yang lebih banyak dari yang sudah PNS adalah karena para sukwan ini mendapat kepercayaan, bahwa mereka memiliki kemampuan yang lebih untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Masalah gaji yang tidak sesuai dengan pekerjaan, saya sangat yakin bahwa rezeki setiap orang tidak akan tertukar karena Allah Maha Adil dan Maha Melihat. Bahkan gaji sukwan yang sesungguhnya adalah sajuta (singkatan dari sabar, jujur dan tawakal). Yakinlah, Allah sangat menghargai sajuta yang disertai dengan ikhlas daripada sajuta uang yang didapat dengan keserakahan. Tidak pernah kan ada berita yang mengabarkan seorang guru honorer meninggal karena kelaparan?
            Menjadi sukwan, membuat saya menjadi lebih kaya. Menambah pengetahuan, menambah teman dan kenalan, menambah saudara, dan menambah anak-anak yang mencintai. Bahkan sampai saya berpindah tugas, semua pengalaman yang saya peroleh saat menjadi sukwanlah yang banyak membantu saya disini. Maka, bagi siapapun yang mencibir pekerjaan seorang tenaga sukwan, saya sangat berharap Anda memikirkan kembali kata-kata Anda. Dan buat para sukwan dimanapun berada, keep Fighting, smile, dan Lillah… 

Inti dari tulisan ini adalah kita harus senantiasa bersyukur akan segala sesuatu yang sudah kita miliki dan sudah kita capai. Mohon jangan pernah menyepelekan apapun yang dimiliki oleh orang lain. Bisa jadi apa yang kita sepelekan dari orang lain justru merupakan apa yang sangat dia harapkan dan dambakan. Hargai juga apa yang dimiliki orang lain. Keep respect. 
0 komentar

Noona Neomu Yepposeo

“Oppa……..”
Lagi-lagi suara cempreng itu terdengar persis saat pintu masuk berderit terbuka.
“Sudah kubilang jangan panggil aku Oppa, anak kecil!” seruku sambil meletakkan buku yang tengah kubaca.
“Mau pesan apa?”tanyaku sebelum suara cemprengnya terdengar lagi..
“Spaghetti bolognise dan jus mangga.” jawabnya dengan enteng
“Ordered!” kataku sambil berlalu menuju dapur.
“Gomoyo oppa!” terdengar suara cempreng itu meneriakkan kata-kata yang tidak aku mengerti.
Dasar anak aneh. Namanya Nurul. Kelas XI SMA. Karena sekolah dan rumahnya berdekatan dengan toko tempatku bekerja, dia hampir setiap hari mampir ke toko ini. Sekedar membeli makanan dan berkumpul dengan teman-temanya, atau hanya memesan segelas jus alpukat sendirian sambil ditemani laptop putihnya, menonton drama korea katanya.
Akibat dia terlalu sering nonton drama korea itulah dia sering mengeluarkan kata-kata bahasa Korea yang tidak aku mengerti. Salah satunya yang menggangguku adalah dia kerap memanggilku ‘Oppa’. Heyy. Aku baru 25 tahun.
“Oppa itu artinya kakak laki-laki. Sama halnya seperti panggilan Abang, akang atau Aa.” Katanya ketika aku memprotes panggilannya.
“Tapi, tetap saja Nur. Itu membuat abang berasa dipanggil Kakek. Berasa udah tua!” bantahku.
“Ahhh.. Andri oppa kuper. Masa yang begitu saja tidak tahu. Gak gaul ahh!” katanya sambil memanyunkan bibir dan mengalihkan pandangannya pada laptopnya yang sedang dipenuhi adegan-adegan drama Korea, ngambek. Kalo sudah begini aku memilih meninggalkannya.
Dan kali ini, ketika aku hendak mengantarkan pesanannya, dia tampak tengah menangis sambil memandangi laptop putihnya. Ahh lagi-lagi menangis karena menonton film. Dasar perempuan!
“sudah nangisnya. Makan dulu!!”Kataku sambil meletakkan sepiring spaghetti dan jus alpukat pesanannya.
“Oppa….” Katanya tepat saat aku hendak melangkahkan kakiku meninggalkannya.
“sudah kubilang jangan panggil aku OPPA.” Kataku sambil berbalik ke arahnya.
“Tokomu sedang sepi kan? Bisakah oppa menemaniku duduk disini? Aku sedang butuh teman, oppa.” Katanya sambil menunduk.
“kenapa kau datang sendirian kalau kau sedang butuh teman? Kemana teman-temanmu yang selalu bikin rusuh tokoku?” kataku cuek. Namun, jujur dalam hati aku merasakan ha yang ganjil dari Nurul. Karena seringnya dia datang ke tokoku, sedikit-sedikit aku mulai mengenalnya. Menganggap dia adikku sendiri.
“Bukan teman-teman seperti mereka. Mereka hanya teman bercanda. Aku sedang ingin berbicara serius. Mungkin dengan oppa bisa” katanya, dan manik mata kami bertemu. Kalo sudah begitu, aku tak akan bisa menolak apapun permintaannya.
Kuseret kursi yang dekat dengan kakiku. Kutempatkan tepat diseberang mejanya.
“Oke ceritakan apa yang ingin kau ceritakan. Dengan syarat jangan panggil Oppa selama kau bercerita!” ancamku, galak.
“Tapi opp….” Belum selesai dia berkata aku memotongnya dengan isyarat tangan hendak pergi.
“Okeeee abang!” katanya sambil memelas. Nampaknya dia memang sedang sangat butuh teman bercerita.
“Apakah kau pernah jatuh cinta bang?” tanyanya.
Aku mengerutkan dahiku. Cinta? Kenapa anak ini tiba-tiba berbicara tentang cinta?


 ------ TO BE CONTINUED --------
Sabtu, 09 Agustus 2014 0 komentar

Catatan di Bulan Syawal

Alhamdulillah, setelah beberapa lama “melupakan” blog ini akhirnya diberi kesempatan untuk membuka dan memposting sesuatu lagi kali ini. Sebenarnya sih ‘dipaksa’ melupakan oleh pacar-pacar saya yang sangat posesif. Yaaa mereka itu sejenis RPP, Program Semester, raport, UAS, UKK, dan kawan-kawannya. Those are the teachers real soulmate. Setelah bisa sedikit melepaskan diri dari pelukan mereka, dan bertepatan pula dengan adanya sedikit hal yang ingin dicurhatkan, akhirnya diputuskanlah menulis catatan ini.
Syawal itu artinya bulan pertama setelah bulan Ramdhan berakhir. Kadang dikenal juga dengan bulan Kemenangan. Karena pada tanggal 1 Syawal, umat Islam yang telah menyelesaikan bulan Ramdhan merayakan hari Raya Idul Fitri yang dikenal dengan hari kemenangan. Bulan ini juga menjadi sangat istimewa karena pada hari Raya Idul fitri ini merupakan momen untuk bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan. Btw, mohon maaf lahir batin yaaaa buat semuanyaaaa... J
Karena itu, bulan Syawal ini dijadikan momen untuk berkumpul dengan sanak saudara yang mungkin jarang sekali berkumpul di hari-hari biasa. Tentunya kita bisa bertemu dengan banyak saudara yang tinggal berjauhan dari kampung halaman. Banyak cerita yang bisa kita dapat.
Tak jarang karena saking lamanya tidak bertemu dengan kakek, nenek, paman, ua, atau saudara yang lain, seringkali kita mendapat banyak pertanyaan. Ibaratnya, “Sudah kelas berapa sekarang sekolahnya?”, “Sudah tingkat berapa kuliahnya?”, “kapan wisuda?’, “kerja dimana?”, dan lain sebagainya. Daaaann yang paling bete sih kalo udah ditanya “Kapan nikah?”. *curcol*
Ngomongin nikah nih, ternyata di bulan Syawal ini juga banyak sekali undangan pernikahan yang bertebaran. Barakallah buat temen-temen yang akan atau sudah melangsungkan pernikahan di bulan Syawal kali ini. Semoga Allah merahmati pernikahannya, menjadikan keluarga Sakinah, Mawaddah, warohmah dan menjadi cikal bakal munculnya generasi Rabbani yang akan mengibarkan panji Islam dengan kejayaannya. Aamiin..
Dengan bertebarannya undangan-undangan ini tentunya bukan masalah yang besar, bahkan mungkin untuk para pengusaha percetakan undangan atau jasa fotografer prewedding ini menjadi suatu keberkahan. Tetapi tidak untuk kami ups saya khususnya yang merupakan orang yang sedikit tertinggal urusan jodoh agak jadi masalah siy. Hihihihi. Bagaimana tidak, saat yang diterima undangan dari si Anu ehh yang ditanya kapan nikahnya malah saya. Lha bingung kan mesti jawab apa? Mbok yaaa yang udah jelas aja gitu ditanyainnya. Kapan akad nikahnya si Anu yang undangannya udah ditangan. Bukan saya yang nyetak undangan aja belum. Hahahha.. *sensi euy*
Mungkin  diluar sana banyak juga teman-teman yang bernasib sama dengan saya. Kalo saya sih hanya bisa jawab, doakan saja semoga secepatnya. As we know, jodoh itu kan gak ada yang tau kapan munculnya, kapan datangnya. Ibaratnya hujan, saat langit mendung, tidak selamanya hujan itu akan turun. Bisa saja saat panas terik tiba-tiba hujan turun. Begitu pula jodoh. Ada yang udah berpacaran sekian tahun, tapi mereka tidak kunjung menikah. Malah akhirnya, mereka menikah bukan dengan pacar yang mereka pacari sekian tahun. Atau malah ada juga yang kenal cuma 2 minggu, ehh langsung nikah. Who knows?
Dan hidup itu bukan seperti balap mobil. Yang setiap putarannya seperti pendidikan, jodoh, harta, jabatan, keluarga harus diselesaikan dengan saling mendahului maka apabila kita finish duluan, itu artinya kita menang. Hidup tidak sedangkal itu. Tapi hidup itu seperti menanam jagung. Bisa saja kita menanam semuanya bersamaan, dengan bibit dan tanah yang sama. Tapi, tidak semua jagung itu bisa tumbuh sama-sama. Ada yang tumbuh pesat, ada juga yang pertumbuhannya terhambat. Mereka yang tumbuh bersamaan juga belum tentu kualitas jagungnya sama. Mungkin ada yang tumbuh dengan biji yang jarang-jarang alias ompong, atau mungkin ada yang tumbuh dengan biji yang rapi. Apakah mereka sendiri yang memutuskan hidup mereka seperti itu? Tidak kan?
Begitu pula hidup kita. Ada yang tumbuh cepat, karirnya, pendidikannya, jodohnya, hartanya, dan kebahagiaannya. Tapi tidak semua kan? Ada yang justru sebaliknya. Tapi apakah kita jadi kalah dihadapan Allah? Tidak. Karena yang kalah dihadapan Allah adalah mereka yang tidak beriman dan tidak bertakwa. Bukan mereka yang nikah belakangan dibanding teman atau saudaranya. Lalu, apakah mereka yang hanya menjadi seorang petani jamur kalah dengan mereka yang bekerja di sebuah pertambangan dengan gaji sekian puluh juta? Tidak. Bisa saja mereka menang, apabila dengan menjadi petani jamur justru membuat ia menjadi seorang manusia yang lebih bermanfaat bagi orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat.
Maka, bagi saya walaupun teman-teman saya sudah banyak yang meninggalkan masa lajangnya, bukan berarti saya kalah bahagia dari mereka. Mungkin, saya memang kurang beruntung untuk lebih cepat menikah dibandingkan teman-teman saya, tapi saya harap kekurangberuntungan saya ini bisa saya manfaatkan untuk memperbaiki kualitas hidup saya untuk lebih baik agar mendapatkan jodoh terbaik. Dan jodoh terbaik itu bukan berarti harus seseorang yang bekerja di pertambangan atau seorang dokter. Sekalipun dia Cuma guru, tapi jika dia shaleh dan bisa membuat saya bahagia dunia akhirat, why not? Ketika teman-teman saya memiliki karir yang lebih baik daripada saya, bukan berarti saya juga kalah dari mereka. Bisa jadi Allah memberikan lebih banyak kesempatan bagi saya untuk terus belajar, dan terus belajar agar kesuksesan itu kelak bisa saya raih.
Jadi, berhentilah melihat segala sesuatu dari cangkangnya. Seorang perempuan yang di usia ke 28 atau mungkin 30 belum menikah, bukan berarti ia kalah, tidak akan menikah. Tapi, Allah mungkin belum mempertemukan ia dengan jodohnya. Percayalah, setiap manusia pasti ingin menikah, bahagia dengan pasangannya, sekalipun cuma di hati kecilnya. Don’t judge a book by its cover, dude!
Sekali lagi, manusia yang menang adalah sebaik-baiknya manusia, yang bisa bermanfaat untuk sesama dan lingkungannya. Bersyukurlah atas segala sesuatu yang sudah dimiliki dan berusahalah dengan apa yang ingin kita miliki. Bahagialah karena selalu banyak bersyukur.

Diantara hujan
Senja, 8-8-14
Senin, 29 April 2013 2 komentar

Catatan -Masih- Seputar Pernikahan

Setelah postingan sebelumnya ada menyangkut pernikahannya, sekarang juga akan sedikit posting mengenai pernikahan... 
Sejak memasuki usia kepala 2, kata "Pernikahan" memiliki daya tarik tersendiri bagi saya... Entah karena saya memang terobsesi menikah muda, atau mungkin memang hal ini merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap perempuan yang memasuki usia seperti saya ini... Entahlahh.. Namun bagi saya, pernikahan merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari, untuk diamati, bahkan sangat sangat menarik untuk dialami *curcol*.. Apalagi setelah dalam dalam beberapa minggu terakhir ini dikomporin dengan bergugurannya undangan-undangan pernikahan dari kerabat, sahabat, hingga tetangga dekat.. Yaa.. Untuk saat ini hanya bisa mengamati dan mempelajari apa-apa yang terjadi saat momen sakral tersebut terjadi...
Dari beberapa pernikahan yang sempat diamati, saya dapat merekam beberapa momen dalam pernikahan yang menurut saya sungguh luar biasa.
1. Momen Siraman
    Dalam pernikahan dengan adat Sunda yang sering saya amati, saya sangat suka dengan suasana saat siraman.. Apalagi saat momen itu diiringi oleh kecapi suling yang dapat membuat bulu kuduk berdiri.. Momen siraman ini umumnya dialami oleh calon pengantin perempuan sehari sebelum prosesi akad nikah.. Momen siraman yang meninggalkan kesan tersendiri bagi saya adalah momen siraman saat teteh kedua saya mengalaminya.. Mungkin karena terbawa suasana juga yah, jadi berasa dapet bangeet suasananya.. Dalam momen siraman teteh saya itu, ada beberapa adat yang harus dilewati. Yang pertama, teteh sungkem dulu sama bapa dan mamah, juga para Ua, mamang, dan bibi yang mau menyiram teteh *karena namanya siraman, yah jadi disiram yah? bukan dimandikan*..  Semuanya itu diiringi sama musik kecapi suling yang sungguh bikin merinding..Apalagi suasana haru saat melihat mamah, bapa, ua, mamang, bibi menangis terharu   menerima permintaan maaf dan permohonan doa restu dari teteh.. Ahh.. Jadi ikutan nangis *ambil tisu*.. Setelah itu teteh disuapi minum, kemudian ditemani mamah dan bapa menuju kursi penyiraman..Lalu, satu persatu para tetua mulai menyiram teteh.. Saya sempat disuruh ikut menyiram teteh, tapi juru riasnya bilang "teu kenging anu teu acan nikah mah".. Woooo.. Apa-apaan ini? DISKRIMINASI!! Hahaha.. Setelah disirami, teteh kemudian digendong sama bapa, istilah Sundanya mah diais.. Haha.. Betapa lucunya melihat teteh yang kedinginan, digendong sama bapa.. Oh iya.. Untuk menuju tempat siraman itu disediakan kain sampig 7 motif yang digelarkan untuk dilewati oleh sang calon pengantin.. Udah gitu mah udah wehh.. Calon pengantinnya ganti baju *biar gak masuk angin*.. hihihi.. 
Ternyata, setelah beberapa saat lalu blogwalking, saya menemukan bahwa prosesi siraman itu ada beberapa tahapannya  dari blog http://bidakaraweddingexpo.com/347/prosesi-adat-sunda-siraman-ngebakan/.. Katanya momen saat teteh sungkem ke mamah dan bapa itu dinamakan ngaras. Artinya ngaji rasa rumasa.. Yang mana calon pengantin meminta maaf dan memohon restu dari kedua orang tua.. Dibarengi dengan adat mencuci kaki kedua orang tua dengan maksud menunjukkan bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya.
Kemudian kain samping 7 motif/ 7 lembar yang dilewati pengantin maksudnya agar dalam hari-hari selanjutnya yang akan dilalui pengantin selalu diberikan kesabaran, kesehatan, ketawakalan, ketabahan, keteguhan iman yang kuat dan senantiasa menjalankan agama.
Ahhh.. Sarat akan makna bukan?? 
Selain itu, bagi saya momen ini benar-benar momen antara anak perempuan dan orang tuanya yang terbaik.. Jujur, saya sempat merasa sangat cemburu saat bapa menggendong teteh setelah siraman dulu.. Seperti anak kecil yang berebut gendongan rasanya.. hihihi.. Tapi, sungguh saya dapat merasakan betapa sayangnya bapa dan mamah sama teteh.. Sayangnya orang tua yang akan melepas anak perempuan mereka yang selama sekian tahun dirawat dan dijaga dengan sepenuh hati untuk dijaga oleh suaminya.. Momen terakhir seorang anak perempuan dimanjakan dan memanjakan diri dengan orang tuanya.. Karena kelak setelah menikah, suami menjadi proiritas utama baginya..
2. Momen Tibanya Calon Pengantin Laki-laki ke Rumah Calon Pengantin Perempuan
    Kalo di Betawi ada adat palang pintu dimana akan ada acara baas pantun dan pertarungan antar jawara, maka momen yang membekas dalam ingatan saya adalah momen dalam pernikahan yang pernah saya saksikan *entah pernikahan siapa.. Lupa sungguuuuhh* yang saat calon pengantin datang itu disambut dengan lantunan Shalawat Badar yang lagi-lagi membuat merinding menyaksikannnya.. Karena saat itu, sang calon pengantin perempuan yang tadinya gelisah menunggu calon suaminya menjadi semakin berdebar saat mendengar lantunan shalawat Badar yang dinyanyikan pertanda calon suaminya sudah tiba dan akan segera membacakan Ijb Kabul.. Makanya hingga sekarang tiap mendengar lantunan shalawat Badar apalagi dalam momen pernikaha selalu saja jadi deg-degan.. Apalagi saat ingat bahwa shalawat Badar itu adalah shalawat yang dilantunkan para Shahabat saat menyambut kedatangan Rasulullah yang hijrah ke Madinah.. Dapet bangeeettt khidmatnya.. :)
3. Momen Ijab Kabul
    Dalam setiap pernikahan, acara utamanya yah ijab kabul.. Entah mengapa saya selalu penasaran saat momen ini terjadi.. Ikutan deg-degan rasanya tiap calon pengantin pria mulai proses ijab kabul.. hihihi.. suka aneh-aneh aja kalo mendengarkan cerita para pengantin pria selepas ijab kabul.. :)

Yaa itulah momen-momen pernikahan yang membuat saya semakin tertarik dengan pernikahan, semakin senang mengamati dan mengikuti proses2 adat dalam pernikahan.. Walaupun mungkin dalam waktu dekat ini belum berjodoh untuk mengalami momen-momen tersebut.. Tapi, suatu saat nanti PASTI akan mengalami.. Pada waktunya dan dengan jodohnya tentu saja.. Harapannya, saat siapapun melaksanakan adat-adat maupun rukun-rukun dalam prosesi pernikahan tidak hanya sekedar mengikuti aturan main saja.. Tetapi dapat menghayati makna-makna yang terkandung dalam aturan main tersebut.. Mungkin itu salah satu cara agar dapat mencapai label keluarga yang sakinah, penuh mawaddah dan rahmah.. Aamiinnnnn... ^___^
0 komentar

Catatan Mengecat Rumah

Waaahhh.. Sudah lama sekali tidak menulis disini.. *ambil sapu, kemoceng, dan lap pel* *buang-buang sarang laba-laba*.. hihihi.. Beberapa kesibukan, juga faktor M alias Males memang jadi penghalang yang sangat besar untuk bisa mengetikkan e-mail plus password blog ini... fiuuuhhhh...
By the way, selama kurang lebih .... errrr..... *satu dua tiga -ngitung jari-* ada mungkin yang 5 bulan lamanya menelantarkan blog ini *pukpuk blog* banyak hal yang dialami.. Baik yang sedih, senang, positif dan negatif.. Jadi bingung mau cerita apa dulu.. 
Selama 5 bulan ini, banyak kegiatan yang cukup "berat" untuk dilewati. Mulai dari PLP, proposal Skripsi, penelitian skripsi, bahkan sempat mengalami momen tersulit bersama sahabat.. hemmmhh.. mungkin di lain postingan saja bahas itu mah.. Sekarang sedang sangat mut bercerita tentang nikah.. hehehe.. 
Bukan karena akan segera menikah lho posting ini.. Cuma, karena beberapa minggu ke belakang ini sedikit banyak mengalami peristiwa yang ada kaitannya dengan pernikahan..
Dimulai dengan ide mamah buat sedikit make up-in rumah yang mulai sedikit kelihatan keriputnya alias ngecet dan sedikit perbaikan rumah. Apa hubungannya yah dengan pernikahan?
Awalnya saya juga sedikit aneh, ko bisa-bisanya ngecet rumah dikait-kaitkan dengan pernikahan? Tapi, itulah yang namanya adat kebiasaan. :)
Di lingkungan saya *yang kental dengan adat Sunda*, biasanya orang melakukan pengecetan rumah itu di momen-momen tertentu. Seperti saat menjelang hari-hari besar seperti Idul Fitri atau lebaran, Agustusan, dan hari pernikahan salah satu anggota keluarga di rumah tersebut. Hehehe.. Cukup unik bukan? 
Maka, pada saat mamah dan baapa mulai memanggil tukang untuk merenovasi rumah, beberapa tetangga sempat nyeletuk "Bade hajatan nya pa?" atau "Wahh.. Bade hajatan si bungsu nya?" dan kalimat-kalimat lain yang kurang lebih isinya sama yaitu ngejampein mamah dan bapa buat ngadain hajatan pernikahan anak bungsunya *tunjuk diri sendiri*.. Hahaha.. 
Sebenarnya, saya cukup 'aneh' dengan asumsi-asumsi yang berlaku disini. Tapi, lama kelamaan setelah merenung dan berdiskusi dengan laki-laki paling tampan dan paling pintar di rumah *tunjuk bapa*, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan, mungkin bapa emanng mau menikahkan saya dalam waktu dekat ini.... Hahaha.. Bukaaannn.. Tapi, kesimpulan saya mungkin mengecat rumah dan merenovasi rumah itu memiliki makna filosofis yang dekat dengan Idul Fitri, Agustusan, dan Pernikahan..
Kalau kita pikirkan, mengecat rumah dan merenovasi rumah itu kan berarti memberikan penampilan baru terhadap rumah kita.. Mulai dari warnanya, kebersihannya, bahkan untuk yang lebih besarnya dengan pembaruan furniture juga.. 
Dan coba dibandingkan dengan momen Idul Fitri. Jelas kan Idul Fitri itu sering diartikan dengan Kembali Fitri, kembali menjadi pribadi yang suci setelah melewati proses shaum dan maaf-maafan saat Hari Raya. Sehingga kita menjadi pribadi yang baru.. Adakah kesamaan??
Kemudian dengan momen Agustusan.. Kalo momen ini hanya orang Indonesia yang punya.. Yapp.. Agustusan itu adalah peringatan hari kemerddekan Indonesia yang jatuh pada bulan Agustus, jadi saya seirng menyebutnya agustusan.. Sebagai orang Indonesia pasti tahu dong kalo untuk mencapai kemerdekaannya, Indonesia harus melewati berbagai proses yang cukup berat? Perjuangan yang begitu luaaaarrr biasaaaa cetarrrr membahanaaa.. *hiperbol* Sehingga, momen Agustusan itu menjadi sesuatu hal yang layak kita lakukan untuk mengenang dan mensyukuri apa yang kita rasakan sekarang sebagai hasil dari pengeorbanan dan perjuangan para pahlawan.. Tanggal 17 Agustus 1945, yang hingga kini kita kenang sebagai hari kemerdekaan itu merupakan sebuah awal yang baru bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang merdeka, bebas dari penjajahan, dan bangsa yang berhak mendapatkan penghidupan yang lebih baik.. So, adakah kesamaan???
Dan yang terakhir adalah pernikahan.. Well, yang sering mendapatkan undangan dari rekan atau sodaranya kemudian memeberikan kado pasti sering menuliskan kalimat "Selamat Menempuh Hidup Baru".. Jelas berarti yang kesamaannya dengan momen-momen sebelumya?
Jadi, kesimpulannya adalah *tereteeteteeeeetttt* kenapa momen mengecat rumah selalu identik dengan hari raya Idul Fitri, Agustusan, dan Pernikahan adalah karena mengecat rumah itu dapat melambangkan juga akan menghadapi suatu hal yang baru dan memberikan perubahan untuk yang melakukannya, perubahan yang baik tentunya sama halnya dengan Idul Fitri, Agustusan, dan Pernikahan...
Well, ini hanya merupakan sebuah gagasan yang muncul di sela-sela kerasnya himpitan pemikiran tentang pacar 6 bulan saya *read Skripsi*.... Akhirnya, semoga saja tidak hanya dengan mengecat rumah atau melalui momen2 tertentu kita bisa dan mau untuk berubah menjadi lebih baik.. Setiap hari, saat matahari terbit dari timur kita sebaiknya selalu mengusahakan perubahan menjadi lebih baik tersebut..
"Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung".. :) 
 
;